Tampilkan postingan dengan label my diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my diary. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2015

NULIS LAGI :)

Bismillah...

Ada dorongan yang kuat untuk kembali menulis. Salah satunya adalah dorongan dari teman sepergaulan :))

Benarlah sabda Rasulullah saw, 


مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Tiap hari intens komunikasi dengan teman-teman GPR (Gerakan Peduli Remaja) yang beberapa telah menerbitkan buku, maka... jadilah saya "terpaksa" menulis lagi :)

Hamasah.... mulai berbagi, mulai menulis (lagi)... semoga bermanfaat :)

Senin, 26 Agustus 2013

Mudik lebaran 2013

Alhamdulillah tahun ini bisa mudik lagi ke Magelang. Namanya mudik, pasti repot hehe... Mulai dari persiapan tiket tiga bulan sebelum keberangkatan, oleh-oleh, pakaian buat mudik, sampai pesen tiket untuk balik lagi ke Jakarta ^^

Walau repot, mudik selalu menyenangkan. Membayangkan perjalanan dan pemandangan disana...perasaan repot jadi hilang dalam sekejap hehe....


@stasiun Gambir, 6 Agustus, 21.00WIB

Setelah shalat Ied dan silaturahim bersama keluarga besar, tiba saatnya untuk jalan-jalan seputar Magelang. Salah satunya, ke mall Artos. Ini bukan sembarang jalan-jalan. Tapi sekalian melihat usaha crepes kakak ipar yang baru buka tahun ini. Semoga usahanya sukses dan crepes nya laris manis :)

booth d'crepes ka-ki : Omar, bang Yadi, me n Adam

Selanjutnya, yang wajib dilakukan saat mudik adalah...... kuliner khas Magelang ^^ yaitu ; kupat tahu Magelang. Kupat tahu yang terkenal di Magelang adalah kupat tahu pak Slamet yang letaknya ga jauh dari Masjid besar dan alun-alun kota. Saat mudik seperti ini, subhanallah.... pembelinya rameee.. banget. Walau antri panjang, tetep bertekad harus makan kupat tahu :D


kupat tahu, porsi kecil tapi nendang ^^

 Saat jalan-jalan, nemu foto ini nih... masyaAllah... itu sapu gede banget ^__^ kira-kira dipake untuk nyapu apaan yah ???
sapu raksasa

Pemandangan desa Gedongan Kidul Magelang.... subhanallah... speechless.... indah banget dan dingiiiiinnnn banget.... bbbrrrr..... Tapi walau di desa, alhamdulillah rumah ortu dilengkapi dengan tv kabel dan air panas hehe... jadi serasa ga di desa :P 

matahari di balik awan

suasana pagi di desa Gedongan Kidul

sawah.... subhanallah....

always syar'i, any time, any where.... ^^

Adam n Fadil @eyang house

gunung Merapi dan Merbabu

Adam, Fadil, Nafid, Haikal @mbah buyut house

menuju desa Gedongan Kidul

Bukit Menoreh

siang hari menuju desa Gedongan Kidul

tiga ABG ^^



Long time not see....

Lamaaa sekali blog ini kosong. Padahal bahan tulisan banyak banget, tapi ga tau kenapa, kok ada aja halangan setiap mau nulis di blog.

Anyway, dirumah kedatangan penghuni baru :)
Seekor anak kucing lucu nan imut. Super duper lucu dan langsung menjadi favorit keluarga. Sebenarnya ga sengaja nemu anak kucing ini di depan rumah tetangga. Kasian. Masih bayi, induknya entah kemana, dan ngeongnya melasss banget.

Akhirnya diputuskan untuk melihara. Alhamdulillah, sekarang anak kucing nya sehat dan lincah. Oya, kenalin, namanya moli ^^ kucing betina belang tiga.

moli bersiap menerkam sapu ^^

tempat tidur favorit : diatas kandang ^^

moli waktu pertama kali ditemukan

moli lagi ngapaiiiinnn..... ^^

nah ini salah satu hobi moli : ngerusakin sandal rumah :D

hobi lainnya... tidur diatas sarung


moli siap-siap tidur ^^

qiqiqi.... ngintip apaan...... ?

Senin, 15 April 2013

TANTE KRIS...


Berkecimpung di dunia remaja, membuat saya selalu tertarik dengan kisah orangtua yang berhasil dalam mendidik anak-anaknya. Sore itu saya mengikuti pertemuan rutin ibu-ibu PKK di wilayah rumah saya. Rata-rata ibu-ibu ini sudah sepuh, alias sudah punya cucu. Mereka punya banyak cerita tentang bagaimana sukses mendidik anak.

Salah satunya adalah tante Kris, begitu saya biasa memanggilnya. Usia tante Kris hampir 50 tahun. Tapi penampilannya masih energik. Anak-anaknya pun sudah dewasa. Yang pertama berusia 26 tahun. Jengis panggilannya. Saat ini Jengis adalah dosen tetap di salah satu universitas bergengsi di Jakarta. Jengis telah menamatkan S2 nya, dan saat ini akan menempuh pendidikan S3.

Yang kedua adalah Bara. Lulusan Sekolah Tinggi Statistik Indonesia ini, telah bekerja di Sorong Papua, sejak lulus kuliah. Beberapa bulan yang lalu, baru saja melangsungkan pernikahan sederhana dengan pujaan hatinya. Saat ini, Bara tengah menanti beasiswa untuk S2nya. Dan yang terakhir, Eda. Masih duduk di kelas satu SMAN favorit di Jakarta Timur.

Ketiga anak tante Kris adalah lelaki. Saya salut pada mereka, mampu menjaga diri dari pergaulan ibukota. Selama mengenal keluarga tante Kris, saya tidak pernah mendengar ketiga anaknya terlibat perkelahian, obat-obat terlarang, apalagi sampai seks bebas. Sebaliknya, saya dijejalkan dengan informasi anak-anaknya yang selalu mendapat beasiswa. 

Subhanallah….

Saya pun penasaran dengan kiat mendidik tante Kris.

“Simpel Ci, tante selalu berkomunikasi dengan mereka. Uci tau kan rumah tante. Setiap kamar terhubung. Mereka ga bisa terkunci di kamarnya sendirian. Apalagi berduaan dengan temannya. Kalau ada teman yang datang kerumah, tante  kadang ikut nimbrung. Tante juga ga ijinin mereka punya hp sampai tamat SMA. Apalagi motor.” Jelas tante Kris panjang lebar.

