Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2015

GOOD FRIENDS.... BAD FRIENDS...

Arif (bukan nama sebenarnya) terburu-buru menuruni tangga masjid. Sesampainya di anak tangga paling bawah, matanya celingukan mencari sepasang sandal. Mata Arif tertuju pada sepasang sandal coklat lusuh miliknya. Ia pun segera mengenakannya dan berlari kencang keluar halaman masjid. Tangannya menggenggam erat buku "Iqro".

"Rif....Arif... Mau kemana woy ?" tanya temannya

"Gua mo balik dulu. Udah ditungguin ibu." Jawab Arif sambil terus berlari menjauhi masjid.

Arif terus berlari. Kaki kecilnya menyusuri gang - gang jalan Bangka, Mampang. Hingga tibalah Arif di rumahnya. Sebuah rumah kontrakkan yang hanya mempunyai satu kamar, ruang tamu, dapur dan kamar mandi.

"Assalammualaikum..... buuuu."

"Ibu di belakang Rif."

Arif segera masuk ke dapur. Melihat ibunya yang tengah memasak, Arif langsung tersenyum.

"Bu, Arif lapar."

"Iya... nih ibu gorengin tempe kesukaan kamu. Eeeiiittt... salim dulu."

"Hehe iya lupa."

Arif pun menyalami tangan ibunya dan setelah itu mengambil beberapa potong tempe. Sambil makan, Arif membuka-buka halaman buku Iqro. Arif mengulangi latihannya hari ini. Mulutnya komat kamit. Kepalanya menganggk-ngangguk.

"Gimana tadi di TPA Rif ? Ramai atau sepi ?"

"Hmmm biasa bu. Masuk semua temen-temen Arif. Jadi rame. Tadi pulang Iqro, Arif diajak main sama temen. Tapi Arif ga mau. Abisnya Arif laper hehe..."

Ibunya tersenyum.

"Ya, kalau Arif mau main ga pa pa. Asal inget waktu shalat."

Arif menggangguk sambil terus mengunyah tempe. Dari dalam kamar terdengar suara bayi menangis.

"Rif, tolong jaga adek ya. Ibu masih masak."

Arif mengangguk dan berjalan ke masuk kamar.

************************************

Hari terus berjalan. Arif kecil yang dulu rajin ke masjid untuk shalat berjamaah dan belajar Alquran, kini telah beranjak remaja. Kesehariannya kini berbeda jauh.

Kakinya yang dulu ringan ke masjid, kini berganti ringan berjalan ke warnet-warnet.
Dulu Arif betah berlama-lama di masjid, kini betah nongkrong bersama teman-temannya hingga dini hari.

Arif telah berubah. Ia tak mau lagi menjaga adiknya. Tak mau lagi membantu ibunya. Bahkan Arif memutuskan untuk berhenti sekolah.

"Pokoknya Arif ga mau sekolah."

"Kamu gila ? Mau jadi apa kamu kalau ga sekolah ? Mau seperti bapak yang cuma jadi ojek ?"

"Bapak aja ga sekolah. Ngapain Arif sekolah."

Itulah pertengkaran terakhir antara Arif dan bapaknya. Sejak itu Arif tak mau pulang ke rumah. Ia hidup luntang lantung bersama teman- teman nongkrongnya.

Sampai suatu malam saat Arif tengah transaksi narkoba, Arif ditangkap oleh beberapa petugas polisi yang melakukan penyamaran. Malam itu semua berubah. Arif digelandang ke Polsek Mampang bersama beberapa temannya.

Tangannya diborgol. Arif dikumpulkan di sebuah ruangan interogasi. Arif gugup. Ia tak menyangka dirinya akan tertangkap. Selama setahun menjadi pemakai dan pengedar narkoba, ia selalu aman. Tak pernah tertangkap.

Arif duduk berhadapan dengan seorang petugas kepolisian. Badannya gemetar. Pikirannya kalut. Ia teringat dengan ibu bapaknya. Adik-adiknya. Bagaimana jika mereka tahu bahwa ia ditahan pihak kepolisian...

**************************************

Saya memandang wajah Arif yang sedang menceritakan kisahnya. Ah... Arif seumur dengan anak saya. Wajahnya bersih. Hidungnya mancung. Sorot matanya tajam. Alisnya hitam. Teman-temannya biasa menjuluki Arif 'Arab'. Karena memang wajahnya yang mirip dengan orang Arab. Jika melihat Arif, tak terbersit sedikitpun jika ia pengedar sabu-sabu.

