Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 September 2012

CINTA JANGAN KAU PERGI....


Cinthya membunyikan klakson mobilnya beberapa kali di depan pagar rumahnya. “Ugh, kemana saja orang rumah, kok ga ada satupun yang membukakan pagar,” gumam Cintyha dalam hati. Dibunyikan nya lagi klakson mobil agak lama. Dari dalam rumah, keluar sosok pria berjalan agak tergopoh-gopoh. Cintyha segera beranjak turun dari mobil. “Kok mas yang buka pagar, si mbok kemana?” tanya Cithya heran pada suaminya. 

“Masuklah dulu, nanti didalam aku ceritakan.” Jawab Bimo, suami Cintyha  sambil membukakan pagar. Cintyha naik kembali ke mobil, dan segera memasukkan mobilnya ke garasi rumahnya.

“Memang si mbok kemana sih mas?” tanya Cinthya lagi pada suaminya, setelah mereka berdua sama-sama duduk di meja makan. “Si mbok minta ijin pulang, anaknya sakit, ga ada yang ngurus. Ya, aku ijinkan.” Jawab Bimo.

Cinthya kaget ,”Mas ini gimana sih, kok ga bilang-bilang ke aku, kan bisa telpon mas, kalo si mbok pulang, trus yang ngurus rumah siapa, aku kan sibuk di kantor, kamu gimana sih,” kata Cinthya pada suaminya panjang lebar. “Aku tadi telpon-telpon kamu terus kok. tapi ga pernah kamu angkat. Aku telpon ke sekretarismu, katanya kamu lagi meeting, aku telpon lagi, ga diangkat lagi, trus kata sekretarismu meeting lagi.” Bimo berkata sambil berjalan ke kamar, meninggalkan Cinthya.

“Mas, aku kan belum selesai ngomong, kok kamu udah pergi sih.” Cinthya berkata sambil mengejar Bimo ke dalam kamar. “Aku cape de, nafasku sesak sejak tadi sore, karena si mbok pulang terburu-buru, dia ga sempat menyiapkan makan malam untukku. Jadi aku tadi ke warung depan sendiri. Aku mau istrahat dulu,” jawab Bimo.

Cinthya cemberut sambil memandangi suaminya. Dibiarkan suaminya berjalan masuk kamar seorang diri. Cinthya kembali duduk di kursi makan. Nafsu makannya mendadak hilang. Ia termenung. Mengingat kembali saat-saat pertama kali menikah degan Bimo. Usia mereka memang terpaut jauh, tujuh belas tahun. Waktu itu Bimo berumur tiga puluh tujuh tahun, sedangkan Cinthya baru berumur dua puluh tahun. Saat itu Cinthya sangat mengagumi sosok Bimo yang kebapaan, sangat perhatian dengan Cinthya. Walau banyak pertentangan pada keluarga masing-masing, namun mereka berdua tetap bersikukuh untuk menikah.

Saat-saat awal pernikahan, semua terasa indah bagi Cinthya, semua yang ia bayangkan tentang sosok suami ideal, ada pada Bimo. Sebagai seorang pengusahasukses, Bimo sangat mampu memenuhi semua kemauan Cynthia. Bimo juga mendukung agar Cinthya melanjutkan pendidikan hingga S2. Karir Cinthya pun bagus, dan usaha Bimo semakin berkembang.

Masalah mulai muncul saat lima tahun perkawinan, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Walau telah berusaha hingga keluar negeri. Keduanya sehat, hanya saja entah kenapa hingga tahun kelima, mereka belum juga mendapat kan anak. Cinthyapun mulai melampiaskan rasa kecewa pada pekerjaannya. Ia mulai pulang malam, sering rapat di luar kota, meninggalkan suami hingga satu minggu. Walaupun karirnya menanjak, namun waktu pertemuannya dengan Bimo semakin berkurang.