Subhanallah…. “Dan tante bertahan dengan gaya didik tante seperti itu? Mereka ga minder tante dengan teman-temannya?” Tanya saya penasaran.

“Alhamdulillah ga Ci. Tante jelasin ke mereka, bahwa kita bukan orang berlebihan seperti teman-temannya. Jangan tergiur. Yang dilihat bukan materi, tapi otak.”

Saya mengangguk, subhanallah, luar biasa. Di lain pihak, kita bisa melihat begitu entengnya remaja sekarang membawa smartphone kemanapun. Saat di angkutan umum, di mall, di sekolah, smartphone tidak pernah lepas dari genggaman mereka.

“Oya, satu lagi Ci, tante ga pernah tertarik dengan BB. Ada salah satu orangtua temen anak tante, anaknya dibeliin BB, malah ketauan simpen foto-foto vulgar.”

Saya kembali mengangguk. Ya, smartphone sama dengan internet. Bagaikan pisau. Tergantung penggunanya. Mau digunakan untuk kebaikan atau kejahatan?

Budaya komunikasi aktif selalu dijaga oleh tante Kris dan suaminya. Apapun masalahnya, harus dirembuk bersama.

“Tante sering Ci ngobrol berlima. Kita kumpul di kamar. Anak-anak bebas cerita apa aja. Tante ketawa-ketawa dengar cerita mereka.”

Alhamdulillah… terimakasih tante Kris, hari ini saya mendapat pelajaran luar biasa tentang cara mendidik anak. Buku-buku pendidikan anak memang menarik untuk dibaca. Tapi, pengalaman hidup seseorang adalah pelajaran yang paling berharga

Senin, 28 Januari 2013

MAAF....


Bismilahirrahmannirahim...

Subuh itu, komplek perumahan saya digegerkan oleh pengumuman meninggalnya salah seorang pengurus masjid. Beliau termasuk pendiri masjid dan sesepuh daerah saya. Spontan saya berucap innalilahi wainnailaihi rajiun... ya Allah... rasanya tak percaya. Karena beberapa hari yang lalu, saya sempat bertemu dan beliau baik-baik saja. Begitupun yang dikatakan oleh abinya. Saat shalat isya di masjid, masih bertemu beliau dan beliau dalam keadaan sehat walafiat.

Qullu nafsin dzaiqatalmaut... begitulah yang Allah katakan. Setiap yang hidup, pasti akan merasakan mati. Tumbuhan, hewan dan manusia. Dimanapun kita berada, bila saatnya tiba, kematian akan datang pada kita.

Saya pun bergegas menuju rumah alhamarhum, yang juga tetangga dekat. Rumah kami sangat dekat. Hanya beda empat rumah saja. Setiap hari pun saya beberapa kali melewati rumah beliau. Pagi hari ketika mengantar anak sekolah, siang ketika mengantar makan siang anak, belum lagi jika hendak ke warung ataupun ke masjid.

Pagi itu, sepertinya alampun berduka. Gerimis dan mendung sejak pagi menghiasi langit Jakarta. Saat tiba dirumah duka, telah ramai oleh tetangga dan kerabat dekat. Tenda baru usai dipasang. Kursi-kursi disiapkan.

Saya bergegas masuk kedalam rumah. Saya segera menghampiri istri almarhum. “Tante....” sapa saya tercekat. Ia segera memeluk saya. Lama kami berpelukan. Wanita yang biasa saya sapa tante, terisak tak sanggup berkata sepatah katapun. Sayapun begitu. Saya memeluknya erat. Menenangkan sambil mengelus punggungnya.

“Uci... maafin om ya. Kalau ada yang salah. Sikap dan kata-kata. Maafin ya...” kata tante sambil terus memeluk. Saya mengangguk. “InsyaAllah tante, om baik. Ga ada yang salah.” Jawab saya.

Tante masih terus menangis dan memeluk saya. “Uci, tante belum sempat minta maaf sama om. Tante banyak salah...” ucap tante. Dan, tangis tante pun kembali meledak.
Allah.... pikiran saya melayang saat ayah meninggal.

September 2005, hanya beberapa hari sebelum ulang tahun saya. Kami merencanakan untuk makan bersama di tempat makan favorit keluarga.

Pagi itu, saya mengantar ayah untuk operasi pemasangan cincin di jantung. Hanya saya, ayah dan ipar yang berangkat menuju rumah sakit. Rencananya, ibu dan kakak-kakak saya akan menyusul siang hari. Karena dokter yang akan operasi adalah sepupu ibu, jadi kami sekeluarga tidak terlalu khawatir.

Hari itu berjalan seperti biasa. Saya masih sempat bercanda dengan ayah. Saya pun masih bolak balik ke rumah untuk mengambil baju ayah. Setelah ibu dan kakak saya datang, ba’da dhuhur, ayah pun masuk ruang operasi. Sayang sekali saya tidak mengantar ayah masuk ruangan, karena harus mengurus surat-surat yang tertinggal. Itulah penyesalan terdalam saya.

Saya tidak sempat mengatakan sepatah katapun. Apalagi mencium tangan ayah untuk meminta maaf. Saya tidak sempat melihat senyum terakhir ayah. Karena setelah masuk ruang operasi dan pemasangan cincin, ayah saya mengalami gagal jantung dan koma hingga meninggal.

Saya bisa merasakan betul apa yang tante rasakan. Tidak sempat meminta maaf. Apalagi saya sebagai anak, yang belum cukup shalih untuk bisa memakaikan ayah baju kerajaan di surga-Nya kelak. Saya anak yang masih banyak dosa. Belum bisa membahagiakan ayah.
Allah.... tante, saya tau apa yang tante rasakan.....

Saya masih menenangkan tante yang terus menangis.                                                                

Saya termenung dengan kejadian hari ini. Seringkali kita merasa bersalah, merasa kehilangan jika seseorang telah meninggalkan kita selamanya. Rasa benci, rasa marah, rasa kesal, tidak suka dll, tiba-tiba saja berubah menjadi perasaan bersalah (baca: penyesalan) yang teramat sangat.

Saat itu kita akan berpikir, seandainya saya tidak membencinya, seandainya saya tidak marah, seandainya saya sabar, seandainya saya lebih baik lagi... Yah, penyesalan memang datang terlambat.

Allah begitu sayang pada umat-Nya. Karena itulah, kita selalu diberi hikmah lewat berbagai kejadian. Salah satunya adalah kepergian orang yang kita cintai. Bagi yang sudah mengalami kehilangan orang-orang terdekatnya, tentulah paham rasa kehilangan.

