Selasa, 16 Oktober 2012

PERJALANAN MENATA HATI (2)


Seperti yang telah direncanakan, Selasa 16 Oktober, Gerakan Peduli Remaja (GPR) bersama  Smart Learning Centre (SLC) , Fadly perwakilan #IndonesiaTanpaJil Jakarta dan Sarah, wartawati majalah Hidayatullah, berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria Tangerang.

Ini adalah perjalanan saya yang kesekian kalinya ke Lapas. Tapi entah kenapa, setiap menuju Lapas, hati saya selalu kelabu. Membayangkan anak-anak remaja menjalani kehidupan di dalam Lapas. Sementara diluar sana, para remaja bebas melakukan apapun.

Satu kelemahan saya, tidak bisa menahan air mata setiap kali berkunjung ke Lapas.

Dengan keadaan serba terbatas, mereka masih bisa tersenyum, tertawa, bercanda, menggoda satu sama lain, bahkan mereka sering mengajak kami tertawa bersama.

Mungkin saya bisa tertawa, tersenyum... tapi sungguh... hati tidak bisa dibohongi. Tawa saya sangat garing, senyum pun kecut. Aahh.. semoga mereka tidak bisa membaca keadaan hati saya yang sebenarnya.

Sesampai di Lapas, GPR dan SLC bergegas menuju masjid Lapas. Beberapa anggota tim memang belum sempat shalat di luar Lapas.

Bahagia dan haru campur menjadi satu ketika kaki ini menjejak di Lapas. Pertama yang saya temui adalah Zainuddin, kasus pembunuhan karena tawuran. Aahh anak ini. Tidak terlihat sedikitpun jika ia tega membunuh lawan tawurannya. Alhamdulillah ia sudah bertobat dan menyesali perbuatannya. Tujuannya saat ini hanya satu, membahagiakan orangtua dan adik-adiknya. Semoga Zai, kamu pasti bisa.

Dari gerbang depan menuju masjid, saya sempat bertemu dengan beberapa anak Lapas. Beberapa menghampiri dan bertanya, apakah saya dan teman-teman akan mengadakan acara. Ya, jawab saya. “nanti ikut ya,” kata saya. Dan mereka pun tersenyum mengangguk.

Seorang anak menghampiri saya. “bunda, liat deh, aku buat taman kecil,”

“Oya? Mana?” tanya saya

Kami berjalan bersama menuju taman yang ia sebutkan.

Taman itu.... baginya itu sebuah taman. Saya tercenung. Hati saya gerimis. Ya, itu memang sebuah taman mungil. Letaknya disudut lapangan bola. Andi, nama anak itu. Menceritakan dengan bangga tentang tamannya.

Beberapa tanaman ia susun rapi membentuk satu tulisan. Diluar tulisan itu, ia menyusun pagar yang juga terbuat dari tanaman. “Bagus kan bun?” tanyanya. Saya tersenyum “Hebat. Bagus banget. Mudah-mudahan hujan ya, biar tambah bagus.” Puji saya.

Berjalan menyusuri kamar-kamar penjara, saya berpapasan lagi dengan beberapa anak Lapas. Seorang anak berlari di tengah lapangan. Saya pun memanggilnya untuk mendekat. Senyum terkembang di wajahnya.

Namanya Nasrullah. Nama yang bagus. “Bunda apa kabar?” aahh kenapa ia dulu yang meyapa saya seperti itu? Harusnya saya yang bertanya lebih dulu. Saya tersenyum. 

“Nasrullah gimana kabarnya? Ada salam dari ustad Alwi. Gimana buku-bukunya sudah selesai dibaca belum?”

“Wah alhamdulillah, salam balik ya bun. Kapan ustad Alwi dateng lagi?”

“Doakan ya, sekarang ustadnya masih di Kuala Lumpur.”

“Bun, saya lagi disuruh sama penjagaan. Saya tinggal dulu ya bun.”

Saya mengangguk. Nasrullah meninggalkan saya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

Sampai di masjid, saya menunggu beberapa tim yang sedang shalat. Seperti biasa, beberapa anak mendekat dan menyapa.

Dari jauh, seorang anak berlari menuju saya. Senyumnya lebar. Matanyapun berbinar. Zikru namanya. Hobinya menulis dan membaca buku.

“Bunda gimana kabarnya,” tanya Zikru. Aahh mengapa saya selalu kalah cepat menanyakan kabar mereka???.....

“Baik alhamdulillah. Zikru gimana? Oya, dapat salam dari ustad Alwi. Bukunya sudah selesai dibaca belum?”

“Sudah bun. Bagus banget bun. Keren deh. Itu kan menceritakan perang salib...” bla..bla...bla... Zikru dengan bahagia menceritakan sebagian besar isi buku yang ia dapat dari ustad Alwi Alattas. Subhanallah... semangat sekali ia menceritakan isi buku itu.

“Zikru baca bukunya berapa lama?” tanya saya

“Mmmm berapa ya, tiga hari kalo ga salah bun. Setelah acara kemarin itu, Zikru langsung baca bukunya.” Jawab Zikru sambil tersenyum bangga, namun tidak bermaksud sombong.

Lagi-lagi saya seperti merasa ditampar. Tiga hari... saya dan Zikru sama-sama mendapatkan buku itu dari ustad Alwi pada hari yang sama. Sama-sama gratis juga. Tapi.... Zikru langsung membacanya dan melahapnya hanya dalam waktu tiga hari. Maluuuu sekali rasanya.

Zikru masih bercerita tentang isi buku. Tiba-tiba saya pun teringat ingin mengenalkan Zikru pada salah satu tim SLC yang penulis dan juga anggota Forum Lingkar Pena (FLP). Saya pun langsung memanggil Haden dari tim SLC.

Ketika dikenalkan, wajah Zikru langsung berubah. Matanya semakin berbinar bahagia. Ia sangat antusias mengobrol dengan Haden. Subhanallah... Zikru, akhirnya kamu ketemu dengan salah satu penulis dari FLP ya...

Saya meninggalkan Haden dan Zikru yang asyik bertukar cerita.

Di dekat teras masjid, beberapa anak sedang mengerjakan pelebaran teras. Sebagian dari mereka berambut plontos. Saya terkesiap. Rambut plontos. Berarti mereka baru masuk?? Aahh... kenapa anak Lapas harus bertambah?

Saya pun bertanya pada salah satu penjaga.

“Pak, ini anak-anak baru ya?”

“Iya mba. Anak tahanan. Lagi nunggu putusan hakim.”

Saya menatap mereka dalam-dalam. Anak baru. Umur berapa kalian? Bagaimana orangtua kalian? Berpa lamakah kalian akan tinggal disini? Bagaimana saudara-saudara kalian? Apa yang kalian rasa saat ini? Menyesalkah?...... 


Kunjungan ke Lapas sesungguhnya merupakan perjalanan menata hati, dari rasa sombong atas segala yang kita dapatkan selama ini. Menata hati atas diri yang merasa telah baik dalam mendidik anak, dan menata hati agar tak selalu merasa gembira berlebih, karena diluar sana (Lapas), masih banyak anak-anak remaja yang menghabiskan waktunya dengan keadaan serba terbatas.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar