Tampilkan postingan dengan label tentang remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang remaja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Oktober 2012

Pupusnya Harapan Pejuang Anti Narkoba


Perjuangan panjang para penggiat anti narkoba, berakhir. Mahkamah agung memutuskan menolak hukuman mati bagi para gembong narkoba.

Miris dan sangat prihatin.

Narkoba merupakan bahaya laten, yang menyerang berbagai lapisan masyarakat. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak dan remaja pun terkena imbasnya.

Di lembaga pemasyarakatan anak pria Tangerang, kasus tertinggi adalah disebabkan narkoba. Mereka yang dihukum sebagian besar bukanlah pengedar, “hanya” pengguna. Itupun, tidak sampai pengguna yang mengakibatkan ketagihan akut. Tapi, lihatlah jangka waktu hukuman mereka, rata-rata diatas dua tahun.

Prihatin sekali. Karena mereka korban dari berbagai pihak. Termasuk dari para pengedar dan gembong besar yang seharusnya lebih bertanggung jawab.

Di negara-negara lain seperti Malaysia, hukuman para pengedar narkoba tidak main-main. Selain hukuman seumur hidup, juga hukuman mati. Ini dilakukan, agar para gembong dan pengedar narkoba kapok.

Patut di apresiasi ketegasan pemerintah Malaysia untuk melindungi keberlangsungan dan keselamatan generasi penerus.

Dan, Allah swt memang tidak pernah tidur. Masih ingat kasus melegalkan minuman keras? Ketika ramai dibicarakan dan menjadi polemik, muncullah tragedi tabrakan maut, yang dikemudikan oleh seorang wanita, yang ternyata sebelum mengemudikan mobilnya, ia telah banyak meminum minuman haram tersebut.

Saat ini pun seperti itu. Ketika hukuman mati bandar narkoba di “matikan”. Maka, Allah swt membuka mata para penegak hukum tentang bahaya nya narkoba melalui kecelakaan maut. Hampir sama dengan tabrakan maut, kali ini pengemudi terdeteksi menggunakan salah satu jenis narkoba, yaitu ekstasi.

Selain menabrakkan mobilnya pada banyak orang (dua diantaranya polisi), akibat ekstasi, pengemudi juga tidak sadar jika ia hanya mengenakan pakaian dalam saja. Astaghfirullahalazim....

Hukuman mati, memang banyak ditentang oleh mereka yang mengaku memperjuangkan Hak Asasi Manusia. Namun, jika para penggiat HAM menyebut hukuman mati melanggar HAM, bagaimana dengan hak asasi para korban tabrakan yang diakibatkan oleh pengemudi pengguna narkoba?

Bagaimana hak asasi bagi para remaja yang “tidak sengaja” terjangkiti virus narkoba?

Bagaimana dengan hak asasi remaja yang mengalami penyakit aids akibat jarum suntik narkoba?

Bagaimana dengan hak asasi para remaja yang mati sia-sia?

Bagaimana dengan hak asasi anak-anak jalanan yang menggunakan narkoba “ketengan” yang menyebabkan rusaknya otak, bahkan kematian???

Bagaimana dengan hak asasi masa depan remaja mantan pengguna narkoba??

Apakah para penggiat HAM juga memikirkan nasib para korban narkoba???


Jumat, 05 Oktober 2012

KEKERASAN REMAJA, BAGAIMANA MENYIKAPINYA ?...


Tidak sampai dua bulan, telah jatuh dua korban meninggal dalam tawuran antar pelajar. Usia mereka masih muda, rata-rata 15-16 tahun. Berbagai pihak sibuk saling lempar tanggung jawab. Media ramai memberitakan, tanpa memberikan solusi berarti.

Tawuran, mungkin sekali terjadi hampir setiap hari di seluruh wilayah Indonesia. baik dalam skala kecil maupun besar. Diketahui atau tidak diketahui oleh media, tawuran tetap saja terjadi.

Berulangkali hukuman diberikan pada pelajar yang terlibat aksi ini. namun pada kenyataannya, hal itu terjadi lagi dan lagi. Tidak ada yang jera dengan tawuran. Walaupun dalam tawuran itu ada teman mereka yang kehilangan nyawa atau masuk penjara, tetap saja esoknya atau minggu depannya, terjadi lagi tawuran. Bahkan, bisa lebih dahsyat.

Berbagai pihak, harus segera turun tangan menyelamatkan jiwa (emosi) remaja yang mudah tersulut. Para pemuka agama, orang tua, para guru dan terutama pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah sangat bertanggung jawab menyelamatkan moral para penerus bangsa.


Seperti yang kita ketahui, pelajaran agama di sekolah-sekolah umum, sangatlah sedikit. Hanya dua jam. Itupun tidak maksimal. Padahal, agamalah yang mengatur seluruh sendi kehidupan. Mulai dari adab (kebiasaan) yang akan terbentuk menjadi akhlak yang baik.

Banyak orang-orang tua jaman dulu yang mengeluh. Mereka berkata, anak jaman sekarang sangat jauh berbeda dengan perilaku anak jaman dulu. Mereka sudah kehilangan sopan santun. Lihatlah anak-anak yang sering “nongkrong” berdua di tempat-tempat umum. Tidak terlihat rasa malu pada mereka. Padahal, kata orang bijak, malu adalah sebagian dari pada iman.

Selain itu, peran masjid dalam menampung minat dan bakat remaja sangatlah minim. Mari kita tengok masjid-masjid di sekitar rumah. Adakah masjid yang mengadakan kegiatan agama dengan cara menampung minat dan bakat para remaja?

Jika kita melihat ke zaman Rasulullah saw, masjid sangat “hidup”. Masjid tidak hanya tempat shalat berjamaah. Namun mencakup segala hal. Termasuk menampung aspirasi para penerus agama.

