Rabu, 07 Oktober 2015

♡ BACALAH ♡



Bulan puasa tahun ini, anak-anak LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) Pria Tangerang mendapat sumbangan satu set buku kisah Rasulullah saw berjudul Muhammad saw teladanku. Sejak disumbangkan, buku-buku itu sengaja kami simpan di ruang DKM LPKA, agar jika kami butuhkan sewaktu-waktu, dapat langsung digunakan. Karena keterbatasan waktu, maka buku-buku tersebut baru kami bacakan siang ini.

Saya meminta tolong pada salah satu anak LPKA untuk mengambilkan buku-buku itu. Hasan (nama samaran) pun bergegas menuju ruang DKM. Tak lama ia kembali ke saya.

"Bunda, bukunya diambil semua atau hanya beberapa jilid aja ?"

"Diambil semua sama tasnya. Kita baca ramai-ramai."

Hasan kembali ke ruang DKM. Tak lama ia pun keluar membawa satu tas bergambar buku tentang Rasulullah saw.

Saya mengeluarkan buku-buku yang berjumlah 16 jilid. Saya pun membagikan pada rekan saya, Wylvera (biasa saya sapa mba Wiwik). Masing-masing kami mendapat jatah 9 buku. Anak-anak kami bagi menjadi dua kelompok.




Saya pun membentuk lingkaran kecil dengan jumlah 20 anak. Saya membagi lagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok membaca satu buku.

"Bunda, gimana bacanya ?"

"Ya... kamu baca bareng-bareng sepuluh halaman. Nanti selesai baca, kalian ceritain sama bunda dan teman-teman kalian."

Mereka mengangguk mendengar penjelasan saya. Saat saya membagikan buku, mata mereka berbinar. Beberapa dari mereka berharap agar buku-buku itu diijinkan dibawa dan dibaca di dalam kamar.

"Bun... ini buat saya kan. Hehehe...."

"Heee... janganlah. Baca rame-rame disini."

Lembar demi lembar mereka buka. Awalnya mereka mengagumi kertas buku yang bagus dan gambar-gambar yang indah. Sambil memperhatikan reaksi mereka, iseng-iseng saya nyalakan stopwatch di handphone. Saya ingin tahu ketahanan mereka dalam membaca.

Saya memperhatikan stopwatch. Satu menit pertama mereka masih asyik membuka lembar-lembar halaman. Memasuki menit ketiga, beberapa anak mulai gelisah. Mulai tidak fokus. Menit keempat, beberapa anak menyerah.

"Bun, udahan ah bun. Ga ngerti saya."

"Kok ga ngerti ? Kamu ga bisa baca ?"

"Yaaahhh bunda. Bisalah bun. Males aja. Banyak benerrrrr..."

Saya tersenyum dan memaksa mereka untuk bertahan.

"Ayooo... baru juga empat menit. Ayoo baca lagi."

Beberapa anak mencoba strategi berbeda.

"Bun, gambarnya bagus ya bun."

"Iya bagus. Ayo. Lanjutin bacanya."

"Yaaahhh bunda."

Menit ke enam. Beberapa anak sudah tak memegang buku. Beberapa anak tidur telentang sambil bercanda dengan temannya. Beberapa anak lagi garuk-garuk kepala dan celingak celinguk.

beberapa anak merasa lelah membaca (dok. pribadi)



Menit ketujuh. Hampir semua anak menyerah.

"Buuunnnn... udah bun. Nyerah dah. Nih liat nih saya udah lambaikan tangan."

"Hmmm... salah. Kenapa lambaikan tangan ? Disini ga ada kamera. Kalau nyerah, lambaikan bendera putih. Ayoo lanjutin. Tinggal tiga menit lagi."

"Ammppuuunnn dah bunda...."

Menit kesepuluh. Saya memandang anak-anak yang sudah melepaskan buku dari tangannya. Namun ada beberapa anak yang masih mencoba bertahan. Saya melihat ekspresi mereka. Cara mereka memandang buku, terlihat seperti orang yang sedang asyik dengan dunianya sendiri.


seorang anak LPKA (aka LAPAS) sedang asyik membaca buku (dok pribadi)


"Oke. Sepuluh menit. Siapa yang mau cerita duluan."

"Saya bunda."

Empat anak di kelompok pertama mengembalikan bukunya pada saya.

"Kalian baca berapa halaman ?"

"Banyak bunda. Lebih dari sepuluh."

"Alhamdulillah. Nah... sekarang coba ceritain ringkasan dari yang sudah kalian baca."

"Apa yak..."

"Itu bunda... judulnya masa kecil nabi Muhammad."

"Iya. Terus ?

"Terus apa ya..."

"Trus ada kambing bun. Trus nabi Muhammad saw bukan dirawat sama ibu kandungnya."

?????.... "Trus... apa hubungannya sama kambing ?"