"Saya dulu mah rajin bun ke masjid Al-Hikmah."

"Yah... terus kenapa kok kamu bisa jadi pengedar sabu ?"

"Saya diajak temen bun."

"Kenapa kamu ikutin ? Kan bisa aja nolak."

"Ga enak bun. Saya udah seneng make. Kalo mau beli sabu ga ada duit. Jadi ya saya ikut ngedarin juga."

"Emang kamu ga punya temen yang lain ? Yang ga nakal kayak gitu ?"

Arif terdiam. Pikirannya melayang ke beberapa tahun lalu saat dirinya berkenalan dengan Jon (bukan nama sebenarnya). Jon yang selalu nongkrong di depan masjid, berusaha untuk ngobrol dengan anak-anak yang pulang belajar mengaji. Saat itu Arif merasa aneh. Mengapa Jon tidak pernah shalat di masjid, padahal saban hari Jon selalu nongkrong di depan masjid.

"Kamu ga pernah ngajak Jon shalat ?"

"Kan saya masih kecil bun. Kalo saya ngajak shalat, diketawain sama Jon."

"Trus kenapa kok kamu nurut aja diajak Jon make sabu dan jualan sabu ?"

Arif kembali terdiam. Ia pun tak mengerti mengapa dirinya merasa nyaman berteman dengan Jon. Walaupun sejak berteman dengan Jon, Arif semakin jauh dari agama dan keluarganya. Bahkan Arif menjadi anak pembangkang.

Arif memutuskan tak melanjutkan sekolah, juga karena Jon. Arif diiming-imingi hidup enak. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi juga bisa kaya raya. Semua bisa dibeli walau tak pernah ibadah. Ga perlu minta sama Tuhan. Cukup jualin barang, lo dapet apa yang lo mau. Begitulah doktrin yang ditanamkan Jon pada Arif.

*************************************

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Saya menyampaikan hadits di atas pada Arif. Arif mendengarnya sambil terus menunduk. 
"Iya bun. Harusnya memang saya bisa pilih teman. Temen-temen ngaji saya udah ngingetin, jangan temenan sama Jon. Tapi saya tetap keras kepala. Akhirnya saya masuk sini. Jon malah ga ketangkep."
"Ya... niatkan dalam hati kamu. Ini pertama kali dan terakhir kamu di penjara. Pinter-pinterlah milih temen. Lihat agamanya. Lihat shalatnya. Jangan sampai kamu jatuh ke lobang yang sama."
Arif mengangguk.
Saya mengakhiri sesi konseling dengan Arif. Arif pun kembali bergabung dengan teman-temannya yang sedang mendengarkan tausiyah dari salah satu relawan GPR (Gerakan Peduli Remaja).
****************************
Faktor besar yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak adalah teman yang buruk. Terlebih jika anak tersebut adalah anak yang lemah akidah, mudah terombang-ambing dan cepat terpengaruh ketika bergaul.
Kisah anak-anak di LPKA adalah contoh yang nyata. Kasus tertinggi di LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) Pria Tangerang adalah narkoba dan ketika ditanyakan bagaimana mereka sampai bisa terjerumus pada narkoba, jawaban mereka semua sama : DIAJAK TEMAN. 
Islam mengarahkan para orangtua untuk memberikan pengawasan yang ketat terhadap pergaulan anak-anak mereka, terlebih anak yang masuk masa pubertas. Islam juga mengajarkan bagaimana cara memilih teman yang baik, agar anak dapat menyerap pengaruh akhlak yang mulia, budi yang luhur dan kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan syariat.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Semoga sebagai orangtua kita dapat menanamkan pada anak-anak kita betapa pentingnya memilih teman sepermainan. Teman yang bukan sekedar teman. Namun teman yang terus mengingatkan pada Allah swt. Teman yang mengajak melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Teman yang taat pada Allah swt dan benci kemaksiatan. 



wallahualam bishawab
Jakarta, 13 Oktober 2015
*catatan yang tertinggal

*rujukan :
Riyadhus Shalihin
Cara Nabi Mendidik Anak (Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid)
Tarbiyatul Aulad Fil Islam (DR. Abdullah Nashih 'Ulwan)

Minggu, 04 Oktober 2015

♧ TUAN PUTRI, SANG PANGERAN dan KAMBING HITAM ♧

Ini bukan kisah dongeng pengantar tidur. Juga bukan kisah seribu satu malam. Tapi inilah kenyataan yang banyak kita temui di kehidupan sehari-hari.

