Selasa, 19 Maret 2013

SELAMAT JALAN BLEKIS


Seorang anak muda menghampiri saya. Tanpa basa basi ia langsung bertanya, “Bunda, boleh ngobrol berdua?”

Sejak itulah saya dekat dengannya. Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria Tangerang, ia biasa dipanggil Blekis. Tidak mudah mendekati anak Lapas dengan kasus yang berat seperti Blekis. Rata-rata mereka menutup diri. GPR sendiri butuh waktu tiga bulan lebih untuk bisa mengambil hati mereka.

Bercerita tentang kasus yang dilakukannya, sungguh membuat hati pilu. Sering saat saya ngobrol dengannya, tidak menyangka jika Blekis dapat melakukan kejahatan itu. Tapi, yang lalu biarlah berlalu, nasi sudah menjadi bubur.

Blekis dan anak Lapas lainnya memang sudah melakukan kejahatan. Setiap manusia pernah melakukan dosa. Tidak ada manusia yang suci. Namun, jangan terlalu lama tenggelam dalam dosa. Sekarang saatnya bertaubat dan bangkit. Hal itu pula yang sering GPR katakan pada Blekis dan teman-temannya.

Blekis memang menunjukkan kemauan untuk berubah. Setiap saya dan teman-teman GPR berkunjung, Blekis selalu mendekati dan bertanya tentang banyak hal. Yang paling sering ditanyakan adalah bagaimana cara bertaubat dan apakah taubatnya diterima oleh Allah...

Saat akhir tahun 2012, GPR memutar film “Mama Cake”. Blekis sangat tertarik dan duduk paling depan. Walau ruangan di Lapas panas dan pengap, itu tidak menghalanginya untuk menonton film hingga usai.

Saat film berakhir, Blekis mendekati saya, ia berkata, “Bun, Blekis pingin belajar baca Alquran. Bunda mau ngajarin Blekis ngaji?” subhanallah... kalimat seperti ini bagaikan oase, sejuuukkk sekali. Alhamdulillah, Blekis mengutarakan keinginannya tanpa paksaan.


Blekis bertopi merah, sesaat sebelum outbond Lapas


Masih banyak perkataan Blekis yang membuat saya dan teman-teman GPR bahagia. Misalnya, “Bunda, tiap hari dong ke Lapasnya...” atau “Bunda, buka konseling di pojok curhat deh, nanti pasti Blekis kesana...”

Namun kalimat yang memotivasi kami adalah permintaannya akan rumah singgah. Blekis berkata, “Bunda, punya panti asuhan ga? Bleksi pingin ikut bunda aja. Blekis ga mau kembali kelingkungan yang lama.”

Karena keinginan Blekis juga ternyata teman-temannya yang lain, GPR berjuang untuk membuat rumah singgah khusus mantan anak Lapas. Memang tidak mudah bagi mantan Lapas untuk kembali ke lingkungannya. Banyak yang menolak, tidak jarang yang mencaci. Bahkan ada juga yang kembali ke kebiasaan lamanya seperti mabuk-mabukkan atau obat-obattan.

Sambil berjuang membangun rumah singgah, GPR juga akan mengadakan pembinaan selama enam bulan. Pembinaan ini berlangsung mulai bulan mei hingga nopember. Selain itu juga akan diadakan kelas menulis selama tiga bulan berturut-turut. Dari kelas menulis itu rencananya akan diterbitkan buku kumpulan anak Lapas.

Semua itu dilakukan dengan ide-ide dari Blekis. Saya teringat, satu minggu sebelum Blekis meninggal, saya mengingatkannya untuk ikut dalam kelas menulis dan ia menyetujuinya....
“Blekis jangan lupa ya, minggu depan ikut kelas menulis.”

“Ya bunda, Blekis pasti ikut. Bunda mau pulang ya?” Hati-hati ya bunda...”

“Iya, Blekis juga hati-hati disini, jaga diri, jaga kesehatan...”

Ternyata itulah perbincangan terakhir saya dengan Blekis.

Blekis yang mempunyai semangat besar untuk berubah. Blekis yang memberikan ide untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seru di Lapas. Dan Blekis yang selalu tersenyum menyambut kedatangan kami...


"Bunda, tolong cetakin foto ini ya, Blekis pingin pajang di kamar"


Selamat jalan Blekis, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, semoga Allah menerima taubatmu, semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu.... aamiin ya Rabbal’alamin....

