Tampilkan postingan dengan label berita GPR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita GPR. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013

SELAMAT JALAN BLEKIS


Seorang anak muda menghampiri saya. Tanpa basa basi ia langsung bertanya, “Bunda, boleh ngobrol berdua?”

Sejak itulah saya dekat dengannya. Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria Tangerang, ia biasa dipanggil Blekis. Tidak mudah mendekati anak Lapas dengan kasus yang berat seperti Blekis. Rata-rata mereka menutup diri. GPR sendiri butuh waktu tiga bulan lebih untuk bisa mengambil hati mereka.

Bercerita tentang kasus yang dilakukannya, sungguh membuat hati pilu. Sering saat saya ngobrol dengannya, tidak menyangka jika Blekis dapat melakukan kejahatan itu. Tapi, yang lalu biarlah berlalu, nasi sudah menjadi bubur.

Blekis dan anak Lapas lainnya memang sudah melakukan kejahatan. Setiap manusia pernah melakukan dosa. Tidak ada manusia yang suci. Namun, jangan terlalu lama tenggelam dalam dosa. Sekarang saatnya bertaubat dan bangkit. Hal itu pula yang sering GPR katakan pada Blekis dan teman-temannya.

Blekis memang menunjukkan kemauan untuk berubah. Setiap saya dan teman-teman GPR berkunjung, Blekis selalu mendekati dan bertanya tentang banyak hal. Yang paling sering ditanyakan adalah bagaimana cara bertaubat dan apakah taubatnya diterima oleh Allah...

Saat akhir tahun 2012, GPR memutar film “Mama Cake”. Blekis sangat tertarik dan duduk paling depan. Walau ruangan di Lapas panas dan pengap, itu tidak menghalanginya untuk menonton film hingga usai.

Saat film berakhir, Blekis mendekati saya, ia berkata, “Bun, Blekis pingin belajar baca Alquran. Bunda mau ngajarin Blekis ngaji?” subhanallah... kalimat seperti ini bagaikan oase, sejuuukkk sekali. Alhamdulillah, Blekis mengutarakan keinginannya tanpa paksaan.


Blekis bertopi merah, sesaat sebelum outbond Lapas


Masih banyak perkataan Blekis yang membuat saya dan teman-teman GPR bahagia. Misalnya, “Bunda, tiap hari dong ke Lapasnya...” atau “Bunda, buka konseling di pojok curhat deh, nanti pasti Blekis kesana...”

Namun kalimat yang memotivasi kami adalah permintaannya akan rumah singgah. Blekis berkata, “Bunda, punya panti asuhan ga? Bleksi pingin ikut bunda aja. Blekis ga mau kembali kelingkungan yang lama.”

Karena keinginan Blekis juga ternyata teman-temannya yang lain, GPR berjuang untuk membuat rumah singgah khusus mantan anak Lapas. Memang tidak mudah bagi mantan Lapas untuk kembali ke lingkungannya. Banyak yang menolak, tidak jarang yang mencaci. Bahkan ada juga yang kembali ke kebiasaan lamanya seperti mabuk-mabukkan atau obat-obattan.

Sambil berjuang membangun rumah singgah, GPR juga akan mengadakan pembinaan selama enam bulan. Pembinaan ini berlangsung mulai bulan mei hingga nopember. Selain itu juga akan diadakan kelas menulis selama tiga bulan berturut-turut. Dari kelas menulis itu rencananya akan diterbitkan buku kumpulan anak Lapas.

Semua itu dilakukan dengan ide-ide dari Blekis. Saya teringat, satu minggu sebelum Blekis meninggal, saya mengingatkannya untuk ikut dalam kelas menulis dan ia menyetujuinya....
“Blekis jangan lupa ya, minggu depan ikut kelas menulis.”

“Ya bunda, Blekis pasti ikut. Bunda mau pulang ya?” Hati-hati ya bunda...”

“Iya, Blekis juga hati-hati disini, jaga diri, jaga kesehatan...”

Ternyata itulah perbincangan terakhir saya dengan Blekis.

Blekis yang mempunyai semangat besar untuk berubah. Blekis yang memberikan ide untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seru di Lapas. Dan Blekis yang selalu tersenyum menyambut kedatangan kami...


"Bunda, tolong cetakin foto ini ya, Blekis pingin pajang di kamar"


Selamat jalan Blekis, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, semoga Allah menerima taubatmu, semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu.... aamiin ya Rabbal’alamin....

Kamis, 06 Desember 2012

KENAPA LAPAS ANAK ???



Saya dan teman-teman telah terbiasa dengan pertanyaan heran dari beberapa orang yang kami temui. Misalnya saat salah satu tim GPR, Edas, bertemu seorang ibu di angkutan umum. Setelah saling melempar senyum ramah, akhirnya mereka terlibat perbincangan yang mengasyikkan. Saat Edas bercerita tentang kegiatannya di Lapas anak pria Tangerang, ibu tadi pun terkejut.

“Ngapain jauh-jauh kesana dek?”

“Kenapa Lapas anak pria?”

“Itu timnya perempuan semua? Emang ga takut?”

Yah, pertanyaan-pertanyaan diatas memang sudah sangat sering kami dengar. Begitupun ketika kami bercerita pada ormas-ormas atau yayasan-yayasan yang mempunyai tujuan sama dengan kami. Ekspresi mereka satu : HERAN...
Yah, sampai sekarang pun kami juga heran, kenapa kami bahagia sekali ketika bertemu anak Lapas?

Saat melihat senyum tulus mereka, melihat tawa mereka, mendengar kisah mereka, ada rasa yang tidak bisa kami ceritakan. Lebih dari rasa bahagia.
Bulan Desember ini, memasuki bulan ke sepuluh kami mengadakan kegiatan di Lapas anak pria Tangerang. Waktu yang masih sangat pendek dibandingkan dengan masa hukuman sebagian anak Lapas.

Saat pertama kali berkunjung, anak-anak Lapas masih memandang kami kaku. Senyum dan sapa sekedarnya. Kami pun bingung, harus memulai dari mana. Jujur, saat pertama kali mendengar beberapa kisah mereka, kami menangis. Kami berpikir, kok bisa ya, anak usia segini sudah menjalankan hidup sedemikian berat.

Kunjungan – kunjungan berikutnya, alhamdulillah berjalan lancar. Dari cerita mereka, kami jadi tau, bahwa sebagian besar mereka beragama Islam, namun kegiatan Islami sangat jarang. Beda sekali dengan kegiatan agama lain. Dalam sehari, sampai beberapakali kegiatan.

Tentu kenyataan ini membuat hati kami terbakar. Dari -+250 anak, 95% agama mereka adalah Islam. Namun, kegiatan Islami bisa dihitung dengan jari.

Memang sudah banyak LSM atau yayasan atau ormas yang mengadakan kegiatan di Lapas, tapi usianya singkat. Tidak sampai setahun. Hanya bertahan beberapa bulan saja. Dari informasi yang kami terima, alasan mereka tidak melanjutkan kegiatan di Lapas, karena kurangnya SDM dan dana.
Berbanding terbalik 180 derajat. Kegiatan agama lain, berlimpah dana dan tenaga. Bahkan sampai “luber”. Terbukti dengan banyaknya lembaga keagamaan yang mengadakan kerjasama dengan Lapas.

Selain itu, berinteraksi dengan anak Lapas itu “sesuatu banget” bagi kami.
Bisa dekat dengan anak Lapas, itu sebuah keistimewaan dan kebahagiaan yang ga ada bandingannya. Seperti yang terjadi pada salah satu aktivis #IndonesiaTanpaJil yaitu Fadly.