"Maaaaa.... susuuuu...." teriak Mimi pada ibunya. Mimi anak perempuan berusia delapan tahun, berteriak kencang meminta susu pada ibunya. Ia berteriak dari lantai atas. Ibunya yang tengah memasak di dapur lantai bawah, tergopoh-gopoh memghampiri anak tangga.

"Susu coklat atau putih sayank ?"

"Coklaaattttt..."

Tak lama bunda Mimi naik ke lantai atas. Ia pun menyerahkan segelas susu coklat pada Mimi.

"Huuuaaaa mamaaaa... susunya kepanasan. Mimi ga mau minum." Mimi menepis gelas susu yang diberikan ibunya.

"Ya sudah... mama dinginkan dulu ya. Nanti kalau sudah dingin, Mimi minum."

"Tapi jangan kelamaan dingininnya." Jawab Mimi sambil cemberut sambil menatap layar televisi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Misya kaget. Dilihatnya jarum jam di dinding kamarnya. Pukul 06.00 !!!

Aduuhh telat deh nih. Pasti telat. Gumam Misya dalam hati.

Setengah berlari ia menuju kamar mandi. Tak lama ia pun segera masuk kembali ke kamarnya, membereskan buku-buku dan melesat menuju ruang makan.

"Mama nih gimana sih. Kok ga bangunin Misya. Kan jadi kesiangan deh. Ini telat nih mah." Ucap Misya sambil membanting tas ke atas kursi makan.

"Yang ga bangunin kamu tuh siapa. Dari subuh mama udah bangunin. Kamunya aja yang tidur terus. Sarapan dulu. Mama udah bikin roti kesukaan kamu."

"Ga mau. Misya mau langsung berangkat aja."

Saat hendak keluar pagar, Misya teringat sesuatu. Ia pun kembali ke dalam rumah.

"Mah, baju Misya untuk besok gimana ? Udah mama setrikain ?"

"Baju yang mana ? Hari Selasa seragam kamu putih abu kan ?"

"Iyaaaa... tapi ada seragam lagi. Itu mah seragam vokal grup. Besok mau GR harus pake seragam. Mama gimana sih. Kan dari kemarin Misya udah kasih tau kalo seragam vokal harus disetrika untuk hari Selasa."

"Ya ya... nanti mama setrikain."

Pagi berlalu. Siang itu ibunda Misya sedang menyetrika baju seragam anaknya. Dengan penuh kasih ia merapikan baju Misya sambil membayangkan betapa cantiknya Misya mengenakan seragam ini.

Tiba-tiba telepon berdering.

"Mah... kaos kaki jangan lupa mah. Kaos kaki seragam vokal." Ucap Misya tanpa ba bi bu pada ibunya.

"Misya... kamu pake telepon siapa?"

"Iiihhh mama ga penting banget deh nanyanya. Kaos kaki jangan lupa ya mah. Ada di atas meja belajar Misya. Udah dulu mah. Dah mama..."

Hening. Ibunda Misya menatap handphone di tangannya sambil menggeleng gelengkan kepala. Heeehhh anak sekarang, gumamnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari Minggu yang sibuk. Pak Beno merapikan taman di depan rumah. Bu Beno ikut membantu membereskan tanah yang berserakan.

"Bu... Bimbim mana ? Coba panggil sini. Bantuin kita."

"Lagi di kamarnya yah. Biasalah anak muda jaman sekarang."

"Buuuu... sarapan mana ?" Teriak Bimbim dari dalam rumah.

"Ada di meja makan."

Bimbim melangkah ke meja makan. Dilihatnya menu sarapan yang disediakan ibunya. Hmmm... bikin lapar. Bimbim memenuhi piringnya dengan nasi dan berbagai lauk yang dimasak ibunya. Setelah piringnya penuh, ia pun melangkah ke taman depan.

"Ayah... ibu lagi ngapain sih?" Tanyanya dambil duduk di kursi teras.

"Ya beres-bereslah Bim. Emang kamu ga liat ? Habis makan bantuin ayah bersihin kolam ikan. Nih taman udah beres. Kamu libur malah bangun siang."

"Kan libur yah. Tiap hari sekolah udah bangun pagi. Cape. Kalau libur itu waktunya istirahat."