Disinilah peran penting para pemuka agama. Kalau memang kurikulum agama di sekolah umum tidak bisa ditambah, sebaiknya para pendakwah segera turun ke kegiatan-kegiatan tambahan yang berbau agama seperti kegiatan Rohani Islam (ROHIS). Karena terbukti, anak-anak ROHIS, jarang sekali yang terlibat tawuran.

Para pemuka agama, menghidupkan masjid-masjid. Membuat acara-acara yang meremaja. Karena remaja adalah pribadi yang unik. Adakan suatu wadah yang dapat menyalurkan minat dan bakat para remaja di masjid. Dekatkan mereka dengan rumah Allah swt.

Selain itu, mengajak remaja memahami Islam, dengan gaya remaja. Sebagai contoh, di tahun 90-an, pada bulan Ramadhan disebuah radio anak muda yang terletak di kawasan pusat Jakarta, ada seorang ustad yang sangat digandrungi oleh anak muda saat itu, yaitu ustad Toto Tasmara.

Gaya beliau yang “meng-anak muda” cepat direspon oleh remaja saat itu. Acara ustad Toto Tasmara hanya sebentar saja, yaitu menjelang bedug maghrib, namun, yang konsultasi tanya jawab sangat banyak. Hampir setiap jeda, diisi dengan penelepon remaja.


Orang tua, adalah benteng pertahanan pertama para remaja. Apa yang remaja lihat dari kecil, akan tertanam pada otak mereka. Begitupun sikap dan perilaku serta akhlak sehari-hari.

Mengetahui teman anak kita adalah hal yang mutlak. Dengan siapa mereka berteman, siapa orangtuanya, dimana rumahnya, apa latar belakang keluarganya dll. Memilihkan teman untuk anak-anak kita adalah sebuah kewajiban.

Usia remaja adalah usia yang labil. Mereka mulai mencari jati diri dan sangat mudah ikut arus. Selain itu, mereka juga cenderung mengikuti hal-hal yang dilakukan oleh temannya. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw, “Seseorang bergantung pada agama temannya. Maka, lihatlah oleh tiap-tiap kamu siapa yang dijadikan teman.” (HR Abu Daud, Atturmudzi, Ahmad)

Arahkan anak-anak kita pada hal-hal keagamaan. Perbanyak waktu untuk diskusi tentang segala hal dengan mereka. Karena saat usia remaja, mereka sangat butuh tempat untuk berbagi. Mereka ingin mencurahkan kegelisahan tentang perubahan-perubahan fisik yang mereka alami. Tentang perasaan pada lawan jenis, atau tentang perilaku guru dan teman mereka saat disekolah.

Pada fase remaja, orangtua baiknya bersikap sebagai teman, yang dapat menampung segala permasalahan mereka, serta dapat memberikan solusinya. Jika remaja sudah merasa nyaman berbagi dengan orangtua, mereka akan mempunyai filter dalam menghadapi kehidupan luar yang sangat keras.


Guru adalah benteng kedua para remaja. Sering kita dengar, bahwa guru adalah pengganti orangtua di sekolah. Tanggung jawab guru pada para remaja sangatlah besar. Tidak “hanya” mengajar, namun juga mendidik.

Mendidik remaja, bukan hal yang mudah, namun juga tidaklah sulit. Remaja, seperti kita ketahui, mereka sangat labil. Mudah terpengaruh teman. Tidak heran jika usia remaja, banyak sekali “genk” yang bertebaran di sekolah.

Remaja akan merasa nyaman dengan teman-teman yang setipe dengannya. Sebagai contoh, remaja yang senang olahraga, mereka akan berkumpul bersama membuat klub basket, remaja yang senang musik, akan berkumpul bersama membuat sebuah band, remaja yang senang mengkaji Islam lebih dalam, akan bergabung dengan ROHIS, begitu seterusnya.

Guru, haruslah jeli dalam melihat sikap dan kecenderungan para remaja. Banyak remaja yang merasa tersisih. Tidak diterima di kelompok manapun, hingga mereka selalu bikin ulah. Salat satu yang berpengaruh besar adalah praktek bullying yang sudah sampai tingkat Sekolah Dasar.

Praktek bullying, terlihat simple, namun ternyata efeknya sangat mempengaruhi kejiwaan mereka. Ada remaja yang selalu diejek bodoh, hingga akhirnya ia merasa dirinya memang bodoh. Ada juga remaja yang diejek bersikap seperti “banci”, maka akhirnya ia pun meyakini bahwa dirinya adalah banci.

Bahkan pada beberapa kejadian tawuran, awalnya dimulai oleh saling mengejek. Di Jakarta, pernah ada tawuran remaja antar kampung. Setelah diselidiki, ternyata penyebabnya karena ejekan tentang nama “genk” mereka.

Menyadarkan remaja untuk saling menghargai, adalah salah satu tugas guru di sekolah. Sekali lagi, pribadi remaja adalah pribadi yang unik. Apa yang terlihat, belum tentu seperti itulah aslinya mereka.


Pemerintah sangat bertanggung jawab pada moral para penerus bangsa.

Dari tayangan-tayangan tawuran yang diperlihatkan televisi. Jelas terlihat senjata-senjata yang mereka gunakan serta gaya mereka saat penggunaan senjata itu.

Dari mana mereka mendapat isnpirasi seperti itu? Bapak pemerintah yang terhormat, mereka mencontoh dari game online yang ada di warung internet  sekeliling rumah kita. silakan dihitung berapa jumlah warnet dalam radius 1km. Lebih dari 10 warnet dan jam operasinya pun tidak dibatasi.