Hari itu kami dan Fadly mengadakan kunjungan rutin ke Lapas. Salah satu anak Lapas yang terkena kasus teroris (sebut saja Baba), terlibat pembicaraan seru dengan Fadly. Kami melihat hal itu seperti barang mahal nan mewah.

Bagaimana tidak, selama berbulan-bulan mengadakan kegiatan di Lapas, jarang sekali Baba mau bergabung dengan kami. Jangankan bergabung, sekedar menyapa saja sangat jarang. Bisa dihitung dengan jari.

Tapi ketika bertemu Fadly, subhanallah... mereka mengobrol asyik sekali, sampai-sampai Fadly lupa pulang. Saat ingin pulang pun, Baba masih mengejar Fadly sampai ke gerbang depan dan lagi-lagi mengobrol, dengan bahasa Arab pula. Subhnallah...

Dan, melihat Baba yang selama ini sikapnya dingin kemudian berubah ramah, itu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga bagi kami. Rasanya bahagiaaaa sekali.

Lain Baba, lain pula Fanfan (sebut saja begitu). Usianya baru 16 tahun. Dihukum karena kasus pembunuhan. Fanfan cukup fasih berbahasa Arab, bacaan Al-quran nya pun indah. Hukuman yang harus Fanfan jalani adalah tujuh tahun. Fanfan berada di Lapas mulai tahun 2011, artinya, jika tidak ada halangan, Fanfan baru akan menikmati dunia luar, tahun 2018. Subhanallah... waktu yang sangat panjang.

Pertama kali bertemu Fanfan saat kami akan mengadakan kegiatan di masjid Lapas. Saat itu, ketua DKM meminta tolong Fanfan untuk menyiapkan sound system. Kami pun menegur Fanfan seperti biasa.

Setelah itu, setiap kunjungan ke Lapas, kami selalu bertemu dengan Fanfan, tapi Fanfan tidak pernah mau mendekat. Hanya sekedar senyum, salam, kemudian menghilang. Tidak ada perbincangan hangat diantara kami.

Semua tim selalu berusaha keras mendekati setiap anak Lapas. Walaupun itu bukan hal yang mudah. Begitupun kami berusaha keras dengan berbagai cara untuk mendekati Fanfan. Namun, usaha berbulan-bulan mendekati Fanfan belum juga tampak.

Dan... Allah Maha Baik.... 4 Desember kemarin, saat latihan marawis, Fanfan pun menghampiri kami. Ia bercerita tentang berbagai hal. Subhanallah.... Allahuakbar... Fanfan mau mendekati kami. Ya Allah.. terima kasih...
Saat latihan marawis, Fanfan pun meminta kami untuk mengambil gambarnya. 

“Bun, foto aku dong...”

Subhanallah.... Ya Allah... jujur, kami tidak bisa berkata apapun. Bahagia yang tak terhingga. Itu yang kami rasakan.

Fanfan yang selama ini selalu menghindar. Fanfan yang selama ini hanya melempar senyum, Fanfan yang selama ini bersikap dingin dan kaku.... hari itu Allah telah membuka hatinya. Terima kasih ya Allah....

Begitulah...

Jika sampai sekarang ada yang bertanya pada kami “kenapa ke Lapas?” wallahualam... hanya Allah yang tau betapa bahagianya kami jika melihat mereka berubah menjadi lebih baik.


Minggu, 14 Oktober 2012

KERJASAMA GERAKAN PEDULI REMAJA DENGAN SLC


Dalam melaksanakan berbagai kegiatan, Gerakan Peduli Remaja mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah kerjasama dengan Smart Learning Centre (SLC).

SLC adalah sebuah lembaga training motivasi  baik untuk kalangan remaja maupun mahasiswa dan perusahaan. Lembaga ini digawangi oleh anak-anak muda yang memang concern pada masalah remaja. 

Walaupun baru berdiri tiga tahun, namun SLC telah banyak melakukan training motivasi di berbagai sekolah. Dari tingkat sekolah dasar hingga universitas.

Pada Rabu 10 Oktober, ketua GPR Suci Susanti dan bendahara GPR Lisya Marlina menyerahkan agenda kegiatan satu tahun di LembagaPemasyarakatan (Lapas)  Anak pria Tangerang. GPR mengajak SLC untuk bekerjasama dalam membuat acara-acara motivasi yang menarik bagi anak Lapas.

Pengawasan anak Lapas memang harus dilakukan berkesinambungan. Bukan hanya selama di Lapas saja, namun juga sampai mereka diluar Lapas. Dan berdasarkan pengalaman beberapa anak Lapas yang telah bebas, justru diluar lah masa-masa krusial mereka. Karena tidak semua orang mau menerima mantan narapidana di lingkungannya.

Untuk itu, GPR bersama SLC akan mengadakan pemantauan berkala berkaitan dengan mental para anak Lapas. Pemantauan ini dilakukan dalam bentuk wawancara. Baik dengan anak Lapas yang bersangkutan, ataupun dengan karyawan Lapas.

Pemantauan dilakukan saat GPR mengadakan acara setiap minggunya, serta saat GPR mengadakan konsultasi. Selain itu, pemantauan juga dilakukan melalui pengumpulan data-data anak Lapas melalui latar belakang kasus mereka, latar belakang keluarga, latar belakang dll.

Selain mengadakan pemantauan pada saat acara, GPR pun akan memanfaatkan salah satu ruang di Lapas yang biasa disebut “pojok curhat”. Di pojok curhat, anak Lapas bebas menceritakan apa saja permasalahan mereka, apa yang ada dipikiran mereka, keinginan-keinginan mereka dll. Karena sebenarnya, anak Lapas sama dengan anak-anak remaja diluar sana. Mereka hanya ingin didengar.

GPR dan SLC berharap, semua program dapat diikuti oleh anak Lapas, dan mereka dapat merasakan manfaatnya. Baik manfaat selama di Lapas maupun setelah mereka bebas.
(tim GPR)



Kunjungan Gerakan Peduli Remaja ke LP Anak Pria


Gerakan Peduli Remaja (GPR) kembali mengunjungi LembagaPemasyarakatan (Lapas) Anak Pria Tangerang. Tim GPR terdiri dari ketua, Suci Susanti, bendahara, Lisya Marlina, humas Siti Edas Nurfirdausia dan sekretaris, Nadia.

Pada kunjungan kali ini, GPR bertemu langsung dengan Kepala Lapas, Drs Budi Raharjo. Dalam silaturahim itu, GPR menyerahkan proposal kegiatan yang rencananya akan diadakan di Lapas selama satu tahun.

Kegiatan-kegiatan tersebut dibagi dalam dua jenis, yaitu kegiatan rutin yang diadakan satu kali seminggu, dan kegiatan pada hari-haribesar nasional dan keagamaan.

Budi Raharjo, menyambut antusias rencana kegiatan yang diserahkan oleh GPR. “Alhamdulillah mba, memang kita harus sering-sering mengadakan acara keIslaman. Pemuka agama lain saja, datang ke Lapas sehari tiga kali. Pendakwah Islam, masih jarang, padahal anak Lapas mayoritas beragama Islam.” Ujar Budi.

Budi menambahkan, di Lapas memang sudah ada kegiatan pesantren setiap hari Selasa dan Rabu. Namun, anak Lapas tidak semua anak Lapas ikut dalam program pesantren. Selain tidak wajib, anak Lapas juga kurang berminat karena menurut mereka, kegiatan peantren kurang menarik.