"Sudahlah yah. Biar ibu yang bantuin ayah. Anak muda jaman sekarang yaahh gitu lah."

Bimbim tersenyum memandang ibunya. Agak lama ia duduk di teras. Sambil makan, jari-jarinya asyik bermain di layar handphone seri terbaru yang dibelikan ayahnya. Sesekali ia tersenyum.

Sementara ayah dan ibunya kini sudah berpindah ke kolam ikan. Pak Beno dengan lincah menjaring ikan dan memasukkan ke dalam ember yang sudah disiapkan bu Beno. Bimbim memandang ayah dan ibunya. Perutnya sudah kenyang. Ia pun melangkah masuk ke dapur dan meletakkan piring bekas makannya di atas tumpukan piring dan panci kotor di dapur. Tak terbersit sedikitpun di benaknya untuk membantu ibunya mencuci piring.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebuah desa di pelosok  Lampung heboh. Polisi dibantu tentara menggerebek rumah warga. Mereka mencari pembunuh Kapolres. Semua rumah warga tak luput dari gedoran petugas. Pintu-pintu rumah yang ditutup, didobrak paksa.

Di sebuah rumah seorang ibu menjerit ketakutan.

"Aaaaa.... jangan bawa anak saya. Dia ga salah.... ga salah... jangan bawa anak sayaaaa....."

Beberapa petugas keluar dari rumahnya sambil menyeret seorang pemuda. Dua orang polisi membawa seorang pemuda yang tangannya diborgol.

"Betul ini yang membantu kamu masuk ke rumah bapak Kapolres ?"

Pemuda yang diborgol memandang pemuda yang tadi diseret petugas dari dalam rumahnya. Lama mereka saling menatap. Sang ibu yang tadi menjerit-jerit sontak menghampiri mereka. Ia memukul pemuda yang diborgol.

"Kurang ajar kamu ya. Kamu yang bocorin ini ke polisi ? Ga tau terima kasih. Ga tau diuntung. Ga tau balas budi.... kamuuu...."

Beberapa polisi segera menarik sang ibu yang terus meronta dan memaki dengan kata-kata kotor.

"Tejooooo.... tunggu pembalasan keluarga kami. Lihat saja Tejoooo..." ibu itu terus berteriak sambil memandang pemuda yang diborgol.

Tejo menahan napas. Dipandangnya lagi wajah pemuda dihadapannya.

"Betul pak. Danu yang mengajak saya untuk menghabisi pak Kapolres. Danu juga yang memimpin kami." Tejo tertunduk. Ia sadar, jika ia buka mulut, semua keluarganya terancam. Tapi ia pun tak mau masuk penjara sendirian. Karena malam kejadian itu ia tak tau menahu. Ia hanya diajak keliling kota dengan motor. Ia tak tau jika kemudian rombongan motor justru menyerbu masuk rumah Kapolres kemudian membunuhnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ya... ini bukanlah dongeng. Tapi kenyataan. Banyak orangtua yang keliru dalam menerapkan pola asuh kepada anaknya.

Ada orangtua menerapkan pola tuan putri pada anaknya. Anaknya terus menerus dilayani. Bahkan sampai dewasa, sampai punya anak. Anaknya tak bisa apa-apa. Jangankan setrika, ceplok telor pun tak bisa.

Ada juga orangtua yang menerapkan pola asuh pangeran pada anak lelakinya. Sang pangeran ini selalu dimanja. Semua disediakan dan disiapkan. Tak ada perjuangan untuk mendapatkan keinginan. Tinggal bilang ke orangtua, maka orangtua akan memenuhinya.

Ada juga orangtua yang menerapkan pola asuh kambing hitam, yaitu anaknya tak pernah salah. Jika melakukan kesalahan, orangtua akan berusaha menutupinya atau melemparkan kesalahan pada orang lain. Sering orangtuanya berbohong untuk menutupi kesalahan anaknya.

Apa yang terjadi jika tuan putri menikah dengan sang pangeran ??? Tuan putri dan sang pangeran yang dibesarkan dengan pola asuh dilayani, tentunya satu sama lain akan minta dilayani. Dua-duanya merasa berhak dilayani dan dimanja.

Apa yang terjadi jika tuan putri menikah dengan lelaki pola asuh kambing hitam ? Yang tidak mau disalahkan. Yang selalu merasa benar.