Dalam ilmu psikologi dikatakan, kita akan meniru dan terbiasa pada hal-hal yang seringkali kita lihat. Pada beberapa permainan yang ada di warnet, menggambarkan adegan-adegan kekerasan seperti pembunuhan yang menggunakan senjata tajam. Adegan pembunuhan pun terlihat nyata. Seperti muncratnya darah pada saat menebas bagian-bagian tubuh.

Salah satu adegan yang sangat ditiru remaja pada saat tawuran adalah, memutar-mutar gir sepeda diudara. Gir tersebut diikat pada seutas tali, kemudian diputar-putar untuk mencari musuh. Selain itu juga ada samurai. Dua senjata ini dapat kita lihat di game online yang ada di warnet. Dan karena mereka telah terbiasa “membunuh” di game online, maka di dunia nyata pun mereka anggap itu adalah hal yang biasa.

Kembalikan fungsi warnet seperti sedia kala. Kemajuan teknologi memang tidak bisa kita hindari, namun sangat mungkin kita batasi. Jam operasional warnet, jarak warnet, serta aturan-aturan yang menyangkut moral remaja, haruslah ditetapkan oleh pemerintah.

Remaja memiliki sejuta energi yang membutuhkan tempat untuk disalurkan. Empat hal diatas sangat berperan dalam meredam gelegak jiwa mereka. Saling bekerja sama satu dan lainnya, akan membuat remaja memiliki tempat berteduh.

Seluruh pihak hendaknya dapat segera mengambil kebijakan dalam menghadapi kekerasan di kalangan remaja.



Selasa, 05 Juni 2012

REMAJA SUKSES, REMAJA ANTI GALAU


Berkat kejelian sebuah iklan profider telepon, kini kata galau menjadi tren. Jika ada orang yang sedang resah, maka orang lain akan menyebutnya galau. Jika ada orang yang tidak tau tujuan, orang pun akan menyebutnya galau.

Sebenarnya, apa sih arti kata galau itu sendiri?

Di sebuah situs www.artikata.com, pengertian galau dibuat membentuk sebuah  pohon kata. Bentuk tunggal galau memiliki beberapa arti yaitu ; khawatir, cemas, senewen, kusut dan  resah. Dari arti katanya, tampak bahwa galau merupakan suatu bayangan yang tak pasti tentang suatu hal.

Misalnya khawatir pada hasil ujian, cemas pada masa depan, senewen dengan sikap tegas orangtua atau guru, dan resah pada sesuatu yang belum tentu terjadi. Kesimpulannya, galau lebih pada prasangka pada hal-hal yang belum pasti terjadi.

Remaja sukses, bukanlah remaja yang terbiasa dengan rasa galau. Lihat saja remaja-remaja sukses di sekeliling kita. Tanyakan pada mereka, apa kunci suksesnya. Coba kita lihat beberapa kisah remaja sukses (yang anti galau) berikut ini.

Habibi seorang remaja yang lahir normal, namun ketika beranjak balita, mengalami sakit yang mengakibatkan Habibi lumpuh. Hari-hari Habibi lebih banyak dihabiskan di kursi roda. Tapi Habibi tidak putus asa (baca : galau) dengan masa depannya. Justru Habibi merasa terpacu. Semangatnya untuk maju dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan keluarganya, begitu membara.

Hingga akhirnya Habibi dikenal sebagai salah satu marketing internet yang berhasil. Dengan kesuksesannya ini, Habibi bahkan berhasil memberikan mobil untuk ibunya. Habibi mencapai itu semua dengan tekad yang kuat. Habibi tau tujuan hidupnya dan berusaha meraihnya dengan kerja keras.

Billy Boen. Pada usia 29 thn, memimpin tiga perusahaan sekaligus. Kuliah strata satu, hanya ditempuh tiga tahun. S 2 nya, dijalani dalam waktu satu tahun saja, dengan predikat cum laude. Apa resepnya?

Diantaranya  kunci suksesnya yaitu  yang pertama, mengetahui tujuan hidup. Tentu saja. Ibaratnya jika kita 
hendak pergi, tentulah kita harus tau tujuan kita kemana. Coba bayangkan, jika kita masuk jalan bebas hambatan, kita tidak tau tujuan, apa yang akan terjadi? Kita akan berputar-putar tanpa kepastian.

Kunci sukses yang kedua yaitu, jangan menyerah. Jika gagal, coba lagi. Gagal lagi, coba lagi. Begitu seterusnya. Lihatlah anak kecil yang belajar berjalan. Berapa kali ia terjatuh? Ketika jatuh, apakah anak kecil menyerah? Tidak. Ia selalu bangkit. Jatuh lagi, bangkit lagi. Tidak pernah menyerah, sampai akhirnya dapat berjalan, bahkan berlari.

Nurul Karimah, pendiri Komunitas Belajar Gratis di Temanggung. Karena keterbatasan biaya, orangtua Nurul melarangnya untuk meneruskan sekolah. Pengalaman itulah yang membuat Nurul bertekad untuk membuat sekolah gratis bagi anak-anak kurang mampu.

Kini komunitas Belajar Gratis memiliki 38 anak jenjang SMP dan 42 anak jenjang setingkat SMA. Mereka mendapatkan ijazah dengan cara mengikuti ujian persamaan. Hingga saat ini, sekolah itu telah meluluskan sekitar 16 anak untuk paket B.

Darsono, pendiri Universitas Pamulang (Unpam). Pria kelahiran Bantul, Yogyakarta ini berasal dari keluarga tidak mampu. Hal inilah yang membuatnya hampir saja tidak mengenyam bangku sekolah. Tidak jauh beda dengan kisah Nurul Karimah, Darsono juga sempat dilarang untuk meneruskan sekolahnya.