Dan puncaknya adalah di tahun pernikahan mereka yang kesepuluh. Bimo terserang penyakit gagal ginjal yang menyebabkannya harus melakukan cuci darah tiga bulan sekali. Cinthya yang sedang berada di puncak karir merasa terganggu dengan penyakit yang diderita Bimo, karena ia harus selalu ada di sisi suaminya pada saat cuci darah, sedangkan ia pun tidak bisa meninggalkan pekerjaan di kantornya.

Akhirnya ia memutuskan untuk mencari pembantu yang khusus merawat suaminya. Si mbok yang masih saudara jauh Bimo, didatangkan dari Magelang, kota kelahirannya. Si mboklah yang selama ini telaten merawat Bimo. Dari pagi saat Cynthia telah berangkat ke kantor, hingga malam hari, semua keperluan Bimo, si mbok yang mengurus. Saat ke rumah sakit untuk cuci darah pun, Bimo ditemani si mbok dan sopir Cinthya.

Karena penyakit gagal ginjal yang diderita Bimo, maka perlahan, usaha Bimo pun mengalami penurunan. Ia tak lagi bisa maksimal dalam bekerja. Banyak pekerjaan yang diselesaikan di rumah, itupun masih harus dibantu oleh beberapa karyawannya. Selain karena penyakitya, usia Bimo yang menginjak lima puluh tahun, turut mempengaruhi daya tahan fisiknya. Akhirnya, Bimo pun memutusan untuk menjual asset perusahaannya dan menginvestasikan sebagian besar uangnya.

Hal inilah yang membuat Cinthya kecewa. Ia malu dengan rekan-rekan bisnisnya. Ia malu karena suaminya tidak mempunyai usaha lagi dan hanya tinggal di rumah.

Cinthya memandang pintu kamar. Ingin rasanya masuk ke kamar untuk beristirahat, namun ketika ia ingat kembali pada Bimo, rasanya malas sekali untuk berbaring di samping suaminya itu. Cinthya kecewa, karena sejak Bimo menderita penyakit, ia seperti orang yang putus asa. Dalam pandangan Cinthya, hari-hari Bimo hanya dihabiskan untuk meratapi nasibnya. Itulah yang membuat Cinthya kecewa. Seandainya Bimo lebih semangat, lebih optimis, lebih berusaha lagi, ya seandainya….. gumam Cinthya dalam hati.

Akhirnya Cinthya masuk ke dalam kamarnya. Di tatapnya Bimo yang telah tertidur lelap. Ditatapnya obat-obat disamping tempat tidur suaminya. Ada kurang lebih lima jenis obat yang harus rutin diminum Bimo setiap harinya. Cinthya memandangi wajah Bimo lekat-lekat. Wajah yang dulu begitu gagah, badan yang dulu begitu tegap. Kini badan itu mulai menghitam, wajah Bimo pun ikut menghitam karena cuci darah yang ia lakukan. Badan Bimo saat ini kurus, kulitnya mengerut. Mas, kamu keliatan lebih tua dari usiamu, resah Cinthya dalam hati.

Perlahan, Cinthya mengusap kepala Bimo. Rambut yang dulu tebal, kini mulai rontok dan memutih. Cinthya meneteskan air matanya. Inilah pria yang dulu sangat aku cintai. Dulu…. bagaimana dengan sekarang Cinthya??.... tanya Cinthya sendiri dalam hati. Mas, kamu begitu baik padaku, selama sepuluh tahun menikah, tak sekalipun kamu membentakku, apapun mauku, kamu selalu berusaha untuk memenuhinya, kamu juga tidak pernah protes jika aku banyak menghabiskan waktu di kantor, menghabiskan waktu untuk bertemu klien, dan masih banyak lagi…. Cynthia memejamkan matanya. Ingin sekali ia memeluk Bimo seperti dulu.

Perlahan Cynthia bangkit dari sisi Bimo. Tak ingin membangunkan suaminya, Cynthia berjalan pelan menuju meja kerjanya. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. Besok aku harus memberikan presentasi terbaikku di depan klien, gumam Cynthia dalam hati.