Lewat kepergian orang yang kita cintai, Allah mendidik kita agar menghargai setiap detik yang kita habiskan bersama kerabat, suami, istri, anak, ibu ataupun teman. Allah mendidik kita untuk selalu bersikap baik, tidak berburuk sangka dan saling memahami satu sama lain. 

wallahualam....


Selasa, 06 November 2012

PENGAMEN BENGIS


Bagi saya, ada beberapa waktu dimana naik angkutan umum di Jakarta, lebih nyaman daripada membawa  kendaraan pribadi. Diantaranya adalah saya bisa bebas membaca buku sampai tiba di tempat tujuan.

Tapi akhir-akhir ini saya sangat terganggu dengan tingkah beberapa pengamen. Yang tentu saja menghilangkan kenyamanan saya di angkutan umum.

Seperti siang itu. Setiap ke kampus di daerah Mampang, saya selalu naik bis dari UKI. Bis jurusan Cililitan-Blok M. Siang itu bis masih kosong. Masih ngetem menunggu penumpang. Alhamdulillah saya mendapat tempat duduk favorit yaitu dekat jendela. Saya pun langsung tenggelam dalam buku.

Tidak lama berselang, tiba-tiba dua orang pengamen muncul. Dua orang lelaki dengan penampilan yang membuat saya gerah. Tato berbagai gambar ada disekujur tubuh mereka. Juga tindikan anting. Salah satu pengamen bahkan menyematkan peniti di bawah bibirnya. Aahh, ada-ada saja. Terus terang, sejak dekat dengan teman-teman Punk Muslim dan anak-anak Lapas, saya tidak terlalu takut dengan penampilan mereka. Saya malah penasaran, jika mereka masuk Lapas, apakah mereka masih berani menakut-nakuti penumpang? ^__^

Saya masih melanjutkan membaca buku. Tiba-tiba salah seorang pengamen,mendekati kursi saya dan mulai berteriak-teriak.

“Ya yang pura-pura tidur atau baca buku, silakan melanjutkan kegiatan kalian. Asal tau saja, kami bisa gelap mata. Masih untung kami bernyanyi, tidak menjambret, merampok apalagi membunuh.”

???? Apakah maksud pengamen itu saya?? Saya pun langsung menatap tajam dirinya. Ya, walaupun agak ngeper juga, tapi kalau saya diancam dan saya merasa tidak salah, saya akan lawan sebatas kemampuan.

Pengamen itu mulai mengeluarkan kantong permen untuk meminta uang dari para penumpang. Tiba di kursi saya, saya tidak menatap kantong permen, tapi saya menatap matanya dan saya juga tidak memasukkan sepeser uangpun. Saya ingin tau, apa ia marah dan lalu menjambret saya di hadapan orang banyak? Ternyata.... tepat seperti dugaan saya. Dia tidak berani. Dia hanya melengos dan segera berlalu ke penumpang lain.

Heehh.... saya menarik nafas lega dan bersyukur....

Tapi, esok harinya saya tidak berani melakukan hal seperti kemarin. Siang ini, saya kembali naik bis yang sama. Dan seperti biasa, saya tenggelam dalam buku. Tak lama, seorang pemuda naik ke atas bis.

Dia tidak membawa alat musik apapun. Hanya sebuah tas kecil dan selembar kertas putih. Mulailah ia berteriak-teriak. Dan kali ini saya bergidik...

“Ya ibu-ibu bapak-bapak, sudah tau ya kalau pisau itu tajam. Silet yang saya pegang ini pun sangat tajam. Kalau tidak percaya silakan perhatikan saya.”

Iapun memperlihatkan sebuah silet kecil pada para penumpang. Kertas putih yang ada ditangan kirinya pun disobek-sobek dengan silet. Sekali tebas, kertas putih itu langsung terbelah. Saya menahan nafas, lalu, atraksi apalagi yang akan kau suguhkan? Tanya saya dalam hati.

“Nah, sudah liat ya ibu-ibu bapak-bapak, kalau silet ini sangat tajam. Sekarang coba perhatikan lagi.” Ia membuka salah satu lengan bajunya. Saya memperhatikan banyak bekas sayatan di tangannya.

“Lihat ya bapak ibu. Silet ini sangat tajam.” Dan ia pun mulai menyayat-nyayat lengannya dengan menggunakan silet itu.

Hhhheeehh.... saya langsung memejamkan mata. Saya tidak berani melihatnya. Ini orang maunya apa sih? Saya semakin penasaran.

“Bapak ibu, silet ini sangat tajam. Jangan sampai saya gelap mata. Saya tidak meminta banyak. Hanya untuk membeli sebungkus nasi. Harga sebungkus nasi yang tidak sebanding dengan tabungan bapak ibu sekalian.”

Ooo jadi itu maksudnya.... Ok. Naluri wanita saya muncul. Saya tidak berani. Tidak seperti pada pengamen bertato, kali ini saya tidak berani menatap matanya. Tangan saya sibuk mencari uang kecil. Saat ia tiba dihadapan saya, dengan cepat saya memasukkan uang ke kantong permen yang dipegangnya. Sambil berharap agar ia cepat turun dari bis.

Dua hari dengan ancaman yang sama, jangan sampai kami gelap mata. Kalimat itu dipakai sebagai alasan untuk mengancam penumpang. Dan cara itu cukup efektif untuk menghasilkan uang.

Saya menyayangkan sikap para pengamen yang seperti itu. Usia mereka masih muda. Masa depan mereka masih panjang. Sebenarnya masih banyak hal baik yang dapat mereka kerjakan. Mengapa mereka tidak berubah?? Apakah mereka tidak bisa berubah atau tidak mau berubah??

Jika tindakan seperti ini (ancam mengancam di angkutan umum) tidak bisa diberantas habis, minimal saya berharap, tidak ada regenerasi. Karena bisa saja suatu saat yang terjadi adalah sebaliknya. Penumpang yang merasa bosan diancam menjadi gelap mata dan berbalik mengeroyoknya.

Jika sudah begitu, siapa yang salah???...


Rabu, 31 Oktober 2012

PESONA N.I.A.S


Pulau Nias memang mempesona. Keindahannya tidak hanya dikenal di dalam negeri, namun juga sampai ke mancanegara. Namun, N.I.A.S yang ingin saya ceritakan disini bukanlah tentang pulau Nias. Tapi tentang pesona sekumpulan ibu-ibu yang bertekad untuk menggali lebih dalam lagi tentang Islam.