"Yaaahhh... gitu deh bun. Pokoknya gitu dah..."

"Kamu itu bacanya apa ? Masa baca tapi ga ngerti apa yang dibaca."

Melihat reaksi saya yang selalu mengejar dengan pertanyaan, anak-anak lain pun kembali mengambil buku yang sudah dikumpulkan dan mereka berusaha menghafalnya.



"Siapa lagi yang mau cerita ?"

"Saya bun."

"Oke. Kamu tadi ambil judul apa ?"

"Itu bun "Ensiklopedi nabi Muhammad saw."

"Bagus. Isinya tentang apa ?"

"Tentang nabi Muhammad saw dari kecil sampai besar. Tentang keluarganya. Tentang istrinya, perang, trus terakhir tentang meninggalnya."

"Hmmm... kamu baca daftar isinya ya ?"

"Jiiiaaaahhh bunda. Kok tau sih."

Mereka pun tertawa. Dan... saya pun miris. Saya berinisiatif untuk menyudahi mereka membaca buku. Buku-buku pun dikumpulkan.



"Kalian semua... kenapa kalian bisa bertahan berjam-jam main game sementara baca buku 10 menit aja kalian udah ga betah ?" Tanya saya pelan pada mereka. Mereka pun diam. Beberapa menunduk.

"Kalian tau ga salah satu sebab kalian disini adalah karena kalian malas baca. Kalian malas baca Alquran, maka kalian merasa enteng berzina. Kalian malas baca Alquran, maka kalian merasa enteng mencuri. Kalian malas baca Alquran, maka kalian ga merasa berdosa mabuk-mabukkan."

Saya berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam dan memperhatikan wajah mereka satu persatu.

"Kemarin bunda sudah baca tulisan kalian. Dan isinya hampir sama. Kalian semua ingin sukses. Sukses itu ga ada yang sim salabim abrakadabra. Kalian sedang tidur tiba-tiba terbangun jadi orang sukses. Itu cuma ada di film-film. Dunia nyata ga ada yang seperti itu. Sekarang bunda tanya serius. Siapa yang benar-benar mau jadi orang sukses angkat tangan."

Semua anak mengangkat tangannya.

"Turunkan tangannya. Bunda tanya sekali lagi. Siapa yang benar-benar ingin jadi orang sukses."

Kembali mereka mengangkat tangan. Saya mengulang sekali lagi pertanyaan saya dan mereka pun mengangkat tangan dengan semangat.

"Siapa yang benar-benar ingin sukses, harus banyak baca. Kalian mau banyak baca ?"

Beberapa anak saling melirik. Satu anak mengangguk dan menjawab "iya" . Yang lainnya ragu-ragu. Kemudian beberapa anak mulai mengangguk.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Cara yang yang sangat efektif untuk menghancurkan sebuah budaya adalah dengan menghancurkan sumber bacaan mereka" NN

Benarlah kutipan di atas. Saat ini jarang ditemukan generasi Islam yang senang membaca. Generasi Islam dilenakan dengan game-game seru. Di warnet-warnet, di televisi, di mall-mall. Kalaupun ada yang senang membaca, kebanyakan bukan bacaan bermutu.

Coba tengok toko buku. Di rak buku bagian manakah generasi Islam banyak berkumpul ? Di rak buku komik, buku dongeng barat, buku dongeng sihir dan lain-lain.

Tulisan berpengaruh besar pada pola pikir seseorang. Generasi Islam yang membaca tentang kekuatan sihir, maka ia akan berpikir, jika menginginkan sesuatu dapat diperoleh secara instan. Generasi Islam yang membaca buku romantisme pergaulan anak muda, tentu akan terdorong untuk pacaran. Generasi Islam yang membaca majalah-majalah mode fashion terkini, akan merasa bangga memamerkan kecantikannya pada khalayak.

Allah Ta’ala berfirman,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Dengan membaca, maka manusia dapat mengetahui perintah dan larangan Allah. Karena manusia tidaklah diciptakan begitu saja di dunia ini. Itulah urgensinya membaca. Maka bacalah, bacalah dan bacalah !


* rujukan : Alquran

Jakarta, Selasa 6 Oktober 2015



Minggu, 04 Oktober 2015

♧ TUAN PUTRI, SANG PANGERAN dan KAMBING HITAM ♧

Ini bukan kisah dongeng pengantar tidur. Juga bukan kisah seribu satu malam. Tapi inilah kenyataan yang banyak kita temui di kehidupan sehari-hari.

"Maaaaa.... susuuuu...." teriak Mimi pada ibunya. Mimi anak perempuan berusia delapan tahun, berteriak kencang meminta susu pada ibunya. Ia berteriak dari lantai atas. Ibunya yang tengah memasak di dapur lantai bawah, tergopoh-gopoh memghampiri anak tangga.

"Susu coklat atau putih sayank ?"

"Coklaaattttt..."