Cinthya membuka laptopnya, meneliti beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Lampu utama kamar sengaja ia matikan, ia tak ingin Bimo terbangun. Tinggal nyala lampu meja kerja, lampu laptop dan alunan pelan instrumen yang menemaninya malam itu. Jari-jari Cynthi lincah bergerak diatas laptop. Pikirannya pun larut dalam layar di depannya.

Tanpa terasa, jam menunjukkan pukul satu dini hari.  Cinthya masih berkutat dengan data-data. Tak sadar  ia dengan kehadiran Bimo disampingnya. Bimo menepuk pelan bahunya. “Sudah shalat Isya de?” tanya Bimo. Cinthya kaget. “Belum sempat,” jawabnya sambil tetap memandang layar laptopnya. “Mas ngapain, kok malam-malam bangun?” tanya Cinthya. “Aku mau shalat tahajud de.” Jawab Bimo.

“Duuuhhh, mas kok ga istrahat aja sih, nanti kalo kecapean lagi gimana? Si mbo kan masih di kampung, belum tau pulangnya kapan, aku kan besok harus meeting, nanti kalau mas kumat bagaimana?” Kata Cinthya panjang lebar sambil matanya terus menatap layar laptop yang ada dihadapannya. Namun Bimo tak memperdulikannya. Ia tetap berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Cinthya menutup laptopnya. Pikirannya kacau, tidak bisa konsentrasi. Ia pun memutuskan untuk tidur. Besok aku tidak boleh terlambat, gumamnya dalam hati. Cinthya mendengar suara Bimo sedang berdoa, sayup-sayup Cinthya mendengar suara isak Bimo. Cinthya menutup rapat kupingnya dengan bantal. Ukh, cengeng banget sih, sakit kok diratapi, bukannya dihadapi, ketus Cinthya dalam hati.

…………………………………………………………………………………………

Sore itu Cinthya memutuskan untuk pulang lebih lebih cepat. Ia ingin istirahat di rumah. Hari ini adalah hari yang melelahkan. Pagi hari ia bertemu klien dan langsung presentasi. Siang ia meeting lagi dengan beberapa anak perusahaan untuk mempersiapkan target tahun depan. Yang terbayang di benak Cinthya hanyalah kamarnya yang nyaman dan dingin. Cinthya sudah tidak sabar.

Tiba-tiba Cinthya menghentikan mobilnya dengan mendadak. Ia bingung. Kenapa jalan menuju rumahnya ramai, ada bendera kuning. Ada tetangga yang meninggal rupanya, gumam Cinthya dalam hati. Tiba-tiba, sorang lelaki mendekati mobilnya. “Maaf, ibu Bimo yah, bisa turun sebentar bu, saya pak Irwan ketua RT ibu, saya mau bicara sebentar dengan ibu ,” kata pria itu. “Oh ya, sebentar, saya parkir mobil dulu” jawab Cinthya bingung.

“Maaf sekali lagi bu, tadi saya dan beberapa tetangga sudah mencoba menghubungi telpon ibu berkali-kali, tapi selalu sibuk, saya hubungi sekretaris ibu, katanya ibu lagi rapat dan tidak bisa diganggu.” Jelas pak RT pada Cinthya. “Iya, memang saya hari ini sibuk sekali pak, memangnya ada apa ya pak, oya, siapa tetangga kita yang meninggal pak?”tanya Cinthya.

“Silakan ibu duduk dulu,” pak RT mempersilakan Cinthya untuk duduk. “Maaf pak, sebelumnya, bukannya saya menolak untuk berbincang dengan bapak, tapi saya hari ini capek sekali, saya ingin cepat pulang dan istrahat, maaf ya pak,” jelas Cinthya sambil hendak meninggalkan pak RT. “Bu, yang meninggal suami ibu, bapak Bimo, tadi jam sebelas siang.” Cinthya kaget. Ia tak mampu berkata, ditatapnya pak RT tak percaya. Cinthya pun pingsan.