N.I.A.S adalah singkatan dari Ngobrol Iseng Akhwat SMANDA (SMAN 2 Bekasi). Dibentuk oleh ibu-ibu yang luar biasa. Berawal dari lima orang ibu, kemudian menyusut menjadi empat orang, kemudian meningkat lagi, menyusut lagi, meningkat lagi, begitu seterusnya.

Pengajian NIAS, diawali dari ngobrol iseng, saling tukar pikiran, diskusi ngalor ngidul, hingga sampailah pada satu kesimpulan, untuk saling berbagi ilmu, berbagi cerita, juga berbagi dagangan hehehe....

Anggota NIAS terdiri dari berbagai latar belakang. Ibu rumahtangga, ibu bekerja, pengusaha, wanita karir dll. Tidak ada aturan khusus untuk menjadi anggota NIAS. Aturan wajibnya hanya alumni SMAN 2 Bekasi 1993 dan tentu saja harus perempuan J

Saat ini usia NIAS hampir dua tahun. Waktu yang cukup lama untuk saling mengerti, saling memahami satu sama lain. Walau pertemuan rutin diadakan “hanya” sekali sebulan, namun, hampir setiap hari anggota NIAS saling berhubungan. Entah lewat sms, bbm, wasap atau pun media lainnya. Belum lagi janjian makan siang yang hampir setiap minggu diadakan J

Ya, NIAS bagi saya, sangat mempesona. Berbagai karakter ada disana. Dan itu adalah pelajaran yang sangat berharga. Bagaimana satu dan lainnya berusaha untuk saling memahami dan saling mengerti. Meredam ego pribadi demi kemajuan dan kepentingan bersama. Subhannallah....

Disadari atau tidak, setiap bulan, pertemuan NIAS selalu menebar hikmah. Dan hikmah terbesar adalah dari pengalaman masing-masing anggota. Bagaimana mereka bertahan dengan masalahnya, bagaimana mereka berusaha menemukan solusi dari masalahnya dan bagaimana mereka menghadapi berbagai masalah hidup.

Di NIAS, kadang tawa dan tangis menjadi satu. Itulah uniknya NIAS. Jika ada lagu semakin cinta yang ditujukan untuk pasangannya, maka, saya persembahkan lagu semakin cinta untuk teman-teman NIAS.

Sungguh, NIAS terdiri dari pribadi-pribadi luar biasa. Banyak hikmah yang bisa diambil dengan bergabung di NIAS.

NIAS menuju milad dua tahun, tetap semangat dan semoga istiqomah....


Rabu, 12 September 2012

MY DIARY...


Menulis itu indah. Menulis itu melegakan. Membaca kembali tulisan-tulisan yang terangkai dalam diary, bagai membaca sejarah hidup sendiri.

Malam itu saya membuka kotak penyimpanan puluhan diary. Saya mengumpulkan diary sejak tahun 1991 hingga 2011. Total hanya 11 diary. Lainnya raib, karena saya dan keluarga beberapa kali pindah rumah

Sayang sekali...


Banyak cerita menarik di dalam setiap diary. Tahun 1998, secara detail saya menceritakan kronologis kerusuhan. Saat itu keadaan sangat mencekam, sebagian telepon di Jakarta mengalami gangguan, termasuk telepon rumah saya. Para tetangga panik menyelamatkan surat-surat berharga, para bapak dan anak lelaki yang telah dewasa, bahu membahu menjaga perumahan, agar tidak dimasuki para penjarah.

Diangkasa Jakarta, helikopter dan pesawat hercules berseliweran. Membuat suasana malam makin mencekam. Dari kejauhan, nampak asap mengebul tinggi, menutup langit. Cahaya api menari-nari. 

Astaghfirullah.... membaca itu semua sungguh ngeri. Berharap hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi di bumi Indonesia.

Saat duduk di bangku SMA, sebenarnya saya memiliki beberapa diary, namun yang tersisa hanya satu :(

Tahun 1991. Saya menceritakan perjalanan liburan bersama teman-teman sekelas. Sejak menunggu bis yang hendak membawa kami ke kota Cirebon, hingga kesan-kesan semua teman selama perjalanan pergi pulang, tertulis dengan rapi.

Alhamdulillah, bahkan foto-foto saat SMA pun masih bagus :)

Dan yang mengejutkan, ternyata tahun 1991, saya pernah menuliskan sepuluh kriteria calon suami. Ada-ada saja. Saat saya, suami dan anak membaca kriteria-kriteria itu, kami pun tertawa bersama. Hanya dua yang meleset dari kriteria yang saya tentukan. Ada-ada saja.

Tahun 2000, saat pertama kali menjadi pramugari Saudi Arabian Airline, saya tuliskan betapa Allah Maha pengabul doa. Harapan saya ketika sekolah dulu, dapat melihat luar Indonesia dengan gratis, alhamdulillah dapat terwujud.

Dalam diary, saya bercerita, bagaimana beratnya hidup di negeri orang, tanpa saudara. Selain itu, pengaturan penghasilan, sampai berapa jumlah yang harus ditabung, tertulis dengan rapi dalam diary.

Tak ketinggalan kejadian tsunami Aceh pun ada dalam diary. Begitu juga berbagai kejadian berdarah di Palestina, lengkap dengan puisi-pusi tentang jihad. Subhanallah...

Rangkaian demi rangkaian kalimat dalam diary, membawa hikmah begitu besar. Kita belajar dari hidup kita sendiri. Jika dahulu kita melakukan kesalahan, maka, kini saatnya memperbaiki. Jika dulu banyak kekurangan, maka saatnya kini melakukan yang benar.

Allah memberi hikmah dari mana yang Ia kehendaki, dari tulisan orang lain, maupun dari tulisan tangan kita sendiri. Semua tergantung pada diri ini, maukah kita menarik hikmahnya....?

Jumat, 07 September 2012

AROUND THE WORLD WITH A BOOK


Apa yang terlintas dipikiran kita ketika melihat sebuah buku yang berpuluh-puluh tahun lalu kita baca, dan kini terbit kembali. Dengan isi cerita yang sama, tokoh yang sama, latar belakang yang sama, namun dengan kemasan yang lebih cantik dan terkini.

Itulah yang hari ini saya temui di sebuah toko buku.


Setelah satu jam memilih buku-buku yang akan saya baca minggu ini, saya pun melangkah ke kasir untuk membayar. Dan, saat membayar itu adalah saat yang sangat menakjubkan bagi saya.

Di belakang kasir, terpampang buku-buku yang dulu pernah saya baca saat di sekolah dasar. Buku-buku karangan HC Andersen dan EnydBylton. Bagaikan menemukan harta karun, mata saya tak berhenti menatap buku-buku cantik itu.