“InsyaAllah kegiatan yang kita adakan dibuat semenarik mungkin untuk anak Lapas, namun tetap mempertahankan nilai-nilai Islam,” kata Suci.

Kegiatan GPR, bukan untuk menyaingi pesantren yang sudah berjalan cukup lama, namun, untuk saling mengisi. Seperti tabligh akbar yang akan dilaksanakan bertepatan dengan tahun baru Islam, jelas Suci.

Beberapa kegiatan memang telah diadakan di dalam Lapas anak. Namun, mengingat banyaknya jumlah anak Lapas, maka tidak semua anak dapat mengikuti setiap acara yang diadakan. Karena itu, Budi sangat senang dengan ide GPR untuk memperbanyak  program keagamaan di Lapas.

Kegiatan pertama akan diawali pada Selasa 16 Oktober , dalam bentuk motivasi. Dalam kegiatan ini GPR bekerja sama dengan lembaga training dan motivasi Samrt Learning Centre yang berpusat di Bekasi.

Sebagai Kalapas, Budi berharap, kegiatan yang diadakan GPR, dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi anak lapas. Agar setelah mereka keluar dari Lapas, dapat menjalani hidup dengan baik dan tidak melakukan kesalahan yang sama.

(tim GPR)




Sabtu, 06 Oktober 2012

AGENDA GERAKAN PEDULI REMAJA


Setelah beberapa waktu tidak berkunjung ke LembagaPemasyarakatan (Lapas) Anak Pria Tangerang, insyaAllah, mulai Selasa 9 Oktober, Gerakan Peduli Remaja (GPR) akan kembali mengadakan kunjungan rutin ke Lapas.

Kegiatan terakhir GPR adalah Gema Syawal yang dilaksanakan beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri. Sebenarnya, selama jeda waktu itu, GPR melakukan konsolidasi ke berbagai pihak, serta merencanakan agenda selama satu tahun ke depan.

Karena GPR sadar betul, mengadakan berbagai kegiatan, tidak bisa sendiri. Harus bekerja sama dengan berbagai pihak yang mempunyai visi dan misi yang sama.

Jika bulan-bulan kemarin, GPR hanya sanggup mengadakan kunjungan ke Lapas dua minggu sekali, maka insyaAllah mulai bulan Oktober ini, dengan bantuan berbagai pihak, GPR dapat berjumpa dengan anak-anak Lapas setiap minggu.

Sebenarnya setiap minggu pun masih belum cukup untuk memantau kondisi mereka, dibanding dengan “tetangga sebelah” yang sanggup mengadakan kunjungan setiap hari. Namun, insyaAllah, walau seminggu sekali, GPR akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak Lapas.

Apa yang dilakukan pada anak-anak Lapas, haruslah berkesinambungan. Selain bimbingan selama mereka mendekam di Lapas, yang terpenting adalah membimbing mereka saat keluar dari Lapas.

Karena tidak semua keluarga mau menerima kembali anaknya. Masyarakat sekitar pun rata-rata memandang miring mantan narapidana. Dan ini bukan hal mudah bagi para anak mantan Lapas, yang jiwanya masih labil.

Selain mengadakan kunjungan rutin setiap minggunya, insyaAllah GPR pun sudah mengagendakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hari-hari besar nasional. Seperti yang akan dilaksanakan GPR pada akhir tahun ini.

InsyaAllah pada bulan Desember, GPR akan mengadakan kegiatan di Lapas selama satu minggu penuh. Ada beberapa hari besar yang dijadikan tema oleh GPR, diantaranya, hari AIDS dan hari Ibu.

Pada hari AIDS, GPR akan mengadakan kerjasama dengan BadanNarkotika Nasional untuk memberikan penyuluhan pada anak-anak Lapas. Pada hari Ibu, insyaAllah GPR akan mengadakan pemutaran film untuk menghibur mereka.

Semoga semua kegiatan yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik.

Semoga Allah swt selalu meridhoi langkah kecil ini dan selalu membimbing agar GPR istiqomah.Semoga dengan bantuan banyak pihak, agenda GPR baik di Lapas maupun untuk remaja umumnya, dapat terwujud dan terlaksana dengan baik.



Selasa, 18 September 2012

ROADSHOW GERAKAN PEDULI REMAJA BERSAMA BUNDA PIPIET SENJA



Pondok Pesantren Attaqwa. Didirikan oleh pahlawan Bekasi, KH Noer Alie. Ponpes ini terletak di daerah Ujung Harapan Bekasi. Nadia, salah satu tim GPR yang merupakan alumni dari Ponpes ini, mengajak GPR untuk silaturahim dengan santriwati disana.

Bekerjasama dengan bunda Pipiet Senja, tanggal 14 September, tim GPR mendatangi Ponpes tersebut. Selain Nadia, bunda Pipiet pun ternyata pernah berkunjung ke Ponpes ini. saat itu launching buku anak kedua dari bunda Pipiet. Tepatnya tahun 2003. Subhanallah ... waktu yang cukup lama untuk kembali bersilaturahim

Perjalanan menuju Ponpes, tidaklah mudah. Karena, selain Nadia, tidak ada satupun dari tim GPR yang pernah berkunjung kesana. Bunda Pipiet pun ternyata sudah lupa jalan menuju Ponpes.

Tim GPR berangkat dari tempat masing-masing, karena memang sebelumnya ada acara yang berbeda. Saya dan bunda Pipiet berangkat dari kantor penerbit Zikrul Hakim di daerah Rawamangun, kak Edas berangkat dari Tambun, kak Lisya berangkat dari Kalibata Jakarta Selatan, sedangkan Nadia yang rumahnya tak jauh dari Ponpes, telah tiba di Ponpes lebih dulu.

Karena berangkat dari tempat yang berbeda, kamipun cukup intens dalam ber sms ria. Saya dan bunda Pipiet memutuskan naik taksi, karena membawa cukup banyak buku dari Zikrul Hakim. Alhamdulillah, sopir taksi mengetahui daerah Bekasi, jadi kami hanya memberi tau patokan jalannya saja.

Dari Rawamangun, kami melewati terminal Pulogadung. Subhanallah, terminal yang biasanya ramai dan cenderung macet, hari itu lancar, hanya sepuluh menit saja kami butuhkan untuk melewati terminal Pulogadung.

Taksi pun dengan tenang melaju menuju kawasan Aqua Bekasi. Dari sinilah jalan mulai tersendat. Selain jalan yang menyempit, volume kendaraan yang cukup padat, angkutan umum yang berhenti sembarangan, serta jalanan yang berlubang, merupakan hambatan utama kami.

Bunda Pipiet sampai berkata seperti ini ,”saya kira hanya Citayam yang parah jalanannya, ternyata disini lebih parah.” Bunda Pipiet berkata seperti itu sambil tangannya erat memegang pinggiran pintu taksi. Saya pun tersenyum, setuju dengan perkataan bunda Pipiet.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, supir taksi kebingungan. Ternyata, petunjuk jalan yang saya dapat dari Nadia, membingungkan pak supir. Setelah bolak balik tiga kali, kami pun memutuskan untuk menyewa jasa ojek.

Alhamdulillah, tukang ojek mengetahui Ponpes yang kami tuju. Dengan cermat, sopir taksi mengikuti jalan tukang ojek.

Ternyata, Ponpes ini lumayan jauh dari jalan utama. Dan untuk mencapainya, tidak ada angkutan umum. Yang ada hanya ojek dan becak.

Saat memasuki kawasan pesantren, serempak kami bertiga (bunda Pipiet, saya dan sopir taksi) berdecak kagum dan reflek menyebut asma Allah. Subhanallah.... di depan kami sebuah masjid besar dengan gagahnya berdiri.