………………………………………………………………………………………………

Cinthya menatap wajah kaku suaminya. Mas Bimo. Maafkan aku mas. Aku tidak ada disampingmu. Cinthya menggenggam tangan suaminya. Dingin. Wajah Bimo seperti orang yang sedang tidur. Bibirnya menyunggingkan senyum tulus. Cinthya kembali menangis.

“Cin, ini, ada surat dari Bimo.” suara Rudi, adik Bimo mengagetkannya. Cinthya mengambil surat yang ada di tangan Rudi. “Sebaiknya dibaca nanti saja, sekarang kita urus jenazah kakak dulu.” Kata Rudi, seakan mengerti apa yang hendak Cinthya lakukan.

Sore itu, para pelayat mengantarkan Bimo ke tempat perisirahatannya yang terakhir. Diiringi rintik hujan dan angin yang semilir. Cinthya berjalan pelan di belakang jenazah Bimo. Rudi, adik iparnya sebenarnya sudah melarang Cinthya untuk ikut ke kuburan, namun Cinthya menolak, ia bersikukuh untuk ikut.

Perlahan, jenazah Bimo dimasukkan ke liang kubur, Cinthya tak kuasa menahan tangisnya. Hingga iapun kembali pingsan.
……………………………………………………………………………………………

Cinthya masih memandang  surat itu, ia menyesal atas kelakuannya akhir-akhir ini. Dibukanya kembali surat dari Bimo, dan dibacanya kembali…

“Cinthya, aku minta maaf tidak bisa lagi memberikan kebahagiaan seperti dulu. Tidak bisa lagi memberimu kebanggaan. Aku terlalu lemah menghadapi penyakit ku. Aku tau, kamu malu dengan teman-temanmu, malu dengan kondisiku yang sakit-sakitan dan tidak mempunyai usaha lagi. Cinthya, aku sangat menyayangimu, aku tidak mau menyusahkanmu. Aku akan memberikan semua milikku untukmu. Rumah ini dan beberapa investasiku, sudah aku hibahkan atas namamu. Kamu tidak usah susah-susah lagi bekerja de, tidak usah kerja sampai malam lagi, tidak usah pergi ke luar kota lagi untuk mendapatkan klien. 

Semua sudah aku urus dengan Rudi. Aku hanya ingin kita bisa seperti dulu lagi, menghabiskan waktu berdua. Berdiskusi berdua. Jalan-jalan berdua.  Tapi aku sadar, kamu pasti tidak mau de, dan aku mengerti, usiamu masih muda, masih banyak yang ingin kamu capai. Aku mengerti de. Karena itu, aku memutuskan untuk tinggal di kampung, aku sudah menghubungi si mbok, dan si mbok bersedia untuk menjagaku. Sebenarnya aku ingin pamit denganmu, tapi sulit sekali untuk menemukan waktu berbicara denganmu de, bahkan untuk sekedar  telpon pun kamu begitu sibuk. Tapi, aku mengerti de, aku sangat mengerti.

Jika surat ini kamu baca, aku sudah dalam perjalan ke kampung bersama Rudi. Jaga diri kamu ya de, sungguh, ini aku lakukan bukan karena aku tidak mencintaimu, justru aku tidak ingin merepotkanmu dengan penyakitku ini. Di dalam lemari, sudah aku siapkan surat-surat pemilikan beberapa rumah serta saham dan tabungan.  De, aku sangat berharap kamu mau menyusulku ke kampung. Kita mulai lagi hidup yang baru. Namun, jika kamu tidak mau, aku sangat memahami, aku sangat mengerti.”

Bimo yang selalu mencintai kamu, Cinthya, istriku…


Senin, 30 April 2012

KALA CINTA HARUS MEMILIH


*tulisan lama, satu tahun yang lalu*

Alkisah, ada seorang gadis bernama Cinta yang berasal dari negeri merah jambu.

Siang itu Cinta, raja dan permaisuri tengah menerima beberapa pemuda yang hendak melamar Cinta sebagai istri mereka.