Ya, dulu sekali, saat SD, orangtua saya yang sangat gemar membaca, membelikan buku-buku itu. Berbagai seri karangan Alfred Hitckock dan Enyd Bylton, saya lahap. Begitu juga dengan buku karangan HC Andersen.

Bagi saya, tinggal di luar pulau Jawa saat kecil, adalah hal yang sering membuat penasaran. Seperti apakah kota besar itu? Jakarta. Apa yang ada disana? Luar Indonesia, bisakah suatu saat saya berkeliling ke negara-negara itu?

Dan, pertanyaan demi pertanyaan seakan terjawab. Saat membaca buku-buku Enyd Bylton dan HC Andersen, pikiran seakan menembus ruang dan waktu.

Satu saat saya dapat menjadi seorang “Gadis Penjual Korek Api” yang tinggal dipinggiran sebuah negara di Eropa. Negara yang mempunyai empat musim, yang jalanannya bersih dan rapi. Kehidupan masyarakat Eropa yang tertata. Lampu-lampu taman yang menerangi jalan dll. Apa yang digambarkan oleh HC Andersen, terekam dalam pikiran saya dan seakan saya berada di kota-kota yang diceritakannya.

Lain waktu, saya seakan menjadi Gwendoline. Salah satu tokoh dalam cerita “Mallory Towers” karangan Enyd Bylton. Yang setiap malam sebelum tidur, Gwendoline selalu menyisir rambutnya sebanyak seratus kali J

Dalam cerita itu, digambarkan secara detil kehidupan asrama putri sejak kelas satu hingga kelas delapan.
Dengan jelas Enyd Bylton menggambarkan posisi kastil asrama yang letaknya di atas bukit. Dari salah satu menara, murid-murid dapat melihat laut lepas atau pedesaan. Indah, sungguh indah. Dan itu tergambar jelas di pikiran saya.

Dulu, media elektronik belum secanggih sekarang. Video hanya dimiliki oleh orang-orang kaya. Yang tentu saja, bukan termasuk keluarga saya. Karena itulah, orangtua membelikan banyak buku, agar anak-anaknya mempunyai wawasan yang luas. Ah masa itu, jangankan video, televisi pun kami belum punya.

Sadar atau tidak sadar, seringkali suatu cerita dapat membuat diri kita masuk dan menyelami para tokoh. Berkeliling bersama tokoh, dari satu tempat, ke tempat lainnya. Berganti negara, berganti kota, berganti suasana, berganti pemandangan...

Itulah mengapa saya selalu butuh membaca. Apalagi membaca sejarah negara-negara yang belum pernah saya kunjungi. Begitupun dengan biografi para tokoh terkenal. Membaca itu semua, membuat kita mempunyai mimpi untuk bisa berkunjung ke negara-negara itu, atau terinspirasi dengan tokoh yang kita baca.

Membaca, akan membuat kita “keliling dunia”. Percayalah.... J

Senin, 14 Mei 2012

KEPEDULIAN SUKHOI


Awal bulan Mei, rakyat Indonesia dikejutkan dengan musibah jatuhnya pesawat  komersil buatan Rusia yaitu Sukhoi Super Jet 100. Pesawat ini digadang-gadang sebagai pesawat tercanggih di kelasnya. Menawarkan berbagai kenyaman baik pada pilot maupun penumpangnya.

Harga yang relatif murah, membuat para pengusaha Indonesia berminat untuk membelinya. SSJ 100, jatuh pada penerbangan promo kedua. Atau biasa disebut joy fligth. Pada penerbangan pertama, SSJ100 dapat take off dan landing dengan selamat.

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita berdoa pada para jenazah agar segala amal ibadah yang dilakukan mereka saat hidup, berbuah pahala disisi Allah swt. Dan bagi yang ditinggalkan, semoga diberikan kesabaran. Setiap kejadian, pasti ada rencana Allah swt disana.

Yang menarik dicermati pada musibah SSJ100 adalah rasa peduli. Sejak jatuhnya pesawat SSJ100, berbagai kalangan mengungkapkan rasa simpatinya. Lintas negara, lintas etnis dan lintas agama. Semua menyatakan belasungkawa dan keprihatinannya.

Berbagai elemen masyarakat turun langsung ke tempat jatuhnya pesawat SSJ. Sebut saja tim pecinta alam Universitas Indonesia, atau biasa disebut MAPALA UI. Bersama dengan Angkatan Darat, mereka adalah orang pertama yang mencapai lokasi puing-puing pesawat. Mereka juga yang berhasil membuka jalan untuk tim selanjutnya.

Selain MAPALA UI, terdapat juga tim dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), Dompet Dhuafa (DD), dan sebagainya. Selain tenaga, banyak juga yang mengirimkan ambulans dan tim dokter. Tim psikologi UI adalah salah satu tim yang membuka pelayanan di Bandara Halim Perdanakusuma. Tim ini menangani psikologis keluarga yang ditinggalkan.

Untuk penanganan forensik jenazah sendiri, berasal dari empat buah Universitas Negri ternama Indonesia yaitu, Universitas Indonesia, Universitar Brawijaya, Universitas Pajajaran dan Universitas Airlangga.

Pertolongan tidak hanya dilakukan oleh lembaga masyarakat atau organisasi tertentu. Warga sekitar Gunung Salak pun turut membantu evakuasi. Dengan pakaian dan perlengkapan seadanya, mereka bergabung dengan tentara untuk menurunkan kantung-kantung jenazah atau membantu mengumpulkan barang-barnag pribadi penumpang yang tersebar di semak-semak hutan.

Jika warga lelaki setempat membantu dengan tenaga, maka, kaum ibupun tak ketinggalan. Dalam salah satu tayangan di televisi swasta, tampak sebuah kelompok ibu-ibu memberikan logistik untuk para sukarelawan. Dengan uang seadanya, mereka patungan dan membuat nasi bungkus.

Indahnya kepedulian. Sejenak kita dapat menarik nafas lega dari berita akhir-akhir ini yang dipenuhi dengan kerusuhan, perkelahian massa, pengrusakan kantor aparat, penggusuran dll.