Rabu, 30 Januari 2013

MEMILIH TEMAN


Satu minggu ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan berita tertangkapnya beberapa artis papan atas. Ini terkait dengan pestanarkoba yang disinyalir dilakukan di salah satu rumah artis. Yang semakin menghebohkan adalah, para artis yang ditangkap, dimata masyarakat termasuk artis baik-baik.

Benar atau tidaknya mereka menggunakan narkoba, sebaiknya kita serahkan pada pihak yang berwenang. Sebelum ada ketetapan, hendaknya kita berbaik sangka.

Ada hal yang menarik untuk menjadi catatan kita, orangtua khususnya. Beberapa hari setelah kejadian penangkapan, salah seorang ibu tersangka diwawancara oleh salah satu stasiun televisi swasta. Ia didampingi oleh seorang psikolog.

Diskusi memfokuskan pada acara kumpul-kumpul (pesta) di rumah tersangka, yang diadakan pada pagi hari menjelang subuh. Selain itu, salah seorang artis yang juga anggota dewan terhormat, sebelumnya menghabiskan malam di sebuah cafe dibilangan Kemang. Hal ini diperkuat oleh statusnya di akun twitter serta beberapa foto yang diunggah oleh teman si artis.

Pembawa acara menanyakan hal itu pada psikolog, apakah wajar perilaku seperti itu. Psikolog pun menjawab. Hang out atau refreshing adalah hal yang wajar dilakukan warga ibukota. Apalagi seorang pekerja keras yang setiap harinya dituntut bekerja maksimal. Namun, hendaknya, refreshing atau hang out pun dipilih tempat dan bersama siapa hang out itu dilakukan.

Secara tidak langsung, psikolog menyarankan untuk memilih tempat yang baik, juga teman yang baik. Jika tersangka misalnya menghabiskan waktu refreshingnya di tempat ibadah, apakah mungkin akan ditangkap atau digrebek??

Sekali lagi, sebaiknya kita menjauhkan hati dari tuduhan. Tulisan ini ditujukan untuk menegaskan apa yang dikatakan oleh psikolog diatas, bahwa, melakukan refreshing boleh saja, asal dilakukan di tempat yang benar dan bersama orang-orang yang betul-betul kita kenal baik.

Islam mengajarkan secara jelas dalam hal memilih teman. NabiMuhammad saw bersabda, “Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup ubupan. Penjual minyak wangi bisa memberimu tanpa kita harus membeli, dan atau-paling tidak-engkau akan mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan peniup ubupan bisa membakar pakaianmu atau engkau akan mencium bau busuk darinya.” HR. Bukhari dan Muslim.

Imam Al-Nawawi berkata, “Hadist ini berbicara tentang keutamaan bergaul dengan orang-orang saleh, pelaku kebaikan, memiliki tatakrama, berakhlak mulia, wara’, berilmu dan mempunyai sopan santun. Sebaliknya, hadist ini melarang kita bergaul dengan pelaku kejahatan, bid’ah, suka bergunjing, berbuat dosa dan sikap tidak terpuji lainnya.” (An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim jilid 16, hlm 178)

As-Sa’di ra menjelaskan panjang lebar, “Melalui hadist ini Nabi Muhammad saw meletakkan perumpaan yang jelas bahwa bergaul dengan orang saleh dalam keadaan apa pun akan mendapatkan limpahan kebaikan, sebagaimana manfaat yang bisa didapatkan dari penjual minyak wangi, baik melalui hibah atau jual beli. Paling tidak, selama bersamanya, seseorang akan mendapatkan ketenangan jiwa disebabkan bau harum mewangi. Padahal, manfaat yang akan diperoleh dari bergaul dengan orang-orang saleh lebih besar dan lebih tinggi dari pada sekedar minyak wangi pilihan. Sebab, mereka bisa mengajari segala hal yang bermanfaat bagi agama dan dunia, memberi nasihat, menegur dari perbuatan negatif, mengajak taat kepada Allah dan orangtua, menyambung silaturahim, membuka mata hati dengan perkataan dan perbuatan, serta sikapnya mengajakmu pada akhlak yang mulia.