Tak lama bunda Mimi naik ke lantai atas. Ia pun menyerahkan segelas susu coklat pada Mimi.

"Huuuaaaa mamaaaa... susunya kepanasan. Mimi ga mau minum." Mimi menepis gelas susu yang diberikan ibunya.

"Ya sudah... mama dinginkan dulu ya. Nanti kalau sudah dingin, Mimi minum."

"Tapi jangan kelamaan dingininnya." Jawab Mimi sambil cemberut sambil menatap layar televisi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Misya kaget. Dilihatnya jarum jam di dinding kamarnya. Pukul 06.00 !!!

Aduuhh telat deh nih. Pasti telat. Gumam Misya dalam hati.

Setengah berlari ia menuju kamar mandi. Tak lama ia pun segera masuk kembali ke kamarnya, membereskan buku-buku dan melesat menuju ruang makan.

"Mama nih gimana sih. Kok ga bangunin Misya. Kan jadi kesiangan deh. Ini telat nih mah." Ucap Misya sambil membanting tas ke atas kursi makan.

"Yang ga bangunin kamu tuh siapa. Dari subuh mama udah bangunin. Kamunya aja yang tidur terus. Sarapan dulu. Mama udah bikin roti kesukaan kamu."

"Ga mau. Misya mau langsung berangkat aja."

Saat hendak keluar pagar, Misya teringat sesuatu. Ia pun kembali ke dalam rumah.

"Mah, baju Misya untuk besok gimana ? Udah mama setrikain ?"

"Baju yang mana ? Hari Selasa seragam kamu putih abu kan ?"

"Iyaaaa... tapi ada seragam lagi. Itu mah seragam vokal grup. Besok mau GR harus pake seragam. Mama gimana sih. Kan dari kemarin Misya udah kasih tau kalo seragam vokal harus disetrika untuk hari Selasa."

"Ya ya... nanti mama setrikain."

Pagi berlalu. Siang itu ibunda Misya sedang menyetrika baju seragam anaknya. Dengan penuh kasih ia merapikan baju Misya sambil membayangkan betapa cantiknya Misya mengenakan seragam ini.

Tiba-tiba telepon berdering.

"Mah... kaos kaki jangan lupa mah. Kaos kaki seragam vokal." Ucap Misya tanpa ba bi bu pada ibunya.

"Misya... kamu pake telepon siapa?"

"Iiihhh mama ga penting banget deh nanyanya. Kaos kaki jangan lupa ya mah. Ada di atas meja belajar Misya. Udah dulu mah. Dah mama..."

Hening. Ibunda Misya menatap handphone di tangannya sambil menggeleng gelengkan kepala. Heeehhh anak sekarang, gumamnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari Minggu yang sibuk. Pak Beno merapikan taman di depan rumah. Bu Beno ikut membantu membereskan tanah yang berserakan.

"Bu... Bimbim mana ? Coba panggil sini. Bantuin kita."

"Lagi di kamarnya yah. Biasalah anak muda jaman sekarang."

"Buuuu... sarapan mana ?" Teriak Bimbim dari dalam rumah.

"Ada di meja makan."

Bimbim melangkah ke meja makan. Dilihatnya menu sarapan yang disediakan ibunya. Hmmm... bikin lapar. Bimbim memenuhi piringnya dengan nasi dan berbagai lauk yang dimasak ibunya. Setelah piringnya penuh, ia pun melangkah ke taman depan.

"Ayah... ibu lagi ngapain sih?" Tanyanya dambil duduk di kursi teras.

"Ya beres-bereslah Bim. Emang kamu ga liat ? Habis makan bantuin ayah bersihin kolam ikan. Nih taman udah beres. Kamu libur malah bangun siang."

"Kan libur yah. Tiap hari sekolah udah bangun pagi. Cape. Kalau libur itu waktunya istirahat."

"Sudahlah yah. Biar ibu yang bantuin ayah. Anak muda jaman sekarang yaahh gitu lah."

Bimbim tersenyum memandang ibunya. Agak lama ia duduk di teras. Sambil makan, jari-jarinya asyik bermain di layar handphone seri terbaru yang dibelikan ayahnya. Sesekali ia tersenyum.

Sementara ayah dan ibunya kini sudah berpindah ke kolam ikan. Pak Beno dengan lincah menjaring ikan dan memasukkan ke dalam ember yang sudah disiapkan bu Beno. Bimbim memandang ayah dan ibunya. Perutnya sudah kenyang. Ia pun melangkah masuk ke dapur dan meletakkan piring bekas makannya di atas tumpukan piring dan panci kotor di dapur. Tak terbersit sedikitpun di benaknya untuk membantu ibunya mencuci piring.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebuah desa di pelosok  Lampung heboh. Polisi dibantu tentara menggerebek rumah warga. Mereka mencari pembunuh Kapolres. Semua rumah warga tak luput dari gedoran petugas. Pintu-pintu rumah yang ditutup, didobrak paksa.