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw berkata,”Seorang diantara kalian tidak beriman jika belum bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”

Hadits ini mendorong setiap muslim agar senantiasa berusaha membantu orang lain untuk melakukan kebaikan. Karena hal ini merupakan bukti dan tanda kebenaran imannya. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang bersih dan berwibawa. Ketika seseorang mencintai suatu kebaikan untuk orang lain, tentu ia akan berlaku baik kepadanya. Dengan demikian akan timbul rasa kasih sayang diantara anggota masyarakat, kebaikan akan tersebat luas, kejahatan dan kezaliman akan tersisih dan terciptalah keharmonisan dalam setiap lini kehidupan.

Melihat kenyataan ini, sesungguhnya kepedulian masyarakat Indonesia masih tinggi. Terbukti pada musibah pesawat SSJ100. Tidak perlu menunggu waktu lama, seluruh lapisan masyarakat turun. Baik langsung maupun “sekedar” mengirimkan doa.

Hendaknya rasa peduli ini dapat dipupuk dan dipelihara. Rasa peduli yang timbul tidak hanya pada saat terjadinya musibah saja, namun dapat dilakukan setiap hari, setiap menit. 


Jumat, 11 Mei 2012

(LAGI) EMPATI YANG HILANG


Sudah tiga hari ini berita jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 (SSJ 100), memenuhi semua media dalam dan luar negeri. SSJ 100 termasuk pesawat canggih keluaran terbaru. salah satu konsultannya adalah perusahaan Boeing. Selain itu, SSJ 100 pun sudah mendapat sertifikat terbang internasional dari Eropa. Begitulah yang saya baca dan dengar dari media.

Namun, jika Allah berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Pesawat baru itupun menghantam lereng Gunung Salak. Badan pesawat hancur berkeping-keping. Foto-foto yang diambil dari udara menunjukkan, kecil kemungkinan ada awak pesawat yang selamat.

Begitupun gambar yang diambil dari kamera salah satu stasiun televisi swasta. Dari kejauhan terlihat jelas, sayap pesawat dengan logo “Sky Aviation”. Badan pesawat lainnya bergelimpangan disekitar lereng. Pohon-pohon di sekitarnya pun hitam, menandakan telah terjadi kebakaran hebat di area itu.

Hampir semua televisi berlomba untuk memuat berita ini. Para wartawan memberitakan dari semua sisi. Mewawancarai pihak keluarga korban, mengunjungi rumah korban, sampai menampilkan foto-foto terakhir para awak pesawat SSJ 100.

Dalam foto-foto itu tergambar keceriaan para penumpang dan pramugari. Sebuah foto memperlihatkan para pramugari berfoto ria di depan pesawat SSJ 100. Semua tampak bahagia. Ya, tentu saja. Mereka termasuk orang pertama yang akan menaiki pesawat penumpang canggih buatan Rusia.

Foto lainnya memperlihatkan pramugari berfoto dengan pilot dan co pilot di tangga pesawat. Ada juga foto-foto para pramugari di dalam pesawat. Semuanya ceria.

Tujuan ditampilkannya foto-foto itu oleh pihak televisi adalah untuk memberikan informasi siapa saja yang ada di dalam pesawat naas itu. Namun ternyata ada saja pihak-pihak tak bertanggung jawab yang memanfaatkannya untuk kepentingan lain.

Di media jejaring facebook, banyak tulisan dengan berbagai judul yang menampilkan foto-foto para pramugari. Satu hal yang sama dari tulisan itu adalah, seandainya saja mereka ingat mati, tentu mereka tidak akan berpose atau berpakaian seperti itu.

Astaghfirullah... saya menarik nafas panjang.

Mengambil hikmah dari setiap musibah adalah hal yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Namun hendaklah hal itu dilakukan dengan cara-cara yang baik, cara yang bijak. Bukan dengan menghakimi atau merasa paling benar.

Bayangkan perasaan keluarga para korban yang membacanya?? Mungkin saja diantara para korban ada sosok ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dan anak-anaknya. Jika anak-anaknya membaca kalimat-kalimat yang menghakimi ibunya, tidakkah itu menyakitkan??

Atau bisa saja diantara para korban adalah salah seorang anak yang menjadi mata pencaharian tunggal bagi ibu dan adik-adiknya. Bayangkan lagi, bagaimana perasaan seorang ibu yang kehilangan anak kebanggaannya, lalu membaca kalimat-kalimat menyudutkan untuk putrinya.

Kemana rasa empati kita?? Sudah hilangkah?? Sudah matikah rasa empati kita??

Terlepas dari bagaimana mereka menghabiskan waktu sebelum maut menjemput. Namun hendaklah kita ingat pada sebuah cerita yang menggambarkan seseorang yang sudah membunuh seratus orang kemudian ia hendak bertaubat, namun ternyata sebelum bertaubat, malaikat maut telah menjemputnya. Dan  ternyata Allah mengampuni dosa-dosanya.

Setiap manusia tidak lepas dari perbuatan dosa. Namun, hanya Allah lah yang berhak menghakimi kita. Allah seadil-adilnya hakim. Keputusan terletak di tangan Allah. Bukan pada manusia. Sangat tidak bijak menghakimi para pramugari hanya dari foto-foto yang tampak. Kita semua, tidak tau amalan apa saja yang telah mereka perbuat.

Allah yang menentukan tempat yang paling sesuai untuk hamba-Nya. Di nerakakah atau surgakah? Itu semua adalah hak prerogatif Allah.

Teman, jika masih ada sedikit rasa di hatimu, hentikanlah menghakimi. Hentikanlah memuat foto-foto para awak pesawat. Apapun bentuknya. Cobalah membalikkan posisi. Seandainya kita yang kehilangan anggota keluarga dengan cara seperti itu, relakah kita jika orang lain menghakimi keluarga kita???

understanding what the other person going through 
and being there....


Rabu, 02 Mei 2012

PENTING GA PENTING

Sebuah tulisan di jejaring sosial facebook, menarik perhatian saya. Makna dari tulisan itu, adalah, haram hukumnya memajang foto wanita (apalagi yang sudah bersuami) di facebook. Menurut si penulis, cukuplah wajah cantik itu dinikmati oleh pasangan atau keluarga saja. Pada bagian bawah, tertulis, dari suami yang sangat pencemburu namun sangat sayang istri.

Satu sisi si pembuat tulisan, mungkin maksudnya baik. Memang bagi wanita yang sudah bersuami, sayang rasanya jika wajahnya dinikmati oleh para lelaki yang bukan muhrimnya. Selain itu, mungkin juga tujuannya untuk mengingatkan beberapa wanita yang memang kadang agak keblabasan dalam memajang fotonya di jejaring sosial.