Manusia punya kecenderungan besar untuk mencontoh temannya. Watak dan ruh adalah pasukan yang saling bersekutu, masing-masing mengajak pada kebaikan atau sebaliknya. Manfaat terkecil yang dapat diperoleh dari bergaul dengan orang saleh adalah terhindar dari perbuatan buruk dan maksiat, menjaga persahabatan, berlomba dalam hal kebaikan, menghindari kejahatan, menjaga ketika ada dan tiada, cinta dan doanya bisa bermanfaat ketika hidup maupun sesudah mati, serta senantiasa memberikan perlindungan. Hal ini tidak bisa disepelekan. Memang, perlindungan tersebut tidak akan dirasa olehmu. Tetapi bisa jadi mereka akan mempertemukan dengan seseorang atau perbuatannya dapat bermanfaat.” (Bahjat Qulub Al-Abrar)

Ibu Elly Risman, pakar pendidikan anak pun mengatakan, sebaiknya kita memilihkan teman yang baik untuk anak-anak kita. Selain baik, kita pun harus mengenal lebih dalam misalnya, orantuanya siapa, pekerjaan orangtuanya apa, dimana rumahnya, ada siapa saja dirumahnya dan sebagainya. Ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Faktor teman, juga menjadi salah satu sebab sebagian besar remaja ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria Tangerang. Terutama untuk kasus tawuran. Tawuran terjadi rata-rata karena rasa solider terhadap sesama teman yang terlibat perkelahian. Merasa senasib, maka mereka pun bertarung bersama, hingga menyebabkan cacat atau meninggal.

Di Lapas Anak Pria, kasus tawuran menduduki peringkat kedua setelah kasus narkoba. Tak jauh beda dengan tawuran, narkoba pun menular dari teman ke teman. Pertama diajak untuk rasa solidaritas, lama kelamaan menjadi ketagihan, kemudian memakai, setelah itu menjadi pengedar.

Tidak mengherankan jika Rasulullah saw secara tegas menganjurkan kaum muslim untuk memilih teman yang baik, teman yang saleh. Karena teman yang baik akan membawa kita pada kebaikan bukan pada keburukan.

Allah swt memberi hikmah dengan berbagai cara. Banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari kejadian ini. Memilihkan teman yang baik bagi anak-anak kita adalah kewajiban bagi para orangtua. Kita tentu tidak mau hal yang sama terjadi pada keluarga kita.

Alhamdulillah kita terpilih sebagai muslim yang menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan. Karena itu, patuhilah segala yang Allah perintahkan dan yang Rasulullah saw katakan.

Wallahualam....




Senin, 28 Januari 2013

MAAF....


Bismilahirrahmannirahim...

Subuh itu, komplek perumahan saya digegerkan oleh pengumuman meninggalnya salah seorang pengurus masjid. Beliau termasuk pendiri masjid dan sesepuh daerah saya. Spontan saya berucap innalilahi wainnailaihi rajiun... ya Allah... rasanya tak percaya. Karena beberapa hari yang lalu, saya sempat bertemu dan beliau baik-baik saja. Begitupun yang dikatakan oleh abinya. Saat shalat isya di masjid, masih bertemu beliau dan beliau dalam keadaan sehat walafiat.

Qullu nafsin dzaiqatalmaut... begitulah yang Allah katakan. Setiap yang hidup, pasti akan merasakan mati. Tumbuhan, hewan dan manusia. Dimanapun kita berada, bila saatnya tiba, kematian akan datang pada kita.

Saya pun bergegas menuju rumah alhamarhum, yang juga tetangga dekat. Rumah kami sangat dekat. Hanya beda empat rumah saja. Setiap hari pun saya beberapa kali melewati rumah beliau. Pagi hari ketika mengantar anak sekolah, siang ketika mengantar makan siang anak, belum lagi jika hendak ke warung ataupun ke masjid.

Pagi itu, sepertinya alampun berduka. Gerimis dan mendung sejak pagi menghiasi langit Jakarta. Saat tiba dirumah duka, telah ramai oleh tetangga dan kerabat dekat. Tenda baru usai dipasang. Kursi-kursi disiapkan.

Saya bergegas masuk kedalam rumah. Saya segera menghampiri istri almarhum. “Tante....” sapa saya tercekat. Ia segera memeluk saya. Lama kami berpelukan. Wanita yang biasa saya sapa tante, terisak tak sanggup berkata sepatah katapun. Sayapun begitu. Saya memeluknya erat. Menenangkan sambil mengelus punggungnya.

“Uci... maafin om ya. Kalau ada yang salah. Sikap dan kata-kata. Maafin ya...” kata tante sambil terus memeluk. Saya mengangguk. “InsyaAllah tante, om baik. Ga ada yang salah.” Jawab saya.

Tante masih terus menangis dan memeluk saya. “Uci, tante belum sempat minta maaf sama om. Tante banyak salah...” ucap tante. Dan, tangis tante pun kembali meledak.
Allah.... pikiran saya melayang saat ayah meninggal.

September 2005, hanya beberapa hari sebelum ulang tahun saya. Kami merencanakan untuk makan bersama di tempat makan favorit keluarga.