Raja memanggil pemuda pertama, raja bertanya ,”Siapa namamu  wahai anak muda?”

“Nama saya materi paduka,” jawab pemuda itu

“Hmm…. apa maksud kedatanganmu kemari wahai materi?”

“Hamba ingin melamar putri paduka raja, yaitu Cinta,” jawab nya

“Aku ingin tahu, sebagai ayah, apa yang akan kau lakukan kelak, jika Cinta menerima lamaranmu?” tanya sang raja kembali

“Paduka raja yang mulia, paduka tidak perlu khawatir, hamba akan memberikan apa saja yang Cinta minta, mobil, rumah, apartemen, tabungan, pakaian yang indah, semua akan hamba penuhi. Bahkan, hamba akan membangun sebuah istana yang lebih indah dan lebih besar dari pada istana ini dan Cinta akan hamba ajak berkeliling dunia,” materi menjawab dengan panjang lebar.

“Baiklah, cukup itu saja, atau ada lagi yang ingin kau sampaikan pada Cinta?’ tanya raja kembali

“Apapun yang Cinta minta, akan saya penuhi, paduka,” jawab materi penuh keyakinan

“Baik kalau begitu, Cinta, bagaimana jawabanmu putriku?” tanya raja pada Cinta

Cinta tersenyum dan berkata ,”ayah, Cinta merasa sangat berlebihan dengan harta yang ayahanda raja miliki, Cinta adalah putri  ayah satu satunya, sudah pasti, suatu saat nanti Cinta yang akan memimpin negeri ini, dan bagi Cinta, memiliki negeri ini lebih dari cukup jika dibandingkan dengan apa yang materi tawarkan tadi. Bukan itu yang Cinta mau ayahanda….”

Sang raja mengangguk-ngangguk, dia pun berpaling kepada materi, yang saat itu menampakakkan raut kekecewaan.

“Nah, materi, kamu sudah dengar sendiri bukan, Cinta tidak memerlukan hartamu, jika itu yang engkau tawarkan. Karena itu, silakan engkau tinggalkan ruangan ini,”

Materi terdiam, kemudian ia berkata,”Baiklah baginda raja, hamba mohon ijin,” materi berjalan keluar ruangan dengan langkah lunglai dan tertunduk.

“Giliranmu anak muda, siapa namamu?” raja bertanya pada pemuda berbadan tinggi dan tegap

“Nama hamba Gagah baginda,” jawab pemuda itu

“Baiklah gagah, apa maksud kedatanganmu kemari?” tanya sang raja

“Hamba ingin melamar putri paduka yaitu Cinta, untuk menjadi istri hamba,” jawab gagah dengan senyum yang sangat menawan

“Hmm…. sebagai ayah, aku ingin tahu, apa yang akan kau berikan pada Cinta, jika ia kelak bersedia menjadi istrimu?” tanya raja

“Paduka, hamba akan memastikan keindahan Cinta di dunia ini tidak akan pudar, hamba akan selalu menjaga Cinta, agar tetap cantik, tetap indah. Hamba akan memastikan, kecantikan Cinta tak lekang oleh waktu, walaupun usia kita pasti akan bertambah, hamba akan memastikan, tidak ada yang berubah pada diri Cinta. Cinta akan tetap indah dan tidak akan termakan oleh usia.” jawab Gagah penuh kepastian dan senyum yang sangat menawan

“Baiklah, hanya itu saja, atau masih ada lagi?” tanya raja kembali

“Hamba rasa cukup paduka,” jawab gagah sambil memandangi Cinta dengan penuh keyakinan, bahwa lamarannya akan diterima.

“Baik, sekarang saatnya kita dengarkan dengar jawaban Cinta, bagaimana jawabanmu putriku?”