Anak adalah generasi penerus umat. Pola asuh orangtua pada anak adalah faktor penting terhadap eksistensi sebuah peradaban. Apalah gunanya bila kita hendak membangun masyarakat tapi tidak peduli pada pola asuh anak. Sejarah mencatat betapa besar peran generasi penerus terhadap keberhasilan suatu bangsa.

Allah berfirman," Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." QS At-Tahrim : 6

Dalam buku Tarbiyat Aulad Fil Islam, DR. Abdullah Nashih 'Ulwan menyatakan ada beberapa hal yang harus ditanamkan dalam pola asuh pada anak :

1.  Tanamkanlah takwa pada anak. Agar anak merasa takut (khauf) dan merasa diawasi (muroqobatullah) oleh Allah. Sehingga ia tak berani melakukan hal-hal yang melanggar syariat.

2. Tanamkanlah rasa persaudaraan (ukhuwah) pada anak. Agar anak memiliki ikatan hati yang melahirkan perasaan mendalam tentang kelemahlembutan, kecintaan, dan penghormatan kepada siapa saja yang terikat dalam akidah.

3. Tanamkanlah kasih sayang (rahmah) pada anak. Agar anak tidak mudah menyakiti orang lain, menjauhi kejahatan, serta menjadi sumber kebajikan dan keselamatan atas manusia seluruhnya.

4. Tanamkanlah itsar (mengutamakan orang lain). Agar anak tidak menjadi egois. Agar anak memiliki empati dan kepekaan sosial yang tinggi.

Semoga kita sebagai orangtua terhindar dari pola asuh yang salah pada anak. Aamiin...


* rujukan : buku Tarbiyat Aulad Fil Islam, DR. Abdullah Nashis 'Ulwan


Jakarta 5 Oktober 2015
Edisi Parenting



Selasa, 29 September 2015

TERLAMBAT SADAR

Siang yang terik. Seorang anak LPKA (Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak) Pria Tangerang sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Ia memanggil saya.

"Bunda...." sapanya sambil tersenyum.

"Andi (bukan nama sebenarnya). Sehat ?”

Alhamdulillah bunda.”

“Lagi sama siapa ?”

“Ini ibu saya bunda.”

Saya pun tersenyum pada ibu Andi sambil pamit menuju masjid. Andi adalah salah satu anak LPKA yang masih berusia 16 tahun. ia ditahan karena kasus narkoba. Beberapa kali pertemuan dengannya, Andi bercerita panjang lebar tentang keluarganya.

Andi dilahirkan dalam sebuah keluarga muslim. Namun sejak ia kecil sampai sekarang, tak pernah sekalipun melaksanakan shalat atas kesadaran sendiri. Shalat baginya hanya ceremonial. Shalat baginya hanya hari Jumat atau hari-hari besar Islam. Surat Alfatihah ia tak hafal. Bacaan shalat ia tak tau.

“Jadi selama ini kalau kamu shalat bacanya apa?”

“Ya ga baca apa-apa bun. Saya ikutin aja gerakan orang. Orang ruku’, saya ruku’. Orang sujud, saya sujud. Tapi saya mah ga tau yang dibaca apaan.”

“Emang dulu waktu kecil kamu ga diajarin shalat ?”

“Seinget saya sih ga bun.”

“Ibu bapak kamu shalat kan ?”

“Hehehe… jarang-jarang bun?”

Begitulah percakapan saya beberapa bulan yang lalu saat pertama kali Andi menginjakkan kaki di LPKA. Kini, tak banyak perubahan. Andi masih “konsisten” dalam keengganannya melaksanakan shalat.

Melihat Andi, saya teringat pada sebuah kisah seorang sahabat. Sahabat saya mempunyai seorang tetangga pasangan suami istri yang sudah sepuh. Sebut saja bapak dan ibu Muna. Mereka berdua rajin sekali ke masjid. Pak Muna tak pernah ketinggalan shalat subuh berjamaah di masjid. Ibu Muna tak pernah absen mengikuti majlis taklim di masjid. Walau badan keduanya mulai membungkuk, tapi mereka tetap semangat melangkah ke masid.

Namun ada satu hal yang membuat sahabat saya penasaran. Ia jarang sekali melihat anak-anak bapak dan ibu Muna berkunjung. Bahkan ketika pak Muna sakit, yang mengantarkan ke rumah sakit para tetangga. Anak-anaknya datang beberapa hari kemudian ketika pak Muna sudah mau keluar dari rumah sakit. Sahabat saya pun memberanikan diri bertanya pada ibu Muna. Sore itu saat sedang menyiram tanaman, sahabat saya menyapa ibu Muna.