Pagi itu, saya mengantar ayah untuk operasi pemasangan cincin di jantung. Hanya saya, ayah dan ipar yang berangkat menuju rumah sakit. Rencananya, ibu dan kakak-kakak saya akan menyusul siang hari. Karena dokter yang akan operasi adalah sepupu ibu, jadi kami sekeluarga tidak terlalu khawatir.

Hari itu berjalan seperti biasa. Saya masih sempat bercanda dengan ayah. Saya pun masih bolak balik ke rumah untuk mengambil baju ayah. Setelah ibu dan kakak saya datang, ba’da dhuhur, ayah pun masuk ruang operasi. Sayang sekali saya tidak mengantar ayah masuk ruangan, karena harus mengurus surat-surat yang tertinggal. Itulah penyesalan terdalam saya.

Saya tidak sempat mengatakan sepatah katapun. Apalagi mencium tangan ayah untuk meminta maaf. Saya tidak sempat melihat senyum terakhir ayah. Karena setelah masuk ruang operasi dan pemasangan cincin, ayah saya mengalami gagal jantung dan koma hingga meninggal.

Saya bisa merasakan betul apa yang tante rasakan. Tidak sempat meminta maaf. Apalagi saya sebagai anak, yang belum cukup shalih untuk bisa memakaikan ayah baju kerajaan di surga-Nya kelak. Saya anak yang masih banyak dosa. Belum bisa membahagiakan ayah.
Allah.... tante, saya tau apa yang tante rasakan.....

Saya masih menenangkan tante yang terus menangis.                                                                

Saya termenung dengan kejadian hari ini. Seringkali kita merasa bersalah, merasa kehilangan jika seseorang telah meninggalkan kita selamanya. Rasa benci, rasa marah, rasa kesal, tidak suka dll, tiba-tiba saja berubah menjadi perasaan bersalah (baca: penyesalan) yang teramat sangat.

Saat itu kita akan berpikir, seandainya saya tidak membencinya, seandainya saya tidak marah, seandainya saya sabar, seandainya saya lebih baik lagi... Yah, penyesalan memang datang terlambat.

Allah begitu sayang pada umat-Nya. Karena itulah, kita selalu diberi hikmah lewat berbagai kejadian. Salah satunya adalah kepergian orang yang kita cintai. Bagi yang sudah mengalami kehilangan orang-orang terdekatnya, tentulah paham rasa kehilangan.

Lewat kepergian orang yang kita cintai, Allah mendidik kita agar menghargai setiap detik yang kita habiskan bersama kerabat, suami, istri, anak, ibu ataupun teman. Allah mendidik kita untuk selalu bersikap baik, tidak berburuk sangka dan saling memahami satu sama lain. 

wallahualam....


Kamis, 06 Desember 2012

KENAPA LAPAS ANAK ???



Saya dan teman-teman telah terbiasa dengan pertanyaan heran dari beberapa orang yang kami temui. Misalnya saat salah satu tim GPR, Edas, bertemu seorang ibu di angkutan umum. Setelah saling melempar senyum ramah, akhirnya mereka terlibat perbincangan yang mengasyikkan. Saat Edas bercerita tentang kegiatannya di Lapas anak pria Tangerang, ibu tadi pun terkejut.

“Ngapain jauh-jauh kesana dek?”

“Kenapa Lapas anak pria?”

“Itu timnya perempuan semua? Emang ga takut?”

Yah, pertanyaan-pertanyaan diatas memang sudah sangat sering kami dengar. Begitupun ketika kami bercerita pada ormas-ormas atau yayasan-yayasan yang mempunyai tujuan sama dengan kami. Ekspresi mereka satu : HERAN...
Yah, sampai sekarang pun kami juga heran, kenapa kami bahagia sekali ketika bertemu anak Lapas?

Saat melihat senyum tulus mereka, melihat tawa mereka, mendengar kisah mereka, ada rasa yang tidak bisa kami ceritakan. Lebih dari rasa bahagia.
Bulan Desember ini, memasuki bulan ke sepuluh kami mengadakan kegiatan di Lapas anak pria Tangerang. Waktu yang masih sangat pendek dibandingkan dengan masa hukuman sebagian anak Lapas.

Saat pertama kali berkunjung, anak-anak Lapas masih memandang kami kaku. Senyum dan sapa sekedarnya. Kami pun bingung, harus memulai dari mana. Jujur, saat pertama kali mendengar beberapa kisah mereka, kami menangis. Kami berpikir, kok bisa ya, anak usia segini sudah menjalankan hidup sedemikian berat.