Di sebuah rumah seorang ibu menjerit ketakutan.

"Aaaaa.... jangan bawa anak saya. Dia ga salah.... ga salah... jangan bawa anak sayaaaa....."

Beberapa petugas keluar dari rumahnya sambil menyeret seorang pemuda. Dua orang polisi membawa seorang pemuda yang tangannya diborgol.

"Betul ini yang membantu kamu masuk ke rumah bapak Kapolres ?"

Pemuda yang diborgol memandang pemuda yang tadi diseret petugas dari dalam rumahnya. Lama mereka saling menatap. Sang ibu yang tadi menjerit-jerit sontak menghampiri mereka. Ia memukul pemuda yang diborgol.

"Kurang ajar kamu ya. Kamu yang bocorin ini ke polisi ? Ga tau terima kasih. Ga tau diuntung. Ga tau balas budi.... kamuuu...."

Beberapa polisi segera menarik sang ibu yang terus meronta dan memaki dengan kata-kata kotor.

"Tejooooo.... tunggu pembalasan keluarga kami. Lihat saja Tejoooo..." ibu itu terus berteriak sambil memandang pemuda yang diborgol.

Tejo menahan napas. Dipandangnya lagi wajah pemuda dihadapannya.

"Betul pak. Danu yang mengajak saya untuk menghabisi pak Kapolres. Danu juga yang memimpin kami." Tejo tertunduk. Ia sadar, jika ia buka mulut, semua keluarganya terancam. Tapi ia pun tak mau masuk penjara sendirian. Karena malam kejadian itu ia tak tau menahu. Ia hanya diajak keliling kota dengan motor. Ia tak tau jika kemudian rombongan motor justru menyerbu masuk rumah Kapolres kemudian membunuhnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya... ini bukanlah dongeng. Tapi kenyataan. Banyak orangtua yang keliru dalam menerapkan pola asuh kepada anaknya.

Ada orangtua menerapkan pola tuan putri pada anaknya. Anaknya terus menerus dilayani. Bahkan sampai dewasa, sampai punya anak. Anaknya tak bisa apa-apa. Jangankan setrika, ceplok telor pun tak bisa.

Ada juga orangtua yang menerapkan pola asuh pangeran pada anak lelakinya. Sang pangeran ini selalu dimanja. Semua disediakan dan disiapkan. Tak ada perjuangan untuk mendapatkan keinginan. Tinggal bilang ke orangtua, maka orangtua akan memenuhinya.

Ada juga orangtua yang menerapkan pola asuh kambing hitam, yaitu anaknya tak pernah salah. Jika melakukan kesalahan, orangtua akan berusaha menutupinya atau melemparkan kesalahan pada orang lain. Sering orangtuanya berbohong untuk menutupi kesalahan anaknya.

Apa yang terjadi jika tuan putri menikah dengan sang pangeran ??? Tuan putri dan sang pangeran yang dibesarkan dengan pola asuh dilayani, tentunya satu sama lain akan minta dilayani. Dua-duanya merasa berhak dilayani dan dimanja.

Apa yang terjadi jika tuan putri menikah dengan lelaki pola asuh kambing hitam ? Yang tidak mau disalahkan. Yang selalu merasa benar.




Anak adalah generasi penerus umat. Pola asuh orangtua pada anak adalah faktor penting terhadap eksistensi sebuah peradaban. Apalah gunanya bila kita hendak membangun masyarakat tapi tidak peduli pada pola asuh anak. Sejarah mencatat betapa besar peran generasi penerus terhadap keberhasilan suatu bangsa.

Allah berfirman," Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." QS At-Tahrim : 6

Dalam buku Tarbiyat Aulad Fil Islam, DR. Abdullah Nashih 'Ulwan menyatakan ada beberapa hal yang harus ditanamkan dalam pola asuh pada anak :

1.  Tanamkanlah takwa pada anak. Agar anak merasa takut (khauf) dan merasa diawasi (muroqobatullah) oleh Allah. Sehingga ia tak berani melakukan hal-hal yang melanggar syariat.

2. Tanamkanlah rasa persaudaraan (ukhuwah) pada anak. Agar anak memiliki ikatan hati yang melahirkan perasaan mendalam tentang kelemahlembutan, kecintaan, dan penghormatan kepada siapa saja yang terikat dalam akidah.

3. Tanamkanlah kasih sayang (rahmah) pada anak. Agar anak tidak mudah menyakiti orang lain, menjauhi kejahatan, serta menjadi sumber kebajikan dan keselamatan atas manusia seluruhnya.

4. Tanamkanlah itsar (mengutamakan orang lain). Agar anak tidak menjadi egois. Agar anak memiliki empati dan kepekaan sosial yang tinggi.