Kubahnya berwarna hijau, tiang-tiang penyangga begitu besar mengelilingi masjid. Begitu besarnya sampai saya tak percaya. Subhanallah... ada masjid sebesar ini di “pedalaman” Bekasi. Bahkan masjid Al-Barkah yang ada di pusat kota Bekasi pun, kalah besar dibanding masjid ini. halaman masjid pun sangat luas, dapat menampung ratusan kendaraan, baik motor ataupun mobil.

Di depan masjid, terdapat lapangan yang juga tak kalah luasnya. Beberapa pohon besar tegak berdiri. Akar-akar pohon yang menjalar, menandakan pohon-pohon tersebut sudah cukup tua. Mungkin hal inilah yang membuat suasana masjid begitu sejuk.

Dari kejauhan terlihat jamaah yang shalat, memenuhi masjid, hingga ke tangga luar. Subhanallah... pemandangan yang sangat jarang saya jumpai.

Belum habis kekaguman saya pada masjid utama Ponpes ini, mata saya kembali terbelalak oleh luasnya wilayah Ponpes. Setelah melewati masjid, kami melewati asrama putra. Beberapa bangunan dalam tahap pengembangan, namun juga ada beberapa bangunan lama yang tetap kokoh. Dari banyaknya bangunan asrama putra, kemungkinan jumlah santri hampir 1000 orang. Subhanallah...

Tak jauh dari Ponpes pria, -+ 200m, kami pun tiba di Ponpes putri. Alhamdulillah, sampai juga, ucap saya dan bunda Pipiet. Sopir taksi yang sejak tadi pun terkagum-kagum dengan Ponpes ini berkata,”seumur-umur saya nyupir bu, baru kali ini ke daerah sini.” Hehehe... saya dan bunda Pipiet pun tertawa. Apalagi saya, ucap saya dalam hati.

Kami pun turun dari taksi. Saya perhatikan sekeliling. Subhanallah. Berbagai bangunan melengkapi keberadaan pesantren ini. mulai dari klinik, pendidikan anak usia dini, dan beberapa bangunan lain yang jumlahnya cukup banyak.

Saat saya mengamati lingkungan sekitar, mata saya tertegun pada sebuah pemandangan, yang bagi saya, itu adalah pemandangan “mahal” dan sangat jarang terjadi.

Beberapa santriwati melintas di depan kami dengan menggunakan sepeda. Dengan berseragam Ponpes, mereka ngobrol sambil terus mengayuh sepeda. Sesekali jilbab lebar mereka ditiup angin. Subhanallah... Mungkin, jika pemandangan ini saya alami di sebuah kota kecil, itu wajar. Tapi pemandangan itu saya alami di Bekasi. Sebuah kota yang letaknya sangat dekat dengan ibukota Jakarta. Subhanallah... bagi saya, itu adalah hal yang sangat jarang terjadi.

Saya berkali-kali berdecak kagum, dan berkali-kali bibir dan hati ini tak henti memuji Allah.

Setelah tim GPR lengkap, kami pun memasuki Ponpes putri. Subhanallah... Lagi-lagi, saya dibuat terkagum-kagum. Bunda Pipiet pun seperti itu. Dulu, saat pertama kali berkunjung, jumlah santriwati hanya 300an, bangunan Ponpes pun belum banyak. Tapi sekarang, jumlah santriwati hampir 1000 orang dan bangunan Ponpes semakin megah.

Walaupun cuaca Bekasi saat itu sangat panas, namun karena pepohonan di sekitar Ponpes yang besar dan rindang, kami tidak merasa kepanasan. Belum lagi melihat senyum hangat para santriwati. Subhanallah... adeeemmm banget rasanya.

Entah karena semangat para santriwati, atau rasa kangen bunda Pipiet pada santirawati, atau suasana yang sangat mendukung, acara siang itu terasa hangat. Seperti ibu bertemu dengan anaknya. Penjelasan dari saya dan bunda Pipiet selalu diselingi oleh celotehan lucu dari mereka. Subhanallah, santriwati begitu bersemangatt....

Jadwal acara yang tadinya hanya dua jam saja, molor sampai lebih dari tiga jam. Usai acara, santriwati tak henti-hentinya meminta foto bersama. Sampai bunda Pipiet berkata ,”hayuu sudah..sudah.. mau pulang jam berapa nih kita...” dan kami pun tertawa bersama.

Alhamdulillah, roadshow pertama GPR dan bunda Pipiet berjalan lancar. Semoga di sekolah-sekolah atau Ponpes lain pun lancar dan barokah.

Semoga dengan kedatangan GPR dan bunda Pipiet, akan muncul mujahid pena dari Ponpes Attaqwa. 

Semoga..... 





Kamis, 06 September 2012

SEDIKIT CERITA TENTANG ANAK LAPAS


Anak-anak lapas.... bersama mereka, selalu ada hikmah. Baru saja saya menerima sms dari mantan anak lapas. Gilang namanya, ia bercerita pada saya, saat ini Gilang dan beberapa temannya mantan lapas, membuat gerakan yang mereka namakan “Remaja Peduli Lapas”.


Gerakan ini terbentuk begitu saja, dari obrolan sesama mantan anak lapas. Belum terbayang di benak mereka apa saja yang harus dilakukan. Namun, tujuan mereka adalah peduli pada remaja yang telah bebas dari lapas, dan bingung apa yang harus dilakukan setelahnya.

Kesalahan dipastikan ada pada setiap diri manusia. Namun, beda tingkatan dan beda pula hukuman, baik hukuman dari Allah, maupun dari orang-orang sekitar.

Anak-anak lapas, sesungguhnya merupakan pribadi-pribadi yang santun. Mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah, namun seringkali hukuman dunia lebih berat. Contoh kecil, saat mereka keluar dari lapas, sebagian besar enggan kembali ke lingkungan asal, karena cap atau stempel mantan napi begitu melekat di diri mereka.

Tidak beda jauh pada keluarga mantan anak lapas ini. beberapa orangtua pun menyarankan anaknya jika bebas, jangan lekas kembali ke rumah, sebelum berhasil.

Tapi, bagaimana mereka akan berhasil di luar sana jika ketrampilan dan pengetahuan mereka sangat terbatas. Fauzan contohnya. Mantan anak lapas asal Papua. Di Jakarta, ia tidak mempunyai siapapun, keluarga, saudara, bahkan orangtua. Ini menyebabkan ia beberapa kali keluar masuk penjara.

Kasus Fauzan adalah curanmor. Dipukuli dan digebuki adalah hal biasa baginya. Karena ia tidak tau harus kemana dan apa yang bisa dikerjakan, maka ia pun kembali melakukan hal yang sama. Terakhir bertemu, Fauzan menyatakan ingin pulang ke Papua. Kami pun sempat bingung. Belum lagi tuntas apa yang harus kami lakukan, Fauzan sudah menghilang.

Dengan Fauzan, terus terang kami mengalami dilema. Hati kecil ingin sekali menolong, namun pribadi Fauzan yang tertutup, membuat kami susah untuk mendalami sifatnya. Tapi, jika dibiarkan pun, tentu akan berbahaya. Bagaimana jika akhirnya Fauzan kalap? Tidak tau harus mengerjakan apa dan harus kemana, akhirnya sengaja melakukan tindak kejahatan dan mengharap ditangkap, kemudian masuk kembali ke lapas.

Berbeda dengan Gilang, mungkin karena kehangatan keluarga yang membuat Gilang dapat lebih percaya diri untuk melakukan banyak hal, membentuk RPLC salah satunya. Latar belakang kasus Gilang pun tidak terlalu berat. Gilang “hanya” dituduh sebagai penadah. Padahal hal itu tidak pernah ia lakukan.