Kunjungan – kunjungan berikutnya, alhamdulillah berjalan lancar. Dari cerita mereka, kami jadi tau, bahwa sebagian besar mereka beragama Islam, namun kegiatan Islami sangat jarang. Beda sekali dengan kegiatan agama lain. Dalam sehari, sampai beberapakali kegiatan.

Tentu kenyataan ini membuat hati kami terbakar. Dari -+250 anak, 95% agama mereka adalah Islam. Namun, kegiatan Islami bisa dihitung dengan jari.

Memang sudah banyak LSM atau yayasan atau ormas yang mengadakan kegiatan di Lapas, tapi usianya singkat. Tidak sampai setahun. Hanya bertahan beberapa bulan saja. Dari informasi yang kami terima, alasan mereka tidak melanjutkan kegiatan di Lapas, karena kurangnya SDM dan dana.
Berbanding terbalik 180 derajat. Kegiatan agama lain, berlimpah dana dan tenaga. Bahkan sampai “luber”. Terbukti dengan banyaknya lembaga keagamaan yang mengadakan kerjasama dengan Lapas.

Selain itu, berinteraksi dengan anak Lapas itu “sesuatu banget” bagi kami.
Bisa dekat dengan anak Lapas, itu sebuah keistimewaan dan kebahagiaan yang ga ada bandingannya. Seperti yang terjadi pada salah satu aktivis #IndonesiaTanpaJil yaitu Fadly.

Hari itu kami dan Fadly mengadakan kunjungan rutin ke Lapas. Salah satu anak Lapas yang terkena kasus teroris (sebut saja Baba), terlibat pembicaraan seru dengan Fadly. Kami melihat hal itu seperti barang mahal nan mewah.

Bagaimana tidak, selama berbulan-bulan mengadakan kegiatan di Lapas, jarang sekali Baba mau bergabung dengan kami. Jangankan bergabung, sekedar menyapa saja sangat jarang. Bisa dihitung dengan jari.

Tapi ketika bertemu Fadly, subhanallah... mereka mengobrol asyik sekali, sampai-sampai Fadly lupa pulang. Saat ingin pulang pun, Baba masih mengejar Fadly sampai ke gerbang depan dan lagi-lagi mengobrol, dengan bahasa Arab pula. Subhnallah...

Dan, melihat Baba yang selama ini sikapnya dingin kemudian berubah ramah, itu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga bagi kami. Rasanya bahagiaaaa sekali.

Lain Baba, lain pula Fanfan (sebut saja begitu). Usianya baru 16 tahun. Dihukum karena kasus pembunuhan. Fanfan cukup fasih berbahasa Arab, bacaan Al-quran nya pun indah. Hukuman yang harus Fanfan jalani adalah tujuh tahun. Fanfan berada di Lapas mulai tahun 2011, artinya, jika tidak ada halangan, Fanfan baru akan menikmati dunia luar, tahun 2018. Subhanallah... waktu yang sangat panjang.

Pertama kali bertemu Fanfan saat kami akan mengadakan kegiatan di masjid Lapas. Saat itu, ketua DKM meminta tolong Fanfan untuk menyiapkan sound system. Kami pun menegur Fanfan seperti biasa.

Setelah itu, setiap kunjungan ke Lapas, kami selalu bertemu dengan Fanfan, tapi Fanfan tidak pernah mau mendekat. Hanya sekedar senyum, salam, kemudian menghilang. Tidak ada perbincangan hangat diantara kami.

Semua tim selalu berusaha keras mendekati setiap anak Lapas. Walaupun itu bukan hal yang mudah. Begitupun kami berusaha keras dengan berbagai cara untuk mendekati Fanfan. Namun, usaha berbulan-bulan mendekati Fanfan belum juga tampak.

Dan... Allah Maha Baik.... 4 Desember kemarin, saat latihan marawis, Fanfan pun menghampiri kami. Ia bercerita tentang berbagai hal. Subhanallah.... Allahuakbar... Fanfan mau mendekati kami. Ya Allah.. terima kasih...
Saat latihan marawis, Fanfan pun meminta kami untuk mengambil gambarnya. 

“Bun, foto aku dong...”

Subhanallah.... Ya Allah... jujur, kami tidak bisa berkata apapun. Bahagia yang tak terhingga. Itu yang kami rasakan.

Fanfan yang selama ini selalu menghindar. Fanfan yang selama ini hanya melempar senyum, Fanfan yang selama ini bersikap dingin dan kaku.... hari itu Allah telah membuka hatinya. Terima kasih ya Allah....

Begitulah...

Jika sampai sekarang ada yang bertanya pada kami “kenapa ke Lapas?” wallahualam... hanya Allah yang tau betapa bahagianya kami jika melihat mereka berubah menjadi lebih baik.