Banyak memang foto-foto wanita, yang cenderung dipajang untuk mengagumi kecantikannya. Alih-alih bersyukur, malah menjadi pamer kecantikan. Nah, hal inilah yang dilarang. Foto-foto yang hanya menampilkan dirinya sendiri, dengan berbagai pose dan bebas di nikmati oleh banyak mata lelaki, tentu saja tidak disarankan.

Namun, pelarangan ini tentulah tidak bisa dipukul rata. Contohnya, foto menteri perempuan. Apakah foto ibu menteri tidak boleh dipasang? Apa akibatnya jika foto ibu menteri tidak dipasang? Apakah orang akan mengenalinya atau tidak? Foto ibu menteri sifatnya adalah pemberitahuan. Dengan dipasangnya foto tersebut, maka sebagian besar orang akan mengenalinya.

Juga, bagaimana dengan foto orang-orang terkenal? Apakah tidak boleh juga? Foto orang-orang terkenal, jika posenya tidak melanggar yang sudah ditentukan Allah, kenapa tidak? Contohnya, foto penulis terkenal Helvy Tiana Rosa. Apa yang terjadi ketika mba Helvy tidak mau memajang fotonya? Akankah orang mengenalinya? Jika mba Helvy mengadakan suatu acara dan panitianya tidak mengenalnya karena tidak pernah bertemu dan tidak pernah melihat fotonya, apakah hal itu juga dilarang???

Atau, suatu yayasan yang bergerak dibidang sosial. Menampung sumbangan-sumbangan para donatur. Kemudian sumbangan itu disalurkan kembali. Jika yang empunya yayasan adalah seorang wanita, apakah ia juga tidak boleh memajang fotonya? Sedangkan, misalnya, ada seorang donatur yang ingin mengetahui kemana uang sumbangannya, dengan melihat dokumentasi foto-fotonya. Apakah hal ini tidak boleh?

Jadi, menurut pendapat saya, memajang foto di jejaring sosial, sepanjang niatnya memang untuk kebaikan dan pemberitahuan, mengapa tidak?

Suatu larangan, hendaklah dilihat dari berbagai sisi. Bukan satu sisi saja. Dan, masih banyak hal-hal yang lebih penting dari "sekedar" mengurusi foto-foto wanita. Mungkin juga cara pemberitahuan harus lebih ahsan.  Seperti yang dikatakan Allah "watawashaubilhaq watawashaubisshabr", mengingatkan dengan kebaikan dan mengingatkan dengan kesabaran.

Sabar dan lembut dalam memberitahu kebenaran. Itu lebih mengena, dari pada bersikap frontal dan cenderung mempermalukan.

Yah, anyway, ga penting untuk mengupload foto-foto narsis yang akan mendatangkan fitnah dan pujian. Tapi penting untuk mengupload foto-foto yang memang ditujukan untuk gerakan-gerakan sosial.

Itu pendapat saya pribadi :) 




Selasa, 24 April 2012

Wawancara dengan Pizaro, penulis novel "The Brain Charger"

Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, seorang pemuda asli Minang, yang lahir dan besar di Jakarta. Menamatkan sarjananya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Islamic Conselling. Selain menjabat sebagai redaktur eramuslim.com, Pizaro juga aktif sebagai pembicara di berbagai seminar dan diskusi dunia Islam. Tulisan-tulisan Pizaro tentang dunia Islam, telah tersebar di berbagai media.

Baru-baru ini, Pizaro meluncurkan novel terbarunya yang berjudul "The Brain Charger" (TBC). Novel ini berangkat dari kegelisahan Pizaro pada pemikiran liberal yang berkembang pesat di masyarakat. Selain itu juga, sebagai bentuk tanggung jawab Pizaro pada almamaternya. Menurutnya, pemahaman liberal saat ini sudah menyebar luas dan sistematis.

Berikut wawancara dengan Pizaro, tentang novel terbarunya ;

Novel terbaru ustad, apa latar belakangnya?

Jadi novel ini sebenarnya berangkat dari kegelisahan saya melihat liberalisme yang terjadi di banyak kampus Islam. Saya sendiri adalah alumnus salah satu kampus Islam yang melihat liberalisme yang terjadi sudah pada tahapan sistemik. Dari mulai rektor, dosen, mahasiswa semuanya terjebak pada pemahaman liberalisme yang banyak merugikan Islam itu sendiri dan masyarakat kampus pada umumnya. 

Dari situlah saya berangkat untuk menulis kisah fiksi yang semula berawal dari sebuah cerpen dan novelet yang saya buat mengenai seorang mahasiswi cerdas, cantik, tapi neurosis dan tidak bahagia. Hal itu terjadi karena ia salah mendudukkan ilmu.  

Respon dari cerpen dan novelet itu cukup banyak. Bahkan beberapa Ustadz yang concern melawan liberalisme meminta saya meneruskan kisah ini menjadi novel. Akhirnya saya mulai menulis Novel The Brain Charger (TBC). Prosesnya juga tidak mudah saya melakukan riset dan kembali membuka beberapa buku kuliah yang menjadi pegangan waktu itu. Karena saya ingin novel ini berbeda dan memiliki mutu tidak kalah dari novel liberal.


          Tujuannya apa?
Selama beberapa bulan, saya pernah bergelut menjadi konselor di sebuah Rumah Sakit jiwa di Jakarta. Disitu saya menangani beberapa saudara-saudara kita yang menderita skizofrenia, neurosis, dan fobia. Tidak sedikit pasien mengalami sekat traumatis mendalam akibat masa lalunya. 

Sebagai seorang mahasiswa idealis, saya berangkat dengan menerapkan ilmu Psikologi Barat yang sebelumnya saya pelajari bahkan geluti. Hasilnya ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Metodelogi Barat yang saya pakai ternyata tidak banyak merubah pasien menjadi lebih baik. 

Menariknya ketika saya memakai metode Islam dengan hal-hal yang sederhana seperti taddabur Qur’an, Shalat Dhuha, dan dzikir kepada Allah ternyata perkembangan psikologis pasien beranjak kepada peningkatan posisitif.

Jadi jika ditanya apa tujuan dibalik penulisan TBC, maka jawabannya adalah      penyadaran. Menyadarkan bahwa Islam memiliki konsep tersendiri dalam mewujudkan kebahagiaan. Karena Islam tidak memisahkan Ilmu dengan Iman.
          
Mengapa memilih tema yang "kurang populer", mengapa tidak memilih tema percintaan misalnya?

Saya ingat sekali dalam menulis, ada sebuah diktum yang berbunyi: Tulislah apa yang memang kamu ingin tulis. Jadi ketika kita bingung ingin menulis, maka mulailah dengan menulis tema yang memang kita senangi dan kuasai.