Cinta menatap gagah sejenak, pemuda itu membalas pandangan Cinta, kemudian Cinta memandang ayahnya dan berkata

“Ayah, hamba ragu dengan pernyataan gagah, betulkah ia dapat menjaga Cinta agar selalu terlihat cantik, walaupun Cinta telah tua kelak…….. Ayah, menjadi tua adalah sebuah kepastian, dan itu terbukti pada  diri ayah. Seberapa pun kerasnya ayah menjaga fisik, baik itu dengan olahraga, meminum vitamin, makan makanan yang sehat dan bergizi, menjaga tidur, menjaga pikiran, tetap saja, fisik ayah yang dulu dan saat ini berubah. Kening ayah tetap berkerut, kantung mata ayah telah menghitam, rambut ayah pun sudah memutih. Saat ini, gagah memang sangat menawan, namun, jika gagah mencintai Cinta hanya karena kecantikan, Cinta terpaksa harus menolak ayah, karena seperti yang tadi Cinta katakan, menjadi tua adalah sebuah kepastian. Cinta tidak ingin gagah mencintai Cinta hanya karena fisik, karena kecantikan itu tidak abadi.” jelas Cinta panjang lebar

Gagah terkejut mendengar jawaban raja.

“Nah, gagah, engkau sudah mendengar jawaban dari Cinta. Ia tidak menilai kedalaman cinta dari fisik semata, karena itu, silakan engkau tinggalkan ruangan ini.” kata raja

Gagah tertunduk lemas. Ia tak bisa berkata-kata, ia pun meninggalkan ruangan dengan langkah lunglai.

“Kamu anak muda, siapa namamu?” tanya raja pada seorang pemuda berpenampilan trendi, masa kini, sambil membawa bunga dan sebuah gitar.

“Salam sejahtera duhai raja yang memiliki negeri nan indah, rakyatnya tentram dan damai……. perkenalkan, nama hamba Gombal.” jawab pemuda itu sambil melemparkan senyum manis pada cinta.

“Baiklah gombal, apa maksud kedatanganmu kemari, wahai anak muda?”

“Wahai paduka raja yang mulia, yang terkenal di seantero negeri dengan kedermawanannya, maksud kedatangan hamba kemari adalah untuk melamar putri paduka  raja, Cinta, yang cantik jelita, elok bagai bidadari, rupawan bagai bunga, indah di pandang bak pelangi.”

“Hmm…baiklah, lalu, jika kelak Cinta menerima lamaranmu, apa yang akan kau berikan padanya?” tanya raja

“Baginda raja yang arif dan bijaksana, paduka raja  yang terhormat tidak perlu merasa khawatir, hamba akan selalu ada di sisi Cinta, kapanpun dan dimanapun. jika cinta terluka, biarlah hamba melukai diri hamba juga, jika cinta menangis sedih, biarkan hamba menanti air mata cinta sebelum air mata itu sempat membasahi pipi cinta, hamba akan membuat cinta selalu tersenyum, hamba akan membuat hari-hari cinta indah bagaikan hidup di surga, hamba tidak akan membiarkan cinta kesusahan, jika masalah datang menghadang, hamba yang pertama akan menghadapinya, hamba tidak akan membiarkan cinta tersakiti ataupun disakiti, dan jika kelak cinta mati,  hambapun akan ikut mati bersamanya……oohhh cinta, ijinkan aku untuk menjadi pendampingmu…” jawab gombal panjang lebar.

“Baiklah, jawabanmu sangat panjang, sekarang, saatnya kita mendengar jawaban Cinta, bagaimana jawabanmu nak?” tanya raja

Tiba-tiba, gombal berlutut di hadapan Cinta dan menyerahkan setangkai bunga yang sejak tadi di genggamnya, ia berkata pada Cinta “Wahai cinta, dindaku terkasih,  terimalah bunga ini sebagai tanda cintaku padamu,”

Cinta terkejut, kemudian berkata, “Maafkan wahai gombal, dengarlah dulu jawabanku.” Cinta berkata sambil menepis dengan halus, bunga yang  gombal berikan.