Kamis, 08 November 2012

GRASI OLA


Pada 12 Januari 2000, polisi menangkap Mairika Franola (biasa dipanggil Ola), Deni Setia Maharwa dan Rani Andriani di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka kedapatan membawa 3,5 kilogram heroin dan 3 kilogram kokain . Barang haram  tersebut sedianya akan diselundupkan melalui pesawat menuju London.

Karena perbuatannya itu, Ola dijatuhi hukuman mati. Namun, karena berkelakuan baik selama di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), maka Presiden SBY memberikan grasi atau penurunan hukuman pada Ola. Dari hukuman mati, menjadi hukuman seumur hidup.

Kontan saja hal ini mendapat reaksi keras dari para aktifis anti narkoba. Mereka menyayangkan keputusan Presiden. Tapi, mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Para aktifis anti narkoba hanya bisa protes melalui media.

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Hal itulah yang dialami Ola. Tak lama setelah pemberian grasi oleh SBY, Ola kedapatan mengendalikan perdagangan narkoba dari dalam Lapas.

Berbagai pihak segera bereaksi. Yusril Ihza Mahendra mengatakan, Ola tidak perlu diadili lagi. Menurutnya, Presiden SBY cukup melakukan pencabutan grasi, agar hukuman Ola yang semula seumur hidup, kembali ke hukuman awal yaitu hukuman mati.

Berbeda dengan Yusril, ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD berpendapat, grasi yang telah diberikan tidak perlu dicabut. Ola yang terbukti mengatur transaksi narkoba dari dalam Lapas, dapat ditindak pidana kembali, selanjutnya dijatuhi hukuman mati.

Sudah tak terhitung aktifis bicara tentang bahayanya narkoba. Barang haram ini bukan lagi dikonsumsi oleh kalangan berpenghasilan tinggi, namun juga merambah pada kelas menengah ke bawah. Bukan pula dikonsumsi orang dewasa saja, namun juga anak-anak kecil tak berdosa.

Narkoba itu bahaya laten. Bahaya seumur hidup yang tak dapat disembuhkan. Pengguna narkoba, akan mengalami penyakit yang dibawanya akhir hayat. Seperti penyakit AIDS yang sampai kini tak ada obatnya.

Para bandar mempunyai seribu akal dalam menjual barangnya. Dalam penyebarannya, para pedagang barang haram ini melakukan apa saja untuk memperoleh kekayaan. Mereka mengemas narkoba dalam bentuk permen, yang dijual pada anak-anak sekolah dasar. Mereka juga menggratiskan barang haram itu pada kalangan pelajar SMP. Hingga membuat anak-anak ketagihan dan terpaksa membeli.

Di Lapas Anak Pria Tangerang, kasus tertinggi adalah narkoba. Tapi, jika dilihat dari latar belakang ekonomi, rata-rata mereka berasal dari ekonomi bawah. Anak-anak ini adalah korban para bandar besar.

Mereka tertangkap tengah menggunakan narkoba “murahan” yang biasa dijual 10rb per bungkus. Mereka bukanlah kurir, apalagi bandar besar yang kaya raya, yang dapat menjual kiloan narkoba dan bisa memperoleh kekayaan dengan cepat. Mereka “hanya” mengkonsumsi narkoba karena ingin lari dari himpitan ekonomi.

Tapi, hukum tidak berpihak pada mereka. Rata-rata, masa tahanan mereka dari satu hingga lima tahun. Untuk mendapat pengurangan hukuman pun bukan hal yang mudah. Karena, mereka berasal dari ekonomi lemah.

Bandingkan dengan para bandar. Berapa keuntungan yang mereka dapatkan dari barang haram itu? Berapa generasi yang sudah mereka hancurkan? Dari dalam Lapaspun mereka masih bisa mengendalikan bisnis haram. Dan... mereka masih dapat pengampunan pula???

Semoga ini menjadi pelajaran terbaik bagi SBY dan aparat terkait untuk lebih hati-hati dalam memberikan grasi. Begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan.

Seorang terduga (sekali lagi TERDUGA) teroris, dapat langsung “dihadiahi” tembak ditempat. Mengapa untuk para bandar narkoba yang SUDAH JELAS menghancurkan masa depan penerus bangsa, masih bermurah hati???....


Selasa, 06 November 2012

PENGAMEN BENGIS


Bagi saya, ada beberapa waktu dimana naik angkutan umum di Jakarta, lebih nyaman daripada membawa  kendaraan pribadi. Diantaranya adalah saya bisa bebas membaca buku sampai tiba di tempat tujuan.