Namun Darsono tidak patah semangat dalam meraih dan mengejar cita-citanya. Ia rela menjadi buruh di tempat pembuatan batu bata merah agar bisa mendapat biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Hal yang sama ia lakukan pada saat hijrah ke Jakarta. Ia menjadi buruh, berdagang elektronik, serta menjadi guru.   

Dari beberapa kisah sukses diatas, bolehlah kita tanyakan, apakah masa remaja mereka dihabiskan dengan galau, galau dan galau? Apa galau termasuk dalam kamus sukses mereka?

Otak, akan merekam suatu peristiwa (kata-kata) yang dilakukan berulang-ulang dan akan meninggalkan jejak-jejak pada pikiran kita. Karena itu, biasakan mendengar (berkata) dan melihat hal-hal yang baik, yang dapat memacu motivasi diri ke arah yang lebih baik. Bukan sebaliknya.

Seperti  yang dikatakan oleh Ahmad Junaedi, pemuda penggagas kegiatan dan tempat belajar untuk anak-anak Rawa Malang Cilincing Jakarta (sebuah lingkungan PSK yang beroperasi 24 jam), “ Kita buat yang terbaik, mulai dari bangun tidur, sampai kita tidur lagi, lakukan yang terbaik.”

So, mau jadi remaja sukses?? Hapus kata galau mulai dari sekarang....




Kamis, 17 Mei 2012

SHE'S NOBODY



Pada bulan Juni, seorang musisi asal Amerika Serikat, Lady Gaga, direncanakan akan menggelar konser di Senayan Jakarta. Namun, banyak pihak yang melakukan protes atas kehadirannya. Umat Islam, melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI), menolak keras kehadiran Lady Gaga di Indonesia. Sikap ini seiring dengan keputusan yang dikeluarkan pihak Kepolisian Daerah Jakarta, menolak konser Lady Gaga. Selain Indonesia, Malaysia pun menolak Lady Gaga. Yang terbaru adalah Filipina. Kelompok Kristiani  menolak Lady Gaga yang akan menggelar konser disana.

Sejak awal kemunculannya, Lady Gaga memang telah memicu kontroversi, bahkan di negaranya sendiri. Mari kita tengok sampul album terbarunya. Disitu terlihat  jelas gambar salib yang letaknya terbalik dan nama Judas yang bertengger tepat  diatas nama Lady Gaga.

Dalam agama Kristiani, Judas Iscariot (Yudas Iskariot) telah dianggap sebagai pengkhianat kepada Yesus . Ini disebabkan oleh tingkah lakunya yang telah melakukan penghianatan kepada Yesus dan pengikutnya.

Di kalangan orang Kristen, nama Yudas Iskariot sudah tidak asing lagi. Dia dianggap sebagai pengkhianat karena telah menyerahkan Yesus Kristus kepada imam-imam kepala dengan harga 30 keping perak (Matius 26:14-15).Matius 27:5 mencatat bahwa Yudas melemparkan uang perak yang diterimanya ke dalam Bait Suci, lalu pergi menggantung diri, dan kemudian oleh Imam-Imam uang tersebut dibelikan sebidang tanah, yang disebut Tanah Tukang Periuk, sebagai tempat pekuburan orang asing. Dalam Kisah Para Rasul 1:18 kemudian diceritakan bahwa Yudas Iskariot telah membeli sebidang tanah sebelum ia akhirnya "jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar" -- tanah tersebut pada akhirnya dinamai Tanah Darah, atau Hakal-Dama.

Ohohohoh
I'm in love with Judas

Ohohohoh
I'm in love with Judas

Judas! Judaas Judas! Judaas
Judas! Judaas Judas! GAGA

Begitulah permulaan lirik lagu Lady Gaga ini yang jelas berpihak kepada Judas.

Ketika Gaga menyanyikan "I'm in love with Judas", salah seorang penari memakai baju bintang terbalik dikelilingi bahasa Hebrew. Simbol ini adalah lambang Baphomet yang menjadi lambang kepada Church Of Satanhttp://bundasuci28.blogspot.com/

Gambar salib yang terbalik, menandakan ketidakpercayaan Lady Gaga pada agama Kristiani. Ini menunjukkan mereka sangat anti terhadap Kristian. Mengherankan bukan? Mayoritas penduduk Amerika adalah Kristiani. Ini disebabkan warga Amerika sudah lama menolak kepercayaan mereka, jadi tidaklah heran jika Lady Gaga lahir di negara mereka.

Jika dicermati, begitu banyak simbol-simbol syaitan di video klip Lady Gaga. Tidak saja simbol, namun liriknya pun mengandung unsur kebencian pada tuhan dan kecintaannya pada syaitan. Coba kita dengar dan lihat video klip Alejandro.

Liriknya yang penuh penghinaan pada tuhan tergambar jelas. Lagi-lagi, Lady Gaga memakai lambang salib terbalik pada pakaiannya. Saat mengenakan pakaian itu, Lady Gaga menutup sebelah matanya, yang melambangkan “one seeing eye”. Salib terbalik dan pentagram terbalik adalah simbol yang selalu digunakan untuk berhubung dengan syaitan dan ritual memuja dan menyeru syaitan.

Begitu seringnya Lady Gaga menghina agama Kristiani dalam setiap lagu dan video klipnya. Bukan tidak mungkin suatu saat pun, Lady Gaga akan menghina agama lain, Islam misalnya. Dan ini tidak dicermati oleh media dan beberapa kelompok masyarakat.