Sasaran usia pembaca, kira2 untuk kisaran umur berapa?

Ada kisah menarik saat pergelaran Islamic Book Fair yang baru-baru ini berlangsung di Jakarta. Ketika itu, penjaga stand sempat bilang kepada saya bahwa novel saya banyak diminati siswa SMA. Padahal segmentasi novel ini lebih saya tujukan untuk kalangan kampus. Dari situ saya berkesimpulan novel ini bisa dibaca siapa saja mulai remaja hingga dewasa.

Sampai saat ini, sejauh mana tanggapan masyarakat ?

Alhamdulillah responnya cukup baik. Saya kerap mendapatkan pesan berupa sms, inbox FB, chat yang mengapresiasi novel ini. Mereka beranggapan novel ini mewakili kegelisahan mereka juga terhadap fenomena liberalisme ditambah adegan novel ini yang dibumbui setting thriller dan kebanggaan terhadap peradaban Islam hingga pembaca tidak bosan. Mereka ingin TBC difilmkan, saya hanya menyerahkan kepada Allah saja bagaimana baiknya. Novel ini terbit saja, saya sudah bersyukur.

Penjualan di Islamic Book Fair juga alhamdulillah. Bahkan menjadi novel paling laris di penerbit. Saya juga cukup surprise, karena novel ini belum sempat dilaunching di masyarakat.

Isi ceritanya sendiri sebenarnya bagaimana?

Secara garis besar, Novel TBC mengisahkan pergulatan seorang perempuan yang sempurna dalam berbagai hal namun memiliki satu kekurangan yang bisa meruntuhkan semua kelebihannya, yakni ingkar terhadap Tuhan. Uniknya, ia menganggap bentuk pemisahan diri terhadap Tuhan adalah jalan meraih kebahagiaan. Cara berfikir seperti ini tentu menjadi kontroversi di sebuah kampus yang menjunjung agama sebagai nilai tertinggi. Ia kemudian berhadapan dengan seorang pemuda yang memang sudah meniatkan diri untuk mengangkat kejayaan ilmu-ilmu Islam. Mereka akhirnya bertemu di satu kelas. Si perempuan ini menjadi dosennya, dan pemuda itu adalah mahasiswanya.

Ada berapa tokoh dalam novel ini dan bagaimana peran mereka masing-masing?

Tokoh utamanya ada tiga. Pertama adalah tokoh antagonis bernama Annisatu Lexa Meteorika. Dia mahasiswi cerdas, cantik, dan hebat. Baru semester 7 sudah menjadi asisten dosen dan mahasiswa terbaik dua tahun berturut-turut. Sayangnya, dia tidak percaya Tuhan. Baginya Tuhan adalah ilusi. Seperti perkataan Sigmund Freud dan Ludwig Feurbach, Tuhan hanyalah hasil imajinasi manusia. Sayangnya dengan pemahaman seperti itu, Annisa berharap bisa hidup bahagia, namun kenyataannya adalah ia tetap tidak bisa keluar dari ujian neurosis yang melandanya.

Kedua tokoh protagonis beranama Muhammad Rizki Ramadhan. Rizki lebih mewakili tipikal mahasiswa yang hanif tapi gila ilmu. Kemiskinan tidak membuatnya pantang surut meraih impian untuk mengangkat kejayaan ilmu-ilmu Islam. Sebagai pemuda desa, Rizki tidak silau melihat peradaban Barat. Karena ia sadar dibalik kemajuannya, Barat sangatlah rapuh. Rizki inilah yang nanti banyak bersentuhan dalam debat-debat bersama sang dosennya yang tidak lain adalah Annisa.

Ketiga, seorang mahasiswi bernama Arisiska Lenila Wahid. Tokoh terakhir juga protagonist yang memiliki pemahaman kajian perbandingan agama yang cukup mendalam. Ia meneliti berbagai kode mutilasi yang menyimpan sekat agama-agama kuno dalam sebuah kasus pembunuhan di kampusnya. Arisiska inilah yang membantu Rizki dalam memecahkan kasus-kasus kejiwaan. Kasus kejiwaan yang lahir dalam penghayatan terhadap pengkajian atheisme di sebuah perguruan tinggi. Selebihnya ada juga tokoh-tokoh pendukung seperti Farel, Arif, Poltak, yang ketiganya memiliki cita-cita membangun peradaban Islam.

Tema besarnya apa?

Tema besarnya sebenarnya Psikologi. Tapi psikologi saya jadikan kasus untuk membicarakan wacana kritik terhadap liberalisme dan atheisme.

Akankah novel ini ada triloginya?

Banyak yang bilang ke saya, “Kenapa novelnya tipis?” Jujur saja, masyarakat Indonesia belum biasa membaca novel yang terlalu berat dan panjang. Karena itu saya buat novel ini singkat, padat, dan jelas. Dengan alur thriller yang membuat pembaca nyaman menikmatinya. Rata-rata-rata pembaca menghabiskan novel saya dalam sehari. Saya sempat surprise. Dari situ tidak sedikit pembaca minta dibuat kelanjutannya. Tapi TBC memang saya buat habis saat itu saja. Mungkin saya akan membuat novel kembali namun dengan judul yang berbeda.

Sebagai seorang wartawan, menurut ustad, apakah novel ini sedikit banyak terpengaruh oleh pengalaman ustad di lapangan?

Tidak, karena proses membuat novel ini saya mulai sebelum menjadi wartawan. Akan tetapi gaya menulis yang baik memang banyak saya dapati ketika menjadi wartawan. Itu membantu saya untuk membuat tulisan yang enak dibaca.

Mengapa ustad memilih menulis novel, ketimbang menulis buku kajian, tentang liberal misalnya?

Saya ingat sekali Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dalam launching INSISTS ke 9 bilang bahwa jalur melawan penulisan liberalisme pemikran Islam bisa ditempuh dalam dua cara. Pertama non fiksi, kedua fiksi. Saya merasa yang kedua ini masih jarang digeluti. Padahal novel-novel Liberal menjamur dimana-dimana, katakanlah Perempuan Berkalung Sorban atau Pelangi Melbourne.

Kemudian, saya memang orang yang suka menulis genre fiksi, baik itu cerpen maupun novelet. Jiwa sastra saya betul-betul tertantang disitu.Dengan menulis novel kita dapat menyalurkan ide-ide dalam bentuk sastra yang enak dibaca dan ditulis serta bermanfaat bagi orang lain.