Tapi akhir-akhir ini saya sangat terganggu dengan tingkah beberapa pengamen. Yang tentu saja menghilangkan kenyamanan saya di angkutan umum.

Seperti siang itu. Setiap ke kampus di daerah Mampang, saya selalu naik bis dari UKI. Bis jurusan Cililitan-Blok M. Siang itu bis masih kosong. Masih ngetem menunggu penumpang. Alhamdulillah saya mendapat tempat duduk favorit yaitu dekat jendela. Saya pun langsung tenggelam dalam buku.

Tidak lama berselang, tiba-tiba dua orang pengamen muncul. Dua orang lelaki dengan penampilan yang membuat saya gerah. Tato berbagai gambar ada disekujur tubuh mereka. Juga tindikan anting. Salah satu pengamen bahkan menyematkan peniti di bawah bibirnya. Aahh, ada-ada saja. Terus terang, sejak dekat dengan teman-teman Punk Muslim dan anak-anak Lapas, saya tidak terlalu takut dengan penampilan mereka. Saya malah penasaran, jika mereka masuk Lapas, apakah mereka masih berani menakut-nakuti penumpang? ^__^

Saya masih melanjutkan membaca buku. Tiba-tiba salah seorang pengamen,mendekati kursi saya dan mulai berteriak-teriak.

“Ya yang pura-pura tidur atau baca buku, silakan melanjutkan kegiatan kalian. Asal tau saja, kami bisa gelap mata. Masih untung kami bernyanyi, tidak menjambret, merampok apalagi membunuh.”

???? Apakah maksud pengamen itu saya?? Saya pun langsung menatap tajam dirinya. Ya, walaupun agak ngeper juga, tapi kalau saya diancam dan saya merasa tidak salah, saya akan lawan sebatas kemampuan.

Pengamen itu mulai mengeluarkan kantong permen untuk meminta uang dari para penumpang. Tiba di kursi saya, saya tidak menatap kantong permen, tapi saya menatap matanya dan saya juga tidak memasukkan sepeser uangpun. Saya ingin tau, apa ia marah dan lalu menjambret saya di hadapan orang banyak? Ternyata.... tepat seperti dugaan saya. Dia tidak berani. Dia hanya melengos dan segera berlalu ke penumpang lain.

Heehh.... saya menarik nafas lega dan bersyukur....

Tapi, esok harinya saya tidak berani melakukan hal seperti kemarin. Siang ini, saya kembali naik bis yang sama. Dan seperti biasa, saya tenggelam dalam buku. Tak lama, seorang pemuda naik ke atas bis.

Dia tidak membawa alat musik apapun. Hanya sebuah tas kecil dan selembar kertas putih. Mulailah ia berteriak-teriak. Dan kali ini saya bergidik...

“Ya ibu-ibu bapak-bapak, sudah tau ya kalau pisau itu tajam. Silet yang saya pegang ini pun sangat tajam. Kalau tidak percaya silakan perhatikan saya.”

Iapun memperlihatkan sebuah silet kecil pada para penumpang. Kertas putih yang ada ditangan kirinya pun disobek-sobek dengan silet. Sekali tebas, kertas putih itu langsung terbelah. Saya menahan nafas, lalu, atraksi apalagi yang akan kau suguhkan? Tanya saya dalam hati.

“Nah, sudah liat ya ibu-ibu bapak-bapak, kalau silet ini sangat tajam. Sekarang coba perhatikan lagi.” Ia membuka salah satu lengan bajunya. Saya memperhatikan banyak bekas sayatan di tangannya.

“Lihat ya bapak ibu. Silet ini sangat tajam.” Dan ia pun mulai menyayat-nyayat lengannya dengan menggunakan silet itu.

Hhhheeehh.... saya langsung memejamkan mata. Saya tidak berani melihatnya. Ini orang maunya apa sih? Saya semakin penasaran.

“Bapak ibu, silet ini sangat tajam. Jangan sampai saya gelap mata. Saya tidak meminta banyak. Hanya untuk membeli sebungkus nasi. Harga sebungkus nasi yang tidak sebanding dengan tabungan bapak ibu sekalian.”

Ooo jadi itu maksudnya.... Ok. Naluri wanita saya muncul. Saya tidak berani. Tidak seperti pada pengamen bertato, kali ini saya tidak berani menatap matanya. Tangan saya sibuk mencari uang kecil. Saat ia tiba dihadapan saya, dengan cepat saya memasukkan uang ke kantong permen yang dipegangnya. Sambil berharap agar ia cepat turun dari bis.