“Ibu… seger banget hari ini.”

“Alhamdulillah nak. Mungkin pengaruh baju. Hehe…”

“Bu Muna bisa aja.”

“Besok lebaran haji ya bu. Wah… anak-anak ibu dan cucu pasti datang nih.”

Ekspresi ibu Muna berubah. Matanya sayu. Ia melangkah pelan menuju kran air. Dimatikannya kran dan selang yang panjang pun digulung. Sahabat saya kaget. Ia merasa bersalah. Ia pun segera mengejar ibu Muna yang hendak masuk ke rumah.

“Ibu… saya mohon maaf sekali jika ada kata-kata saya yang salah.”

Ibu Muna diam. Ia menggeleng. Tangan kirinya menggenggam tangan sahabat saya. Kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Duduklah nak.”

Sahabat saya duduk sambil diam. Ia merasa tak enak. Bagaimanapun bapak dan ibu Muna sudah ia anggap seperti orangtua sendiri. Ia tak ingin menyakiti hati mereka.

“Nak Marni sudah saya anggap seperti anak saya.” Ibu Muna menarik nafas panjang. “Saya tau nak Marni juga paham agama. Walau nak Marni saya seumur dengan anak saya, tapi nak Marni juga salah satu guru agama saya. Saya pikir inilah saatnya saya bercerita dan meminta pendapat nak Marni.”

“Enggeh bu.”

“Apa yang saya lakukan selama ini bersama suami, semoga menjadi penghapus dosa-dosa saya yang lalu. Terutama dalam mendidik anak-anak. Dulu kami adalah orangtua yang jauh dari agama.” Ibu Muna terisak.

“Kami tidak pernah mengajak anak-anak shalat berjamaah. Kami tak pernah mengajak anak-anak ke masjid. Kami tak pernah mengajarkan anak-anak membaca Alquran. Waktu kami habiskan berfoya-foya. untuk makan-makan, jalan-jalan dan belanja, waktu kami terasa banyak. Tapi ketika azan, berat sekali kaki ini untuk shalat. Hingga anak-anak kami tumbuh menjadi anak-anak yang jauh dari agama. Anak pertama saya….” Ibu Muna tak sanggup melanjutkan kisahnya. Marni sahabat saya segera memeluk ibu Muna.

“Ibu… tidak usah dilanjutkan. Allah Maha Pengampun. Allah Maha Pemberi Maaf.”

“Iya nak… mudah-mudahan Allah mengampuni kami, yang dulu ga becus dalam mendidik anak-anak.”

KEGIATAN HARI INI DI LPKA



MEMBERIKAN MOTIVASI UNTUK ANAK-ANAK LPKA


Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda,

“Ajarkan kalimat Laa ilaaha illallah sebagai kalimat pertama dan talqinkan kepada mereka Laa ilaaha illallah ketika menjelang ajal.”

Abdurrazaq meriwayatkan bahwasanya para sahabat itu suka untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka kalimat Laa ilaaha illallah sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali, sehingga kalimat ini menjadi kalimat pertama mereka.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Ahkam Al-Maudud mengatakan,

”Ketika anak-anak mulai bisa berbicara hendaklah di-talqin kan kepada mereka kalimat Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah, dan yang pertama kali terdengar oleh telinga mereka adalah Ma’rifatullah (mengenal Allah) dan men-tauhidkan-Nya, dan bahwasanya Allah yang berada di atas singgasan-Nya (arsy) senantiasa melihat mereka, mendengarkan perkataan-perkataan mereka, dan Dia senantiasa bersama mereka di manapun mereka berada.”

Teringat sebuah syair Arab,

Adab yang diajarkan ketika kecil dapat bermanfaat
Sedangkan adab yang diajarkan setelah tua tidak dapat bermanfaat
Ranting yang masih muda jika engkau luruskan akan menjadi lurus
Sedangkan sebatang kayu jika engkau bengkokkan maka dia akan menjadi patah.



*rujukan ;
25 Kiat Membentuk Anak Hebat, Akram Misbah Utsman (GIP)
Cara Nabi Mendidik Anak, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid (Al-Itishom)



Jakarta, 29 September 2015