Agenda illuminati untuk memisahkan agama dari kehidupan pribadi sudah mencapai tujuan. Hal ini tergambar jelas pada mayoritas masyarakat barat yang menjadikan Lady Gaga sebagai idolanya.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagian kecil masyarakat, sudah terpengaruh. Misalnya saja, seorang artis yang terkenal dengan goyang erotisnya berkata bahwa kenapa Lady Gaga dilarang? Hal ini tidak ada hubungannya dengan moral. Artis lainnya pun mengatakan hal yang hampir sama. Ia berkata bahwa, Lady Gaga bukanlah babi, jadi tidak pantas jika diharamkan.

Siapa pihak yang paling dirugikan jika Lady Gaga tampil di Indonesia? Tentu saja umat Islam. Dan, siapa pihak yang paling dirugikan jika Lady Gaga tidak tampil di Indonesia? Jawabannya adalah pihak promotor dan para pembeli karcis.

Mana yang mayoritas?

Lady Gaga is nobody. Ia bukanlah pejuang Hak Asasi Manusia, bukan anggota pecinta alam seperti Greenpeace, bukan pula penyumbang dana untuk anak-anak yang kesusahan seperti Bill Gates. Lady Gaga hanyalah seorang penyanyi, pemuja syaitan, yang menggunakan seluruh kemampuannya untuk mencapai kekayaan dunia sebanyak-banyaknya.

Layakkah seorang Lady Gaga dibela dan kedatangannya diperjuangkan oleh “banyak” pihak? Dibicarakan hampir diseluruh media televsi, koran dan radio?

Silakan direnungkan.




sumber :

Rabu, 09 Mei 2012

GIRL POWER (bagian 1)


Tidak biasa. Itulah kesan pertama saya ketika berjumpa dengan beberapa gadis ini. Yang pertama, sebut saja namanya Elisa. Masih muda namun kaya dengan pengalaman.

Di kampuslah pertama kalinya saya berjumpa dengan gadis ini. Elisa sebenarnya dua semester diatas saya. Namun karena sering cuti, Elisa pun harus mengulang kembali kuliahnya. Pertama berbincang, tidak ada yang istimewa, kecuali, agak kelewat pede hehe...

Di kelas saya, alhamdulillah tidak ada batasan, antara ibu-ibu, nenek-nenek dan remaja. Semua bergaul seperti biasa. Seperti mahasiswi umumnya. Yang tua tidak memandang rendah yang muda. Begitupun sebaliknya.

Seperti kuliah pada umumnya, dalam beberapa mata kuliah, kami dituntut untuk membuat makalah secara bersama-sama. Makalah tersebut akan dipresentasikan dan didiskusikan dengan teman-teman sekelas.

Saat presentasi dan diskusi itulah saya melihat keistimewaan Elisa. Walaupun masih muda, namun wawasannya luas, mampu berkelit saat diskusi dan memberikan jawaban-jawaban yang lugas. Saat itu saya berharap bisa membuat sesuatu dengan gadis ini. Entah apa.

Yang menyatukan saya, Elisa dan teman-teman untuk membuat gerakan diawali dari tugas makalah tentang maraknya aliran sesat. Saat itu, kelompok saya mendapat tugas untuk membedah tentang aliran syiah. Alhamdulillah, data-data yang terkumpul cukup banyak (sangat banyak), sehingga membuat kami dan teman-teman sekelas menjadi gelisah. Akan jadi apakah anak-anak kami, adik-adik kami kelak, jika aliran sesat terus berkembang.

Diskusi demi diskusi berlangsung hampir setiap saat sepulang kuliah. Dari diskusi tersebut, mengerucut ke sebuah pendapat, bahwa kami harus berbuat sesuatu. Apapun itu. Yang jelas untuk memberikan “filter” pada remaja dan anak-anak agar tidak terpengaruh pada aliran sesat.

Elisa, sangat bersemangat. Hampir setiap hari kami berdua saling mengirim sms. Saya kagum. Saat remaja seusianya memutuskan untuk bersenang-senang, kongkow-kongkow di cafe, belanja dll, Elisa memutuskan untuk peduli pada anak-anak dan remaja seusianya. Subhanallah....

Dengan adanya Elisa di gerakan ini, kami seperti mendapat penyegaran. Banyak ide-ide brillian muncul dari Elisa. Seperti yang dilakukannya baru-baru ini. Membawa sekotak susu kemasan, kemanapun ia pergi.

Elisa seperti juga remaja lainnya. Kemana-mana menjadi “angkuters”, istilah untuk mereka yang sering menggunakan angkutan umum J. Bagi Elisa, akan lebih bermanfaat memberikan sekotak susu pada anak-anak pengemis ataupun anak jalanan dan anak pengamen. Karena, sebagian besar mereka justru menggunakan uang pemberian itu untuk dibelikan obat terlarang.

Sebagai anak terakhir dari tujuh bersaudara, juga sudah menjadi anak yatim, tentulah agak sulit untuk Elisa dalam mengatur keuangannya. Entah bagaimana caranya, saya juga sering dibuat heran dan kagum, selalu ada rejeki bagi Elisa. Ia tidak pernah absen membawa sekotak susu, juga selalu ikut kemanapun gerakan smartteen berjalan, walaupun denga begitu, menguras hampir sebagian besar isi dompetnya.

Elisa, selalu resah melihat ketidakadilan yang dialami remaja seusianya. Keresahan-keresahan itu terekam dalam beberapa sms nya yang ditujukan pada saya.

Diantaranya, keresahan pada temannya yang mengikuti aliran sesat JIL. Tanpa menunggu waktu lama, ia pun mengungkapkan keresahan itu melalui jejaring sosial dan pada saya. Begitupun saat beberapa orang memandang sebelah mata pada teman-teman Punk Muslim. Elisa lantang mendebat pendapat mereka.