Menangani Lapas anak, tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kerja bareng antar berbagai lembaga yang peduli pada nasib anak-anak negeri ini. karena penanganan permasalahan lapas anak tidak bisa dilakukan secara partial, harus berkesinambungan dan berkelanjutan.

Penanganan anak lapas, harus dilakukan sejak mereka masuk ke lapas, selama masa tahanan dan setelah bebas. Apa yang dilakukan pihak lapas selama ini, sudah cukup baik. Misalnya, di dalam lapas ada sekolah dengan paket A, B, C. Ada juga pelatihan mengelas, marawis, bengkel dll. Namun, ketika keluar dari lapas, anak-anak itu tetap kebingungan. Harus kemana mereka?? Tidak ada tempat penyaluran pun penampungan sementara.

Hal inilah yang menyebabkan semua pihak harus begandeng tangan. Bekerja sama. Jangan sampai mereka yang telah bebas, kembali ke pergaulan lama, yang dapat mengembalikan mereka ke lapas.

Selain itu, ada baiknya kita pribadi, mulai saat ini merubah cara pandang kita terhadap anak-anak lapas. Betul mereka sudah melakukan kesalahan fatal, namun, jika mereka berniat baik dan telah melakukan taubat, bukan hak kita untuk menjatuhkan “hukuman” lagi. Terima mereka apa adanya, beri mereka motivasi, hasilnya, serahkan pada Allah....

Kamis, 10 Mei 2012

CAHAYA DARI BALIK TEMBOK PENJARA


Siang itu saya dan Lisya kembali mengunjungi LembagaPemasyarakatan (Lapas) anak pria Tangerang. Alhamdulillah, program sumbang buku masih berlanjut. Kami mendapat kiriman sepuluh Alquran dan dua puluh buku-buku Islami, baik motivasi maupun novel Islam.

Karena hari sekolah, suasana Lapas tidak terlalu ramai. Sebagian besar anak-anak, memilih beristirahat di kamar mereka, setelah seharian mengikuti kegiatan. Saat tiba di perpustakaan, kami disambut oleh ibu Margaretta, pengelola perpustakaan dan beberapa anak yang sedang merapikan buku-buku.

Sekitar jam satu siang, seluruh penghuni Lapas berkumpul di depan kamar masing-masing. Suasana menjadi ramai. Saya dan Lisya yang sedang asyik ngobrol pun penasaran. Sedang apakah mereka? Kami berdua keluar dari perpustakaan. Kami melihat anak-anak Lapas berbaris rapi didepan kamar mereka. Seorang petugas mulai menghitung. Jumlahnya harus sesuai dengan yang ada di data. Kalau tidak, berarti ada anak yang sakit atau bebas ataupun kabur (hmm....semoga tidak). Saya dan Lisya tersenyum, aahh... seperti anak sekolah ya J

Setelah absen, Alki, salah satu penghuni Lapas, menghampiri kami. Siang itu, jadwal Alki untuk latihan marawis. Kami pun tertarik untuk melihat kegiatan itu. Sambil berjalan menuju ruang marawis, Alki bercerita, hampir setiap hari mereka latihan marawis. Karena tanggal 24-25 Mei, mereka akan ikut lomba Pekan Olahraga dan Seni Lembaga Pemasyarakatan (PORSENAP) yang diadakan setiap tahunnya, dalam rangka hari Lapas Nasional.

Ruang marawis dipenuhi anak-anak yang hendak latihan. Pak Haji, adalah pengelola yang ditunjuk oleh Lapas. Pak Haji pun memberikan penjelasan pada kami. Sebenarnya, marawis sangat membutuhkan instruktur. Selama ini, instruktur berasal dari anak-anak Lapas sendiri, yang sebelumnya memang mereka telah mahir dalam marawis. InsyaAllah, semoga nanti ada sukarelawan yang bersedia membantu, jawab saya.

Pak Haji mulai memperkenalkan beberapa pemain marawis. Selain lomba marawis, juga ada lomba azan dan qiroah. Pak Haji pun memperkenalkan peserta lomba azan dan qiroah. Zainudin 18 tahun, asli Bogor, sudah beberapa kali ikut lomba azan. Mustaqim 16 tahun, asli Bima, bacaan qurannya indah kata Pak Haji, kalau mau tidur, dengerin Mustaqim ngaji, dijamin langsung terlelap, begitu kata pak Haji J

Saya dan Lisya meminta ijin pada pak Haji untuk berbincang dengan Zainuddin dan Mustaqim. Kami pun menuju mushalla yang tak jauh dari ruang marawis.

Mustaqim bercerita mengapa ia sampai di penjara. Hanya karena korek api. Ya. Korek api yang memicu bom di pesantrennya. Dan, karena korek api yang dibawa Mustaqimlah, ledakan di siang hari itu, menggoncang Bima. Saya tersenyum kecut. Usianya masih sangat muda. 16 tahun.

Saya ga tau apa isi kamar itu bun, kata Mustaqim. Ia hanya disuruh oleh gurunya untuk pergi ke warung membeli korek api. Korek api itupun dibawa Mustaqim ke kakak kelasnya. Entah bagaimana, karena sebatang korek, Bima pun terguncang. Ledakannya cukup keras.

Hati saya ciut. Saya membayangkan korban yang tak bersalah, anak-anak yang tengah menghafal Alquran, atau yang sedang mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Bagaimanakah nasib mereka??? Saya ga salah bunda, kata Mustaqim. Ya, jawab saya dalam hati. Wallahualam....

Sosok Mustaqim sendiri sangat santun. Seperti kata pak Haji, bacaan qurannya subhanallah, indah sekali. Seperti murotal ustad Rosyid. Indah dan menghanyutkan. Membuat hati bergetar. Begitulah yang saya dan Lisya rasakan, saat mendengar lantunan ayat-ayat Alquran dari mulut Mustaqim.

Sebenarnya Mustaqim ingin sekali menghafal Alquran seperti kakak-kakaknya, namun, selama di Lapas, Mustaqim tidak bisa meneruskan hafalan, karena tidak ada tempat untuk menyetorkan hafalan-hafalannya. Saat ini Mustaqim sudah hafal surah Al-Baqarah (subhanallah...) dan juz 30. Saya dan Lisyapun memberinya semangat. Ayo Mustaqim, kamu pasti bisa....

Lain lagi dengan kisah peserta lomba azan. Zainuddin 18 tahun. Kasus pembunuhan. Duuhh... melihat perawakannya, tidak terbersit sedikitpun di benak saya, bahwa seorang santun seperti Zainuddin tega membunuh.

Tapi, begitulah kenyataannya. Ia “tak sengaja” membunuh karena tawuran. Sekolah Zainuddin, memang terkenal sebagai sekolah tawuran. Walaupun Zainuddin tidak ada niat untuk ikut tawuran, namun terkadang suasanalah yang membawanya untuk mau tidak mau harus ikut “bertempur”.

Saat pulang sekolah, Zainuddin menaiki angkutan umum menuju rumahnya. Ia duduk di depan, disebelah sopir. Dari kejauhan, Zainuddin melihat gerombolan musuh sekolahnya. Ia pun memutuskan untuk pindah duduk ke belakang. Namun, tanpa diduga, saat pindah ke belakang itulah ia kepergok oleh beberapa musuhnya yang ternyata ada di bagian belakang .