Semoga kita sebagai orangtua terhindar dari pola asuh yang salah pada anak. Aamiin...


* rujukan : buku Tarbiyat Aulad Fil Islam, DR. Abdullah Nashis 'Ulwan


Jakarta 5 Oktober 2015
Edisi Parenting



Selasa, 29 September 2015

TERLAMBAT SADAR

Siang yang terik. Seorang anak LPKA (Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak) Pria Tangerang sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Ia memanggil saya.

"Bunda...." sapanya sambil tersenyum.

"Andi (bukan nama sebenarnya). Sehat ?”

Alhamdulillah bunda.”

“Lagi sama siapa ?”

“Ini ibu saya bunda.”

Saya pun tersenyum pada ibu Andi sambil pamit menuju masjid. Andi adalah salah satu anak LPKA yang masih berusia 16 tahun. ia ditahan karena kasus narkoba. Beberapa kali pertemuan dengannya, Andi bercerita panjang lebar tentang keluarganya.

Andi dilahirkan dalam sebuah keluarga muslim. Namun sejak ia kecil sampai sekarang, tak pernah sekalipun melaksanakan shalat atas kesadaran sendiri. Shalat baginya hanya ceremonial. Shalat baginya hanya hari Jumat atau hari-hari besar Islam. Surat Alfatihah ia tak hafal. Bacaan shalat ia tak tau.

“Jadi selama ini kalau kamu shalat bacanya apa?”

“Ya ga baca apa-apa bun. Saya ikutin aja gerakan orang. Orang ruku’, saya ruku’. Orang sujud, saya sujud. Tapi saya mah ga tau yang dibaca apaan.”

“Emang dulu waktu kecil kamu ga diajarin shalat ?”

“Seinget saya sih ga bun.”

“Ibu bapak kamu shalat kan ?”

“Hehehe… jarang-jarang bun?”

Begitulah percakapan saya beberapa bulan yang lalu saat pertama kali Andi menginjakkan kaki di LPKA. Kini, tak banyak perubahan. Andi masih “konsisten” dalam keengganannya melaksanakan shalat.

Melihat Andi, saya teringat pada sebuah kisah seorang sahabat. Sahabat saya mempunyai seorang tetangga pasangan suami istri yang sudah sepuh. Sebut saja bapak dan ibu Muna. Mereka berdua rajin sekali ke masjid. Pak Muna tak pernah ketinggalan shalat subuh berjamaah di masjid. Ibu Muna tak pernah absen mengikuti majlis taklim di masjid. Walau badan keduanya mulai membungkuk, tapi mereka tetap semangat melangkah ke masid.

Namun ada satu hal yang membuat sahabat saya penasaran. Ia jarang sekali melihat anak-anak bapak dan ibu Muna berkunjung. Bahkan ketika pak Muna sakit, yang mengantarkan ke rumah sakit para tetangga. Anak-anaknya datang beberapa hari kemudian ketika pak Muna sudah mau keluar dari rumah sakit. Sahabat saya pun memberanikan diri bertanya pada ibu Muna. Sore itu saat sedang menyiram tanaman, sahabat saya menyapa ibu Muna.

“Ibu… seger banget hari ini.”

“Alhamdulillah nak. Mungkin pengaruh baju. Hehe…”

“Bu Muna bisa aja.”

“Besok lebaran haji ya bu. Wah… anak-anak ibu dan cucu pasti datang nih.”

Ekspresi ibu Muna berubah. Matanya sayu. Ia melangkah pelan menuju kran air. Dimatikannya kran dan selang yang panjang pun digulung. Sahabat saya kaget. Ia merasa bersalah. Ia pun segera mengejar ibu Muna yang hendak masuk ke rumah.

“Ibu… saya mohon maaf sekali jika ada kata-kata saya yang salah.”

Ibu Muna diam. Ia menggeleng. Tangan kirinya menggenggam tangan sahabat saya. Kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Duduklah nak.”

Sahabat saya duduk sambil diam. Ia merasa tak enak. Bagaimanapun bapak dan ibu Muna sudah ia anggap seperti orangtua sendiri. Ia tak ingin menyakiti hati mereka.

“Nak Marni sudah saya anggap seperti anak saya.” Ibu Muna menarik nafas panjang. “Saya tau nak Marni juga paham agama. Walau nak Marni saya seumur dengan anak saya, tapi nak Marni juga salah satu guru agama saya. Saya pikir inilah saatnya saya bercerita dan meminta pendapat nak Marni.”

“Enggeh bu.”

“Apa yang saya lakukan selama ini bersama suami, semoga menjadi penghapus dosa-dosa saya yang lalu. Terutama dalam mendidik anak-anak. Dulu kami adalah orangtua yang jauh dari agama.” Ibu Muna terisak.