Salah satu alasan Elisa berpihak pada Punk Muslim adalah, Elisa pernah merasakan sedikit kehidupan mereka. Walaupun hanya sedikit, tapi Elisa sadar, itu bukan tanpa sebab. Dan penyebabnya adalah saling berhubungan. Tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Elisa tidak pernah menyalahkan siapapun. Salut. Saat remaja lain tertangkap narkoba dan cenderung menyalahkan orang tua, Elisa sebaliknya.

Jujur saya malu. Saat dulu saya seusia Elisa, saya masih sibuk dengan dunia anak muda. Jalan ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Uang yang didapat dari hasil keringat, dipakai untuk senang-senang, dan masih banyak lagi. Malu sangat... L

Berbeda sekali dengan Elisa. Empatinya begitu tinggi. Hatinya selalu tergelitik untuk berbuat, ketika ada yang kesusahan. Sosok Elisa, semoga bisa menjadi contoh bagi anak muda lainnya, agar tidak menunda berbuat baik dan peduli pada sesama, sekecil apapun itu. 

Saya berdoa dan berharap agar Elisa tetap seperti ini. Tetap low profile dan istiqomah. Salam sayang selalu J #pelukcium.


Poem to my little sister

Adik kecilku, 15 tahun yang lalu, saat aku seumur denganmu, aku masih sibuk dengan dunia anak muda. Suka ria anak muda dan kenakalan khas saat itu. Hanya 20% dari pikiranku yang tersisa untuk memikirkan orang lain. Kuliah, hura-hura, bergaul dll, memenuhi agenda mingguan.mencoba hampir semua tempat jajan adalah hal yang sangat biasa bagiku. Tak peduli tatapan mata anak kecil yang kelaparan, pengemis jalanan, pemulung, pengamen dan lainnya. Kini, diusiamu yang dulu aku sibuk dengan egoku, engkau berikan 100% pikiranmu untuk mereka. Dalam tasmu tersimpan sekotak susu yang akan kau beri pada pengemis atau pengamen cilik. Sekotak susu yang terkadang berkejaran dengan ongkos harianmu yang pas-pasan. Adikku, subhanallah... maluuu aku padamu. Tetap dijalan ini. Tetap istiqomah. Semoga Allah selalu melindungimu.



Selasa, 01 Mei 2012

MEREKA ADALAH ANAK-ANAK KITA...


Apa yang dikatakan oleh teman saya siang itu, sungguh membuat jantung saya terasa berdebar lebih keras. Bagaimana tidak. Teman saya itu berkata, bahwa anak tetangganya yang berusia dua tahun, diperlakukan tidak senonoh (dilecehkan) oleh anak tetangganya baru yang berusia empat tahun. Astaghfirullahal’adzim….. beberapa saat lamanya saya hanya bisa istighfar dan terdiam. Bingung. Tidak tahu harus berkata dan berbuat apa.

Beberapa hari terakhir, kita disesakkan dengan berita-berita tentang meningkatnya perilaku seksual pada remaja di Indonesia. Seperti  yang dimuat dalam situs www.hidayatullah.com. Hasil survey yang dimuat oleh situs tersebut menyebutkan bahwa, 67% remaja berusia 10th-15th setiap harinya menghabiskan waktu tiga jam untuk menonton film-film (maaf) porno.

Dari survey yang dikeluarkan oleh Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2007, didapatkan data sebagai berikut ;


93,7% pernah melakukan kegiatan seks
62,7% remaja SMP tdk perawan
21,2% remaja SMU pernah aborsi
97% pernah menonton film porno


Data terbaru saya dapatkan dari majalah Ummi edisi November 2011. Disebutkan bahwa, pemerintah mengakui tingkat kehamilan di luar nikah sangat tinggi, mencapai 17% setiap tahunnya, yang akhirnya meningkat pada grafik aborsi. Survey yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyimpulkan, separuh remaja lajang di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi kehilangan keperawanan dan melakukan hubungan seks pranikah, dengan rentang usia 13th-18th. “Berdasarkan data dari 100 remaja, 51 diantaranya sudah tidak perawan,” ungkap Kepala BKKBN Sugiri Syarief. Menurutnya hal yang sama terjadi pula di Surabaya (54%), Medan (52%), Yogyakarta (37%), dan Bandung (47%).

Sikap melindungi oleh sebagian besar orangtua, memang sudah seharusnya dilakukan. Namun, yang perlu menjadi catatan kita adalah, bahwa, dalam Islam, kita harus perduli dengan sesama. Terlebih anak-anak. Karena mereka adalah generasi penerus. Kita memang harus melindungi anak-anak kita sendiri. Tapi jangan lupa, jika kita hanya men-shalehkan anak kita, tapi tidak men-shalehkan anak tetangga atau anak saudara ataupun anak teman-teman kita (misalnya), maka, suatu saat anak kita pun akan ikut terbawa atau terpengaruh oleh mereka.

Rasulullah saw sangat peduli pada anak-anak saudaranya. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw pada anak-anak pamannya. Salah satunya adalah ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas yang diajak jalan bersama Rasulullah saw di atas unta beliau. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah mengisi dengan beberapa pelajaran yang sesuai dengan jenjang usianya dan kemampuan daya pikirnya. Rasulullah saw mengajak Ibnu Abbas untuk berdialog ringkas dan mudah, namun sarat dengan makna yang agung. Rasulullah saw pun pernah menegur seorang bapak yang tidak pernah memeluk dan mencium anaknya.


Begitulah. Kita tidak bisa menutup mata pada kejadian di sekitar kita. Kita tidak bisa lagi berpangku tangan berharap ada lembaga tertentu yang peduli pada anak-anak “berperilaku aneh”. Ataupun hanya melindungi anak-anak kita sendiri. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjadi penonton, komentator atapun pengamat. Sekecil apapun itu, untuk kebaikan generasi penerus, lakukanlah. Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan guna menyelamatkan generasi penerus bangsa.  