Mereka pun meneriaki Zainuddin. Sontak Zainuddin lari, turun dari angkutan. Kejar mengejar pun tak terelakkan. Beberapa teman Zainuddin pun ikut membantu menghalau. Sebagian dari mereka membawa senjata tajam. Samurai, clurit, golok dll. Zainuddin sendiri diberikan (maaf) pisau babi (begitu ia menyebutnya).

Bunda tau pisau daging? Tanya Zainuddin. Saya mengangguk. Nah, pisau daging itu kan lebar tapi pendek.  Kalau pisau babi itu juga lebar, cuma lebih panjang. Deg. Jantung saya terhenti. Saya terpaksa tersenyum. Saya dan Lisya saling pandang.

Dan, setan pun menguasai pikiran Zainuddin. Musuh Zainuddin pun terkapar di jalan. Perutnya sobek. Nyawanya tak tertolong saat dibawa ke rumah sakit terdekat. Wajah saya terasa memanas. Saya membuang muka. Memandang anak-anak Lapas yang tengah sibuk mengerjakan ketrampilan las.

Zainuddin hanya bisa menyesal. Satu hal yang ingin sekali ia lakukan kelak jika telah keluar dari Lapas, yaitu membahagiakan kedua orang tuanya. Untuk menebus rasa bersalahnya, Zainuddin menyibukkan diri di mushalla dan membantu pegawai Lapas di bagian tata usaha. Sama seperti Mustaqim, bacaan Alquran Zainuddin pun subhanallah.... indah sangat...

Allah.... anak-anak ini. Sebagian mereka menemukan cahaya justru saat berada di penjara. Cahaya itu yang mereka jaga untuk menerangi hati mereka yang dilanda mendung tak berkesudahan. Cahaya yang mereka harap terus berpenjar. Tak redup oleh pekatnya pergaulan. Tak jua hilang oleh ajakan-ajakan yang menghancurkan.

Allah.... anak-anak ini berharap cahaya itu akan membuat mereka semakin dekat dengan-Mu. Berharap dengan setitik cahaya, Engkau akan mengampuni dosa-dosa mereka. Cahaya yang membawa mereka pada taubatan nasuha. Mereka sangat ingin menjaga agar cahaya itu tetap ada dalam hati-hati mereka.

Allah... penjara ini, selalu ada cerita mengharu biru disini. Di tempat ini, mereka begitu mendamba-Mu ya Allah...

Ya Allah... ampuni dosa-dosa mereka.... ampuni ya Allah.....

#kembali, menangisku disini..... L


Sabtu, 31 Maret 2012

SOSIALISASI GERAKAN PEDULI REMAJA DI RADIO DAKTA 107FM BEKASI


Tumben judulnya panjang amat hehe… J

Alhamdulillah, walau baru dihubungi Jumat malam, acara on air sosialisasi gerakan peduli remaja Sabtu siang ini berjalan tanpa hambatan. Pukul dua lebih sepuluh menit, acara on air pun dimulai. Tim gerakan peduli remaja smart teen smart love (STSL) terdiri dari bunda Suci (ketua), kak Lisya (bendahara) dan kak Edas (humas).

Cerita dimulai dari latar belakang terbentuknya gerakan ini. Seperti yang telah diketahui bersama, gerakan ini terbentuk atas dasar keprihatinan yang mendalam terhadap perkembangan remaja akhir-akhir ini. Salah satu yang sangat meresahkan yaitu, data-data yang dihimpun dari KPAI. Tingginya tingkat pergaulan bebas, tingkat aborsi, semakin meningkatnya akses internet porno dan masih banyak lagi, yang dilakukan oleh remaja usia 13-18 tahun. Belum lagi serangan pemikiran liberal yang sangat gencar di kalangan remaja. Beberapa hal itulah yang menyebabkan gerakan ini terbentuk.

Melihat kenyataan seperti itu, tim STSL sepakat harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan akidah remaja. Jangan sampai remaja muslim semakin tenggelam dalam pergaulan bebas dan pemikiran-pemikiran yang menjauhkan mereka dari Allah swt. Misi gerakan STSL sendiri adalah, berdakwah untuk membangun karakter remaja yang Islami. Sedangkan visi dari gerakan ini adalah membentuk karakter remaja Islam berdasarkan potensinya masing-masing, melalui kegiatan-kegiatan yang terorganisir.  

Alhamdulillah, pendengar radio Dakta yang mendengar latar belakang, visi dan misi  gerakan ini pun langsung merespon. Beberapa mengirim sms dan bertanya langsung pada tim STSL. Yang menarik adalah ada seorang bapak yang ingin anak-anaknya bergabung dengan gerakan ini. Hal ini disambut dengan tangan terbuka oleh tim STSL. Alhamdulillah… semoga dapat bergabung secepatnya ya… J

Selanjutnya, tim STSL menceritakan tentang program-program terdekat. Untuk bulan April, insyaAllah akan diadakan dua agenda. Yang pertama adalah workshop menulis artikel. Workshop ini adalah lanjutan dari lomba menulis artikel remaja tentang perayaan valentine, yang diadakan bulan Februari kemarin. Beberapa orang yang mengirimkan naskahnya dipilih untuk mengikuti workshop ini yang insyaAllah akan diadakan tanggal 15 April di Bekasi. Dalam workshop ini, para peserta akan diajarkan tehnik menulis yang baik, juga akan diberitahukan kesalahan-kesalahan mereka dalam menulis artikel.

Agenda kedua bulan April adalah, kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria dan Wanita, di Tangerang. Kunjungan ini bukan sekedar kunjungan biasa. Dalam kunjungan ini, tim STSL akan memutar film motivasi adik-adik punk muslim. Seperti yang kita tau, punk identik dengan narkoba, pergaulan bebas, alcohol, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Bagaimana adik-adik punk itu dapat berubah menjadi baik,  shaleh dan dapat mandiri. Itulah yang akan diangkat tim STSL dalam film ini. Dalam pengerjaan film, tim STSL bekerja sama dengan rekan-rekan dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Selain pemutaran film, adik-adik dari punk muslim juga akan memberikan motivasi. Setelah itu, akan diadakan sumbangan buku-buku Islam. InsyaAllah acara ini akan dilaksanakan tanggal 28 April.

Respon pun kembali masuk. Kali ini bertanya tentang bagaimana caranya untuk berkontribusi dan dimanakah kantor pusat gerakan ini. Subhanallah… Alhamdulillah… memang inilah yang tim STSL harapkan, semakin banyak remaja yang peduli dengan rekan-rekannya.

Berhubung usia gerakan STSL yang masih sangat baru, maka sampai saat ini, STSL belum memiliki kantor pusat. Sementara, tim STSL mengadakan koordinasi di dua lokasi, yaitu di daerah Pondok Kelapa Kalimalang, dan di Kelapa Dua Depok. Untuk bergabung dengan gerakan ini pun sangat mudah. Tinggal menghubungi tim STSL, insyaAllah adik-adik akan diikutsertakan pada kegiatan-kegiatan STSL.

Selain bertanya tentang gerakan STSL, beberapa pendengar pun bertanya seputar masalah remaja. Salah satu pendengar, seorang remaja wanita yang tadinya bersekolah di SMP Islam, kemudian melanjutkan ke SMA Negeri. Kebiasaannya melaksanakan shalat sunnah saat di SMP, hilang begitu saja ketika ia duduk di SMA Negeri. Ini disebabkan lingkungan sekolah yang tidak membiasakan untuk melakukan shalat sunnah. Bagaimana agar kebiasaan baik itu tidak hilang, dan bagaimana mempertahankan diri di tengah lingkungan yang kurang Islami.