“Kami tidak pernah mengajak anak-anak shalat berjamaah. Kami tak pernah mengajak anak-anak ke masjid. Kami tak pernah mengajarkan anak-anak membaca Alquran. Waktu kami habiskan berfoya-foya. untuk makan-makan, jalan-jalan dan belanja, waktu kami terasa banyak. Tapi ketika azan, berat sekali kaki ini untuk shalat. Hingga anak-anak kami tumbuh menjadi anak-anak yang jauh dari agama. Anak pertama saya….” Ibu Muna tak sanggup melanjutkan kisahnya. Marni sahabat saya segera memeluk ibu Muna.

“Ibu… tidak usah dilanjutkan. Allah Maha Pengampun. Allah Maha Pemberi Maaf.”

“Iya nak… mudah-mudahan Allah mengampuni kami, yang dulu ga becus dalam mendidik anak-anak.”

KEGIATAN HARI INI DI LPKA



MEMBERIKAN MOTIVASI UNTUK ANAK-ANAK LPKA


Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda,

“Ajarkan kalimat Laa ilaaha illallah sebagai kalimat pertama dan talqinkan kepada mereka Laa ilaaha illallah ketika menjelang ajal.”

Abdurrazaq meriwayatkan bahwasanya para sahabat itu suka untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka kalimat Laa ilaaha illallah sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali, sehingga kalimat ini menjadi kalimat pertama mereka.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Ahkam Al-Maudud mengatakan,

”Ketika anak-anak mulai bisa berbicara hendaklah di-talqin kan kepada mereka kalimat Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah, dan yang pertama kali terdengar oleh telinga mereka adalah Ma’rifatullah (mengenal Allah) dan men-tauhidkan-Nya, dan bahwasanya Allah yang berada di atas singgasan-Nya (arsy) senantiasa melihat mereka, mendengarkan perkataan-perkataan mereka, dan Dia senantiasa bersama mereka di manapun mereka berada.”

Teringat sebuah syair Arab,

Adab yang diajarkan ketika kecil dapat bermanfaat
Sedangkan adab yang diajarkan setelah tua tidak dapat bermanfaat
Ranting yang masih muda jika engkau luruskan akan menjadi lurus
Sedangkan sebatang kayu jika engkau bengkokkan maka dia akan menjadi patah.



*rujukan ;
25 Kiat Membentuk Anak Hebat, Akram Misbah Utsman (GIP)
Cara Nabi Mendidik Anak, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid (Al-Itishom)



Jakarta, 29 September 2015

Minggu, 27 September 2015

♡ TAHUN YANG TAK PERNAH BERULANG ♡



disebuah cafe...

" happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday... happy birthday... happy birthday to you...

di sebuah resto...

"Selamat ulang tahun kami ucapkan...
Selamat panjang umur kita kan doakan...
Selamat sejahtera sehat sentosa...
Selamat panjang umur dan bahagia..."

di sebuah kantin kampus

"Tiup lilinnya... tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga.... sekarang juga...."

Ramainya sebagian orang merayakan "ulang tahun" mulai anak kecil hingga nenek-nenek.

Tiap detik, tiap menit, jam, hari, bulan... jutaan orang di berbagai belahan bumi merayakannya.

Ulang tahun tidak identik dengan diri seseorang. Perusahaan, negara, bahkan sebuah hubungan tak luput dari ulang tahun.

Tidakkah terasa ada yang janggal ?

Apakah arti sebuah kata "ulang tahun" ?

Apakah tahun bisa berulang ?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (kbbi.web.id), ulang tahun adalah :
ulang tahun/ulang ta·hun/ n 1 hari lahir: ia sedang memperingati -- anaknya; pesta --; 2 hari ketika suatu peristiwa penting terjadi: upacara -- Kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan di seluruh pelosok tanah air;

Bicara ulang tahun, erat kaitannya dengan waktu. Banyak firman Allah yang membahas tentang waktu. Salah satu yang banyak dijadikan rujukan adalah QS Al'Ashr.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Firman-Nya, "Demi masa." Yaitu Allah bersumpah dengannya, yaitu seluruh masa (waktu) baik itu malam, siang, pagi dan sore.

Kemudian Allah menjawab, "Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian," penuh kekurangan, kehancuran, dan kerugian karena hidup di dalam kesusahan  kemudian setelah mati, masuk ke dalam neraka Jahanam.

Firman-Nya, " Kemudian orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih," yaitu mereka yang dikecualikan  oleh Allah tidak akan merugi. Siapakah yang dikecualikan Allah ?

Mereka adalah orang-orang yang  beriman,  beramal sholeh,  saling menasehati dalam kebenaran, saling menasehati dalam kesabaran.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari membawakan perkataan Ibnu Baththol. Beliau mengatakan,”Makna hadits ini adalah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang mendapatkan seperti ini, maka bersemangatlah agar tidak tertipu dengan lalai dari bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan oleh-Nya. Di antara bentuk syukur adalah melakukan ketaatan dan menjauhi larangan. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, dialah yang tertipu.”