Selasa, 03 April 2012

EMPATI YANG HILANG


Mikrolet M29
Mayasari 45
Metromini 77

Ketiga angkutan itulah yang akan mengiringi langkah saya dari rumah menuju kampus, hari ini. Berangkat pukul 11.00 WIB menuju kampus dikawasan Bangka Jakarta Selatan, semoga jalanan lancar dan cuaca tidak terlalu panas.

Saya menanti kendaraan pertama yang akan membawa saya ke daerah Cawang atas, yaitu M-29. Agak lama menunggu, Alhamdulillah, M-29 datang juga. Sebelum naik, sekilas, angkutan tampak penuh oleh anak-anak lelaki usia SMP. Dari penampilannya, terlihat mereka seperti habis berenang. Saya pun naik dan mencari tempat duduk dekat jendela yang terbuka. Melihat saya naik, tak satupun dari anak-anak lelaki itu bergeser untuk memberikan tempat duduk. Mereka asyik bercanda dan mengobrol. Akhirnya, setengah memaksa, saya menggeser salah satu anak lelaki yang duduk dibarisan kiri. Alhamdulillah.

Saya memperhatikan anak-anak itu. Kapasitas mikrolet, biasanya cukup untuk sepuluh orang, dengan komposisi enam empat. Bisa ditambah dua orang lagi, dengan bangku tambahan di dekat pintu. Saya lihat, sebenarnya, tempat duduk itu masih sangat luas. Tapi mengapa anak-anak itu enggan bergeser, memberikan tempat duduk untuk saya? Tanya saya dalam hati. Hmm… anak-anak ini, seandainya yang naik ibunya atau neneknya, apakah mereka juga bersikap tidak peduli?

Tidak lama kemudian, naiklah seorang ibu dengan anak perempuan berusia sekitar empat tahun. Dan, lagi-lagi, rombongan anak lelaki itu, tidak mau bergeser. Mereka tetap tidak peduli. Mungkin karena kasihan, bapak sopir pun meminta anak-anak lelaki untuk memberi tempat duduk. Mereka pun bergeser sedikit, tetap dengan sikap yang cuek bebek. Heeehh…

Mobil pun melanjutkan perjalanan menyusuri Kalimalang, menuju Cawang. Di Curug, mobil berhenti. Seorang ibu paru baya naik, dan masih seperti tadi, anak-anak lelaki itu tetap cuek. Sekali lagi, bapak sopir pun mengingatkan mereka, dan lagi-lagi mereka bergeser, namun masih tetap dengan sikap acuh. Saya bertemu pandang dengan ibu paru baya, tak sengaja, kami pun tersenyum samar. Senyum prihatin dengan sikap tidak peduli dari anak-anak sekarang.

Tiba di Cawang, saya pun turun dan melanjutkan perjalanan dengan Mayasari 45. Siang itu, bis agak kosong, jadi lebih leluasa memilih tempat duduk. Saya duduk agak ke belakang, agar nyaman membaca buku dan tidak terganggu dengan para pedagang yang sering meletakkan dagangannya di pangkuan penumpang.

Setelah menunggu agak lama, bis pun mulai penuh. Kursi-kursi terisi. Tepat di depan gedung Badan Narkotika Nasional (BNN), bis berhenti. Seorang ibu dengan dua orang anak perempuan berusia dua dan tiga tahun pun naik. Ibu itu agak kelimpungan memegang kedua anaknya yang masih kecil. Belum lagi semua tempat duduk sudah terisi penuh. Saat bis berjalan, seorang anaknya pun jatuh. Seorang bapak langsung membantu menolong. Tak jauh dari tempat ibu itu berdiri, enam orang remaja perempuan asyik mengobrol dan bercanda. Mereka saling melempar kata-kata. Sama sekali tak peduli dengan posisi ibu dengan dua orang anaknya yang mulai “terombang-ambing” bis. Saat bis berjalan, salah seorang anaknya pun reflek mundur, saat bis berhenti, anak-anaknya pun maju. Sementara, ibunya sibuk mempertahankan posisi berdirinya agar tetap stabil. subhanallah…. Remaja-remaja itu… tidakkah mereka kasihan dengan pemandangan itu?

Suasana bis yang agak penuh dan posisi saya yang agak dibelakang, tidak memungkinkan untuk memberikan tempat duduk untuk ibu dan anak-anaknya. Dari kejauhan saya melihat ibu itu mulai kewalahan mengawasi kedua anaknya dan mempertahankan posisinya berdirinya agar tetap stabil. Alhamdulillah, seorang bapak tua, memberikan tempat duduk untuk ibu itu.

Saya menghela nafas. Lega.

Turun dari bis Mayasari, saya kemudian menanti Metromini 77. Angkutan ini, memang terkenal ugal-ugalan, namun ,tetap dibutuhkan dan digunakan oleh sebagian besar penduduk ibukota. Selain karena tarifnya yang murah, juga karena jalurnya yang masih bisa menembus hingga ke perumahan penduduk.

Cukup lama saya menanti, Alhamdulillah, metromini 77 sudah terlihat. Segera saya naik. Jam saya kuliah, adalah jam pulangnya anak-anak sekolahan. Ga heran, jika metromini ini selalu dipenuhi anak-anak berseragam. Lagi-lagi, saya mengalami hal yang bikin hati sedih. Seorang ibu hamil, harus tetap berdiri bersama saya, sementara segerombolan anak-anak berseragam abu-abu, duduk dengan santai, bercanda sambil memainkan gadget mereka. Mereka sama sekali tidak peduli dengan orang-orang tua yang berdiri di sekeliling mereka.