Subhanallah… pertanyaan yang kritis dan bikin miris…

Saat berbincang dengan adik-adik punk muslim, mereka mengatakan, bahwa pengaruh lingkungan terhadap karakter remaja adalah 75%. Jika lingkungannya baik, maka remaja pun akan baik, namun, jika lingkungannya jelek, maka remaja pun akan berperilaku jelek. Karena itu, saran dari tim STSL adalah, mencari teman yang baik, yang dapat mengajak kita untuk selalu dekat dengan Allah swt. Setelah itu, bergabunglah dengan komunitas remaja yang baik, misalnya ROHIS di sekolah. InsyaAllah, jika kita berada dalam lingkungan yang baik, maka iman kita pun akan terjaga.

Begitulah yang dapat dirangkum dari kegiatan gerakan STSL hari ini. Harapan tim STSL adalah, semoga gerakan ini dapat membentengi akidah remaja dari hal-hal yang menjauhkan mereka dari Allah swt. Semoga kegiatan-kegiatan yang diadakan, dapat diterima dan dilaksanakan dengan baik dan memberikan manfaat untuk remaja muslim. Tim STSL juga berharap doa dan dukungan dari seluruh teman, sahabat dan saudara seiman agar gerakan ini istiqomah di jalan Allah swt.



Jumat, 10 Februari 2012

SUKA - "SUKA" (DUKA) MENUJU LOMBA PENULISAN ARTIKEL VALENTINE


Bismillah....

Sesuai keputusan rapat tim STSL, hari ini, 10 Februari 2012, kami menyebarkan brosur langsung ke SMP & SMA se kab/kota Bekasi. Penyebaran brosur dimulai dari arah Kalimalang menuju Bekasi Barat.
Sekolah pertama yang kami tuju adalah SMPIT di kawasan Jaka Permai Kalimalang Bekasi. Alhamdulillah, tanggapan pihak sekolah sangat baik. Awalnya, dengan tujuan untuk meringankan tugas guru, kami ingin menempel sendiri brosur lomba, namun, karena anak-anak masih melaksanakan kegiatan belajar, jadi kami mengurungkan niat untuk menempel sendiri brosur-brosur tersebut.

Keluar dari sekolah, kami pun menuju kantin yang berjejer tepat di sebelah gedung sekolah. Alhamdulillah lagi, kami disambut hangat oleh beberapa ibu kantin. Mereka sangat ramah dan dengan senang hati mempersilakan kami untuk menempelkan sendiri brosur-brosur lomba. Beberapa ibu kantin bahkan meminta brosur dan tertarik dengan lomba menulis, malahan, seorang ibu kantin ingin sekali ikut serta. Ibu itu berkata ,”Udah mba, saya aja yang ikut, nanti atas nama anak saya, gimana?” hehe… si ibu ada-ada aja, mau bohong kok sudah info ke panitia ^____^.

Selesai dari SMPIT, kami pun melanjutkan perjalanan ke sebuah SMPN yang terletak di kawasan Perumnas 2 Bekasi. Dulu, sewaktu masih tinggal di sekitar Bekasi, seingat saya, SMPN itu bernama SMPN 5, ternyata, sekarang telah berubah menjadi SMPN 7. Wah… betul-betul saya kurang mengikuti perkembangan Bekasi :P.

Alhamdulillah, sesampainya di SMPN 7 Bekasi, kami disambut ramah oleh satpam, begitupun guru piket. Kami pun disarankan untuk menempelkan sendiri brosur-brosur tersebut. Karena bertepatan dengan pulangnya anak sekolah, maka selain menempel, kami pun membagi-bagikan brosur kepada anak-anak yang baru keluar dari sekolah. Beberapa dari mereka tertarik, namun, beberapa tidak tertarik.

Ternyata, tak jauh dari SMPN 7, terdapat LPI swasta. Tanpa buang waktu, kami pun segera memasuki sekolah tersebut. Alhamdulillah sambutan pihak sekolah dan yayasan pun baik, begitu juga murid-murid. Selain sekolah, kami juga menempel lokasi strategir disekitar sekolah, seperti warung dan tempat fotokopi.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah SMAN yang masih terletak di wilayah Perumnas 2 Bekasi.

Mengunjungi sekolah ini, membuat ingatan saya melayang berpuluh tahun yang lalu. Terakhir saya menginjakkan kaki di sekolah ini adalah tahun 1995. Itu pun untuk melakukan legalisir beberapa surat keterangan. Subhanallah, sekolah ini sudah begitu megah, jauh sekali dibanding saat saya bersekolah. Pintu gerbang depan rapat terkunci dan hanya dibuka oleh satpam. Begitu pagar terbuka, saya pun harus melewati semacam lobi, dimana beberapa siswi sedang ayik duduk mengobrol disana.

Kami berjalan menuju guru piket untuk meminta ijin. Beberapa guru pun menyarankan untuk langsung meminta ijin ke humas yang ada di dalam guru. Berjalan menuju ruang guru, saya menatap sekeliling. Subhanallah, luar biasa perubahannya. Sekolah ini seperti bangunan sekolah swasta saja J. Alhamdulillah, ternyata beberapa orang guru masih saya kenal, walaupun mereka tidak ingat dengan saya :P . pertama yang saya sapa dan saya ingat betul adalah guru fisika saya dulu, yaitu pak Purwanto. Subhanallah, beliau masih segar, masih seperti dulu, ramah dan murah senyum. Selain itu, ada juga pak Tia, walaupun saya lupa lupa ingat, tapi Alhamdulillah, beliau ingat saya. Sambil mengobrol tentang perkembangan sekolah dan perubahan saya, saya pun tetap focus pada tujuan kami, yaitu menyebarkan brosur dan berharap sekali banyak murid dari alumni saya yang ikut serta.

Sambil mengobrol, ternyata seorang guru pria lain, membaca brosur yang kami berikan. Secara tiba-tiba, beliau berbicara agak keras. “Apa ini? Ga ada nih, SMAN ini ga boleh ikut-ikut yang beginian. Apa ini? Ga ada valentine valentinan. Pokoknya ga boleh ditempel disini.” Sambil berkata seperti itu, brosur pun di lempar ke atas meja. Beberapa guru yang sedang berbicara dengan saya pun agak terkejut, namun mereka tetap tersenyum. Saya pun hanya tersenyum. Teman saya yang masih ABG, agak “dongkol” ^____^,.

Sebenarnya saya ingin member penjelasan, namun berhubung guru tersebut langsung keluar ruangan dan tidak kembali lagi, jadi saya hanya menjelaskan pada pak Pur dan pak Tia. Jika sekilas membaca kata-kata yang tertera di brosur, memang tidak ada sama sekali kata-kata melarang perayaan valentine. Itu memang disengaja oleh tim STSL. Namun, kami pun tidak mengajak, apalagi menyarankan. Mengapa tidak ada kata-kata larangan pada brosur tersebut? Karena, berdasarkan survey, remaja saat ini, semakin dilarang, mereka semakin menjadi  jadi. Justru kami ingin mengetahui, apakah semua remaja muslim telah paham jika perayaan valentine itu dilarang dan terlarang?

Sebagai orangtua dan guru, seharusnyalah kita tidak menutup mata pada kenyataan pergaulan remaja sekarang. Sebagian remaja muslim, di sekolah memang tidak merayakan. Tapi lihatlah yang dilakukan mereka diluar sekolah. Saat di mall mereka sibuk membeli pernak pernik valentine, membeli coklat berbentuk hati, membeli boneka warna pink dan sebagainya.