Semua makhluk ciptaan Allah mendapat jatah waktu yang sama yaitu 24 jam. Orang yang pandai memanfaatkan waktu dan orang yang lalai dalam memanfaatkan waktu, sama-sama mendapat jatah yang sama dari Allah.

Semua kembali pada diri masing-masing....

 Dengan waktu atau tahun yang terus bertambah, apakah kita dapat memanfaatkannya ?...
 Dengan bertambahnya waktu, apakah bertambah juga keimanan kita ?...
 Dengan bertambahnya waktu, apakah amal soleh kita juga bertambah ? ...
Waktu yang terus bertambah, sudahkah kita memanfaatkannya untuk ber amar ma'ruf nahi mungkar ?...

Betulkah yang sudah kita lakukan selama ini dalam menyikapi hari ulang tahun ?

Terlepas dari boleh tidaknya merayakan ulang tahun, bagi saya kata "ulang tahun" terasa janggal. Karena waktu tak pernah bisa diulang. Detik yang berlalu tak mungkin terulang. Hari kemarin tak mungkin kembali lagi. Begitupun tahun.

*sumber :
Tafsir Alquran Al-Aisar (Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi)
www.rumaysho.com
www.dakwatuna.com

Jakarta 27 September 2015
Bunda Suci


Selasa, 22 September 2015

MISSION IMPOSIBLE (1)



Empat tahun sudah Gerakan Peduli Remaja (GPR)  secara rutin melakukan kegiatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA aka Lapas Anak) Pria Tangerang.

Masih ingat ketika pertama kali mengadakan kegiatan di LPKA. Tidak seorangpun yang mau mendekati kami. Anak-anak tahanan ini hanya memandang kami dari kejauhan. Istilahnya, kami dicuekin sama mereka. Bahkan ada satu anak yang bilang seperti ini,

"Halah... bunda mah paling kesini cuma sekali aja. Besok-besok ga bakalan balik lagi. Liat aja."

Mendengar perkataannya, saya memandang teman-teman saya. Ketika pulang, perkataan anak tahanan tadi menjadi diskusi kami sepanjang jalan.

Tak bisa disalahkan jika ada anak-anak tahanan  berpikiran seperti itu. Bisa jadi memang kegiatan yang dilakukan oleh pihak luar LPKA, hanya bersifat sementara. Seperti saat pembuatan skripsi, sumbang pakaian layak pakai, sumbang alat tulis dll. Kemudian setelah kegiatan selesai, mereka tak kembali lagi. Padahal yang dibutuhkan anak-anak ini adalah kegiatan yang berkesinambungan, terus menerus atau rutin.

Tak bisa disalahkan juga jika kegiatan yang dilakukan oleh pihak luar LPKA hanya bersifat sementara. Mengingat jauhnya lokasi LPKA. Waktu kegiatan yang dibatasi, serta mungkin juga dana yang terbatas.

Nah, beberapa hal ini sudah pernah diungkapkan oleh pimpinan LPKA.

"Kelemahan organisasi Islam yang melakukan kegiatan disini hanya dua mba, yaiti dana dan sumber daya manusia (SDM)." Kata almarhum bapak Budi, Kepala LPKA periode 2012-2013.

Dua hal yang terlihat simple, namun ketika dijalankan ternyata cukup berat. Ada ormas Islam yang mengadakan kegiatan kreatif di LPKA, hanya berjalan setahun. Kemudian hilang, tak ada kabar. Ada lagi ormas Islam yang mengadakan kegiatan setahun sekali saja yaitu saat Idul Fitri atau Idul Adha. Ada pula ormas Islam yang betul-betul hanya datang sekali kemudian tak pernah datang lagi.

Maka ketika kami, GPR telah menginjak tahun ke empat berkegiatan di LPKA, ini bagaikan mission imposible.

Karena GPR bukanlah ormas besar yang mempunyai dana besar. GPR juga bukan ormas besar yang mempunyai massa besar. Dua kendala yang disebutkan di atas, hampir setiap waktu menghampiri GPR.

SDM yang on off. SDM yang tiba-tiba menghilang atau mundur. Dana yang tidak cukup atau bahkan tak ada sama sekali. Semua pernah kami alami.

Mungkin saja ada yang menganggap langkah ini sebagai mission immposible. Namun, jika Allah sudah berkehendak, tak ada yang bisa menghalangi.

snack untuk anak LPKA

200 kotak snack sumbangan para donatur

memberikan kata sambutan

kak Toyib sedang memotivasi anak-anak


Tidak mungkin mengadakan kegiatan di lokasi yang jauh., namun Allah berkehendak memudahkan langkah ini.

Tidak mungkin memberikan makanan berbuka puasa selama tiga hari berturut-turut untuk anak-anak LPKA. Namun Allah menggerakkan hati para donatur untuk memberikan sebagian rejeki mereka.