Tiba di jalan Bangka dua, saya pun turun. Sekilas, saya melepas senyum pada ibu yang tengah hamil tua. Sekedar ingin mengatakan “sabar dan hati-hati ya bu”. Ibu itu pun membalas senyum saya.

Ya Allah, saya berharap, semoga generasi muda yang saya temui sepanjang perjalanan dari rumah menuju kampus, bukan menggambarkan sikap kebanyakan dari mereka. Mudah-mudahan generasi muda yang saya temui itu, hanya sebagian kecil. Semoga diluar sana, masih banyak generasi muda yang peduli dengan lingkungan sekitarnya dan kejadian di sekelilingnya. 


Senin, 09 Januari 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN, BERNAMA ORANGTUA


Orang tua adalah sekolah kehidupan pertama bagi anak

Jujur, saya tidak pernah terlalu tertarik untuk membaca berita criminal dalam-dalam. Sekedar tau judulnya, bagi saya sudah cukup. Namun, satu peristiwa criminal yang diberitakn sejak minggu lalu hingga hari ini, membuat hati saya sangat miris.

Minggu lalu, sesosok mayat perempuan di temukan (maaf) tanpa busana di Kampung Mangga, Depok. Saat itu, tidak ditemukan identitas apapun di dekat mayat tersebut. Berbagai spekulasi segera “berseliweran”, menebak-nebak penyebab kematian perempuan tersebut.

Dan hari ini, identitas mayat itu pun terungkap. Sangat miris. Ternyata perempuan itu masih berusia remaja, yaitu 16 tahun. Dan yang lebih membuat saya geleng-geleng kepala adalah, cerita yang mengalir dari mulut ayahnya.

Perempuan remaja itu (sebut saja) bernama AK. Ia berasal dari keluarga broken home. Ayah dan ibunya pisah rumah sejak tahun 2006, namun mereka belum resmi bercerai. Menurut cerita sang ayah, sebelum orangtuanya berpisah, AK adalah anak yang baik, berprestasi dan tidak maca-macam. Namun, semua itu berubah drastis setelah kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah. AK menjadi anak yang susah diatur. Sering bolos sekolah. Hingga sekolahnya pun harus pindah. Selain sering bolos, AK pun jarang pulang ke rumah. Semenjak kedua orangtuanya pisah, AK memang tinggal bersama ibu dan neneknya. Ayah AK masih ingat, jika ia bertemu dengan AK, ia selalu cerita tentang banyak hal, AK bercerita ia punya banyak teman, bahkan punya pacar, namun AK tidak pernah memperlihatkan foto cowoknya itu. Ayah AK juga terkenang, dulu, sebelum ia memutuskan berpisah dengan ibu AK, AK adalah anak yang cerdas.

Subhanallah…… sungguh miris membaca kisah diatas.

Tanpa bermaksud menyalahkan siapapun. Ibu dan ayah yang terhormat, anak tidak pernah minta dilahirkan. Ketika dua orang memutuskan untuk menikah dan mempunyai anak, maka, mulai saat itu, mereka harus bertanggung jawab penuh atas anak-anak mereka. tidak ada lagi ego pribadi. Orientasi pun berubah, yang tadinya orientasi diri dan pasangan, sejak anak lahir, semua orientasi ke anak.

Apapun yang orang tua lakukan, akan tercermin pada anak. Karena bagaimanapun juga, anak adalah cerminan orangtuanya. Bagaimana anak, ya bagaimana orangtuanya. Anak itu seperti kertas putih, polos dan masih kosong. Orangtua lah yang mengisinya, menulisnya dan menggambarnya. Apa yang hendak ditulis orangtua? Apa yang hendak di gambar orangtua? Ketakwaan pada Allah swt? Kekayaan duniawi? Konsumtif? Atau apa???

Kata yang diucapkan anak pertama kali adalah apa yang sering ia dengar. Jadi, jangan kaget, jika ada orangtua yang (maaf) dirumah sering menyebut nama-nama binatang, maka yang akan diucapkan pertama kali oleh si anak pun nama-nama binatang. Jika anak seperti itu, apakah orangtua marah??

Astaghfirullahahadzim…..

Sebagai orangtua muslim, kita tentu telah menyadari, bahwa jika kelak kita telah menghadap Allah swt, yang dapat menyelamatkan kita salah satunya adalah doa anak-anak yang shaleh. Jika kita tidak mempunyai anak yang shaleh, siapakah yang akan mendoakan kita kelak???

Orangtua adalah sekolah kehidupan pertama bagi anak. Anak akan belajar apapun dari orangtua. Anak pertama kali bisa berjalan, karena orangtua, anak pertama kali bisa berkata karena orangtau, yang pertama kali mengajar mengunyah, menari, tertawa, tepuk tangan, tersenyum, semuanya adalah orangtua.

Betapa indahnya jika orangtua menanamkan tauhid sejak dini pada anak. Anak hanya akan takut pada Allah swt. Ketika adzan berkumandang, walaupun tidak ada orangtuanya, anak bersegera shalat. Ketika masuk waktu maghrib, anak akan reflek menghentikan semua kegiatan dan segera shalat, setelah langsung membaca Al-Quran.

Anak-anak yang sejak awal ditanamakan tauhid, ia tidak akan takut kecuali pada Allah swt. Emosinya stabil. walaupun orangtuanya tidak ada dirumah, dan tidak melihat apa yang ia lakukan, namun ia percaya ada Allah swt Yang Maha Melihat. Walaupun ia kehilangan ayah dan ibunya, ia percaya masih Allah swt akan menjaganya.

Subhanallah… ibu, ayah, yang terhormat, mari, kita tanamkan tauhid sejak dini pada anak. Jangan sampai terlambat, jangan sampai menyesal.