“Ayahanda tercinta, hamba tidak habis pikir dengan jawaban gombal, tidak mungkin rasanya, kelak, gombal akan selalu ada disisi Cinta juga tidak mungkin Cinta akan selalu merasa senang, tidak mungkin dalam suatu pernikahan tidak ada masalah, tidak ada perbedaan. Ayah sendiri sudah mengalaminya bukan. Ayah dan ibu terkadang berselisih paham, berdebat, namun, setelah itu ayah dan ibu kembali rukun dan mesra seperti biasa, tidak mungkin pula, jika cinta terluka, gombal akan rela melukai dirinya sendiri, tidak mungkin cinta akan bahagia selamanya, karena dalam hidup ini, pasti ada saat susah dan ada saat senang,  dan satu lagi, adalah sebuah kemustahilan jika cinta mati, gombal pun akan ikut mati bersama cinta…. ahhh…. bukan itu yang Cinta cari ayah…..” jawab Cinta dengan nada mulai putus asa.

“ooohhhh cinta, jawabanmu melukai hatikuuuu…….” jawab gombal penuh duka.

“nah, gombal, sudah dengar sendiri jawabannya bukan, sekarang, silakan kau tinggalkan ruangan ini” kata raja

“Aha, ternyata tinggal satu pemuda lagi, siapa namamu anak muda?” tanya raja pada seorang pemuda berpenampilan santun

“Assalammualaikum paduka raja yang terhormat, nama hamba Iman.” jawab pemuda itu sambil menatap  raja.

“Baiklah iman, apa maksud kedatanganmu kemari, wahai anak muda?” tanya raja

“Hamba bermaksud untuk melamar putri  paduka, yaitu Cinta, untuk hamba jadikan istri.”
 jawab Iman dengan sopan

“Iman, perlu engkau ketahui, tak mudah untuk menaklukan hati putriku, ia sudah menolak tiga lamaran pemuda yang begitu meyakinkan, yang rela memberi  apapun yang ia inginkan. nah, engkau sendiri, apa yang akan kau berikan pada cinta, jika kelak ia bersedia menjadi istrimu?”

“Paduka raja, hamba memang tidak seperti tiga pemuda tadi, yang bisa memberikan apapun yang  Cinta inginkan. yang bisa hamba berikan, mungkin tidak bisa dilihat oleh mata, karena kasih sayang yang hamba berikan berbentuk ketulusan, keikhlasan dan pengertian. hamba tidak  bisa memberikan kepastian akan kecantikan cinta yang abadi, namun yang bisa hamba berikan, adalah menerima Cinta apa adanya saat ini ataupun nanti jika kita sudah tua.”

“Hamba tidak dapat memberi  istana yang besar di dunia, tapi hamba ingin mengajak cinta membangun istana untuk keluarga kita kelak di surga abadi. hamba memang tidak mungkin untuk selalu menemani cinta dimanapun cinta berada, namun hamba akan selalu menemani setiap langkah cinta dengan iringan doa yang tulus.”

“Hamba tidak mungkin dapat melukai diri hamba sendiri saat cinta terluka, namun hamba akan mengajak cinta menikmati ujian luka, dengan selalu mengingat bahwa ada saat sehat dan juga ada saat sedih.  hamba juga tidak dapat menjaga agar cinta tetap muda dan menawan, karena seperti yang sudah cinta katakan  tadi bahwa, menjadi tua adalah sebuah kepastian, karena itu, hamba akan mengajak cinta untuk menikmati kasih sayang ini dengan kedewasaan…..”

Iman menghela napas sejenak kemudian melanjutkan ,”dan yang terpenting paduka, hamba akan mengajak cinta untuk membuat sebuah keluarga yang berlandaskan pada cinta Allah,  saling mencintai karena Allah  dan berharap agar cinta kita selalu di ridhoi oleh Allah….” kata Iman mengakhiri penjelasannya.
Sebelum ayahnya sempat bertanya pada Cinta, Cinta segera berkata,“Ayah, inilah yang Cinta harapkan, inilah pemuda yang Cinta cari selama ini…..”

Sang raja dan permaisuri pun tersenyum puas…..