Tidak mungkin mengundang artis secara gratis untuk menghibur anak-anak LPKA. Namun Allah melapangkan hati para artis untuk datang dengan sukarela. Bahkan Allah gerakkan kedatangan mereka secara rutin.

MasyaAllah...

Banyak sekali kejadian di dunia ini yang jika dipikirkan menggunakan logika manusia, tidak akan mungkin terjadi. Tapi... tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.


QS Al-Baqarah :117 "Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia."


Tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah sudah berkehendak.

Jakarta 22 September 2015

Sabtu, 19 September 2015

BELAJAR DARI MEREKA

Kembali berbagi bersama ibu-ibu sapu binaan yayasan Al-Khansa Bumi Serpong Damai (BSD). MasyaAllah... bahagia bisa kembali bersama mereka. Setelah sempat dua bulan saya vakum karena bulan Ramadhan. 

Banyak orang yang tidak menganggap keberadaan para ibu-ibu sapu ini. Namun, tengoklah perjuangan mereka dalam bekerja dan mencari ilmu. 

Sebagian besar ibu-ibu sapu ini usianya sudah tak muda lagi. Kalaupun muda, penampilan fisiknya jauh dari kesan muda. Itu karena pekerjaan mereka yang berat. Banyak dari mereka yang berangkat menuju tempat kerja dengan berjalan kaki. Pernah saya ngobrol dengan salah satu ibu sapu.

"Ibu dari rumah kesini naik apa ?" tanya saya

"Jalan kaki bu."

"Jauh bu rumahnya ? Jalan kaki berapa lama?"

"Ya... lima belas menit lah bu. Jauhnya mah ngga pernah ngukur, hehehe..."

Jalan kaki lima belas menit menuju tempat kerja. Kemudian pekerjaannya menyapu jalanan rumah-rumah mewah yang ada di sekitar BSD. Para ibu sapu ini bekerja sejak pukul delapan pagi hingga pukul empat sore. Diseling waktu istirahat selama satu jam.

Walaupun pekerjaan yang cukup berat, namun semangat ibu-ibu sapu dalam menuntut ilmu agama, patut diacungi jempol. Bagaimana tidak.... 

Setelah pagi harinya mereka berjalan menuju tempat kerja, kemudian menyapu jalanan. Ketika tiba hari Jumat saatnya menimba ilmu, ibu-ibu sapu ini kembali berjalan kaki menuju tempat yang sudah ditentukan. Selain berjalan kaki, sebagian juga ada yang naik truk. Truk ini disiapkan oleh kontraktor penanggung jawab para ibu sapu. Sungguh perjuangan yang luar biasa...


ibu-ibu sapu mengantri nasi bungkus dari yayasan Al-Khansa

berbagi hikmah bersama -+ 250 ibu sapu
Banyak hikmah yang bisa didapat dari mereka....

Tentang syukur yang harus ada di dalam hati kita. Syukur pada kehidupan yang Allah swt berikan. Bahwa hidup kita tak sekeras para ibu sapu.

Tentang ikhlas dalam melakukan pekerjaan. Bayangkan para ibu sapu ini tentulah tak punya pembantu. Sejak pagi mereka sudah mengurus rumah, kemudian dilanjutkan dengan bekerja, dan kembali ke rumah mengerjakan pekerjaan rumah.

Tentang niat yang kuat dalam mencari ilmu. Kebanyakan manusia ketika diberi kemudahan, mereka lalai dalam mencari ilmu Allah. Selalu saja ada alasan. Entah yang sibuk, tak ada waktu, rapat, dan berbagai macam alasan. Padahal Allah telah memberi kemudahan semisal, diadakan pembantu rumah tangga untuk meringankan pekerjaan rumah tangga. Diberi rejeki kendaraan oleh Allah agar tak lelah berjalan kaki ataupun naik angkutan umum. Dan masih banyak kemudahan lain, namun tak ada keinginan untuk mendalami ilmu Allah.

Tak cukup kiranya blog ini menuliskan hikmah yang di dapat dari para ibu sapu. MasyaAllah.... sesungguhnya kitalah yang belajar dari mereka. Sungguh... mereka telah memberi hikmah yang luar biasa....



فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

QS Ar-Rahman 42," Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"



Jakarta, Jumat 18 September 2015
Bunda Suci 

Jumat, 18 September 2015

NULIS LAGI :)

Bismillah...

Ada dorongan yang kuat untuk kembali menulis. Salah satunya adalah dorongan dari teman sepergaulan :))

Benarlah sabda Rasulullah saw, 


مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Tiap hari intens komunikasi dengan teman-teman GPR (Gerakan Peduli Remaja) yang beberapa telah menerbitkan buku, maka... jadilah saya "terpaksa" menulis lagi :)

Hamasah.... mulai berbagi, mulai menulis (lagi)... semoga bermanfaat :)