Merekalah tujuan sebenarnya dari lomba menulis artikel ini. Kami memang tidak focus pada remaja ROHIS, karena, tanpa dilarang pun, mereka sudah mengerti untuk tidak melakukan perayaan valentine.

Selain itu, jika saja orang kenal dengan juri lomba, pastilah semakin yakin, bahwa lomba ini sama sekali bukan bertujuan untuk merayakan. Karena juri yang dipilih oleh tim STSL adalah seorang ustad yang sangat concern pada masalah pendangkalan akidah di kalangan umat Islam.

Setiap kegiatan, pastilah ada pro dan kontra. Sebagai masukan untuk tim STSL, insyaAllah, ke depannya kami akan lebih memperhatikan lagi kata-kata yang tercantum, sehingga tidak ada miss persepsi.

“pro dan kontra dalam melakukan jalan kebenaran adalah hal yang biasa. Yang luar biasa adalah istiqomah walau badai menghantam”.


wallahualambisawab....


Rabu, 08 Februari 2012

Menuju Lomba Menulis Artikel tingkat Remaja

subhanallah.... alhamdulillah terwujud juga agenda bulan ini. 

meskipun terseok-seok (dan masih :) ), alhamdulillah, Allah mentakdirkan tim STSL untuk tetap melanjutkan rencana lomba menulis ini. awalnya, seluruh tim sepakat untuk menunda pelaksanaan, selain karena waktu yang sangat mepet, juga seluruh tim harus melaksanakan ujian akhir semester.

itulah indahnya ukhuwah yang dijalin lintas usia :P, salah satu anggota tim STSL yang paling muda, tetep keukeuh meureukeuh :D untuk melaksanakan lomba ini. akhirnya, berkejaran dengan waktu, dan melalui "rapat dunia maya", seluruh tim mencapai kata sepakat.

kalau boleh disebut misson possible deh. semua betul-betul karena pertolongan Allah semata. mulai dari "nembak" juri :D, mencari dana, sampai ngutang dulu dengan pihak percetakan :). tapi alhamdulillah, semua dijalani tim dengan bahagia. semua dianggap ringan dan betul-betul berharap kemudahan Allah swt.

tim STSL sadar, ini baru langkah awal, masih banyak langkah-langkah kecil yang akan kita jalani, dan masih banyak juga batu-batu besar yang akan menghalangi jalan kami, tapi insyaAllah, Allah akan memudahkan langkah ini dan semoga langkah kecil ini bermanfaat untuk generasi penerus.



Kamis, 19 Januari 2012

RAKER SMART TEEN

Rencana Kegiatan Smart Teen Smart Love

Alhamdulillah.... dengan kesederhanaan, RAKER 1 Smart Teen Smart Love (STSL), bisa dilaksanakan juga pada tanggal 19 Januari 2012 kemarin. Dalam raker ini, tim STSL memperinci langkah-langkah program yang harus dilakukan selama setahun ini.

Program-program kegiatan STSL, rencananya akan dikaitkan dengan hari besar nasional setiap bulannya. Ada hal yang lucu ketika kami mencari hari-hari besar nasional. Ternyata, beberapa perayaan dengan tema yang sama, dirayakan di bulan yang berbeda. Misalnya saja, hari lingkungan hidup, ada di dua bulan yang berbeda. Wah kok bisa gitu yah? ^___^

Dalam penetapan program yang akan dilaksanakan, kami mengaitkan dengan hal-hal apa yang bisa dilakukan remaja. Misalnya saja hari lingkungan hidup. Rencananya, kami akan mengajak remaja peduli lingkungan di sekitar mereka, diantaranya dengan melakukan bersih-bersih kali. Dalam pelaksanaannya, kami akan mengadakan kerjasama dengan para pecinta alam. Sebenarnya banyak hal yang bisa remaja lakukan. Namun, karena keterbatasan tenaga, maka, untuk tahun ini, dalam satu bulan, program yang akan dilakukan maksimal hanya dua saja.

Karena tim STSL terdiri dari orang-orang yang "senang bermimpi" :P, maka, ketika usulan-usulan program terlontar dari masing-masing anggota, kami sudah sibuk dengan pikiran masing-masing. Sibuk membayangkan pelaksanaannya, siapa saja yang dihubungi, apa saja yang harus dikerjakan, mulai kapan harus bekerja dan masih banyak lagi. Sering kali, karena mimpi yang sudah terlalu jauh, membuat kami saling mentertawakan mimpi masing-masing. Hehe... tak apalah, biar tambah semangat ^____^...

Harapan kami, dengan adanya program-program bulanan yang dilaksanakan, akan memberikan pengaruh yang positif pada remaja, generasi penerus bangsa ini. Tentu saja, jika seluruh remaja positif, akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang positif, yang bisa membawa negeri ini ke arah yang lebih baik lagi. Hmmm... mimpikah??? Kenapa ga?? ^___^






Sabtu, 31 Desember 2011

cerita dibalik launching STSL, bagian 2


WAKTUNYA EVALUASI ^____^

Siang itu, setelah acara makan siang bersama dengan adik-adik La Tansa, tim STSL memutuskan untuk evaluasi dari segala sisi. Hal ini tentu saja agar pada acara-acara selanjutnya, tim STSL bisa memberikan yang terbaik untuk adik-adik remaja.

Untuk menyegarkan pikiran dan refreshing sejenak, tim STSL memilih lokasi evaluasi yang tak jauh dari Puncak, yaitu telaga warna. Beberapa anggota tim belum pernah mengunjungi lokasi ini, jadi alhamdulillah, sambil menyelam minum air :D

Lokasi telaga warna tak jauh dari Puncak Pass atau tak jauh dari restorant Rindu Alam. Letaknya di dalam kebun teh, dan agak menanjak. Yang menarik, tiket masuk dibagi dua. Untuk pribumi hanya 2000 perak, sedangkan mancanegara Rp 15.000,-. Wah lumayan juga ya bedanya :).

Di dalam telaga warna, terdapat area outbond, diantaranya flying fox. Flying fox ini lumayan jauh. Kita menyeberangi telaga hingga ke ujung. Hiiiii ga deh. Ngeliatnya aja udah bikin merinding :P. Belum lagi tinggi nya juga bikin jantung mau copot deh :D.

Sarana di telaga warna cukup lengkap. Toilet juga lumayan bersih. Mushalla juga cukup luas. 

Tim STSL memilih salah satu meja dan bangku yang terbuat dari kayu, untuk melakukan evaluasi. Ternyata, saat tim sedang diskusi, tiba-tiba beberapa monyet berlarian dang bergelantungan di pohon. Atraksi monyet-monyet itu menambah ceria suasana. 


nah, ini dia tempat tim STSL melakukan diskusi

Suasana yang sejuk, diiringi gerimis dan kabut yang selalu turun, tidak membuat tim STSL mengantuk apalagi ga bersemangat. Justru suasana itulah yang membuat ide-ide tim STSL bertambah banyak. ide-ide untuk melakukan perbaikan, ide-ide perbaikan materi, perbaikan diri, dan masih banyak lagi.

Setelah kurang lebih satu jam melakukan evalusi dan melihat kembali tayangan launching, diskusi pun diakhiri. Sebenarnya masih betah banget, tapi untuk menghindari kemacetan menjelang tahun baru, maka tim memutuskan untuk pulang.

Seperti harapan-harapan sebelumnya, semoga langkah kecil ini bermanfaat untuk adik-adik penerus bangsa. Semoga pada acara-acara selanjutnya, tim STSL dapat memberikan yang lebih baik lagi untuk adik-adik semua :).

SALAM SEMANGATTT.....

Ganbatte Kudasai !!! :)