Dua hari dengan ancaman yang sama, jangan sampai kami gelap mata. Kalimat itu dipakai sebagai alasan untuk mengancam penumpang. Dan cara itu cukup efektif untuk menghasilkan uang.

Saya menyayangkan sikap para pengamen yang seperti itu. Usia mereka masih muda. Masa depan mereka masih panjang. Sebenarnya masih banyak hal baik yang dapat mereka kerjakan. Mengapa mereka tidak berubah?? Apakah mereka tidak bisa berubah atau tidak mau berubah??

Jika tindakan seperti ini (ancam mengancam di angkutan umum) tidak bisa diberantas habis, minimal saya berharap, tidak ada regenerasi. Karena bisa saja suatu saat yang terjadi adalah sebaliknya. Penumpang yang merasa bosan diancam menjadi gelap mata dan berbalik mengeroyoknya.

Jika sudah begitu, siapa yang salah???...


IBU PENJUAL KETOPRAK DAN ANAKNYA


Setiap ada kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria Tangerang, saya dan teman-teman selalu menyempatkan diri untuk makan siang di depan masjid Al’Azhom.

Diseberang masjid itu terdapat berbagai makanan murah meriah. Ada soto ayam, nasi uduk, bakso, mi ayam, ketoprak, ayam bakar, minuman dll. Initinya, bagi kami, makanan di seberang masjid itu pas di kantong dan pas dilidah ^__^

Ketoprak memang salah satu makanan favorit saya. Karena itu, hampir setiap minggu saya tak pernah absen untuk membelinya.

Begitu juga siang itu. Saya dan Lisya kembali membeli ketoprak. Mungkin karena sudah berkali-kali membeli, ibu penjual ketropak pun sangat ramah pada kami.

Seperti layaknya makanan pinggir jalan, bangku dan meja disusun berhadap-hadapan. Saya mengambil posisi duduk disebelah Lisya agar lebih bebas ngobrol. Dihadapan kami, ada empat orang anak perempuan memakai seragam SMA. Agak jauh dari kami, juga terdapat gerombolan anak pria berseragam SMA.

Karena posisi mereka dihadapan saya, mau tidak mau, saya pun memperhatikan tingkah mereka. Anak-anak perempuan itu saling melempar senyum dan candaan pada gerombolan anak lelaki di seberang mereka.

Sebagai seorang ibu, saya malu melihat tingkah anak perempuan yang seperti tidak punya malu dan batasan. Tertawa bebas lepas, cekikikan, dan berbagai tingkah genit yang memang sepertinya ditujukan untuk memancing gerombolan anak lelaki.

Saya dan Lisya saling pandang dan hanya bisa geleng-geleng kepala.

Alhamdulillah tak lama, pesanan ketoprak pun datang. Perhatian saya dan Lisya bisa teralihkan ke makanan. Saya pun memesan minuman pada ibu penjual ketoprak. Ibu itu memanggil anaknya. Seorang pemuda yang sejak tadi duduk santai di dekat tumpukan minuman.

Saya langsung tertarik. Saya perhatikan, usia pemuda ini tak jauh dari usia anak-anak SMA yang bergerombol diseberang sana. Penampilannya bersih, sopan, dan gesit dalam melayani pesanan. Dan yang menyentuh hati saya adalah, pemuda itu sama sekali tidak malu membantu ibunya berjualan. Padahal, beberapa kali anak-anak perempuan SMA meliriknya. Namun, tak digubris.

Perhatian saya langsung beralih ke pemuda itu, anak ibu penjual ketoprak. Beberapa kali ia harus bolak balik membersihkan meja, mengantarkan pesanan, mencuci piring dan mangkok yang kotor dll. Dan itu dilakukannya tepat dihadapan anak perempuan SMA.

Tingkahnya sangat wajar, cenderung cuek malah. Ia sama sekali tidak mencari perhatian. Tidak juga berusaha melirik cewek-cewek itu. Malah kebalikannya.

Saya mempercepat makan. Ada rasa penasaran di hati saya.

Setelah membayar, saya pun mengajak ibu penjual ketoprak mengobrol.

“Itu anaknya bu?” tanya saya sambil menunjuk pemuda yang sejak tadi saya perhatikan.

“Iya bu, itu anak saya,” jawab ibu sambil tersenyum

“Subhanallah ya bu, mau membantu ibu jualan. Biasanya kan anak muda malu.”

“Alhamdulillah bu, semua anak saya ga ada yang gengsi. Dari kecil sudah bantuin saya. Ini anak keenam saya. Sebenarnya dia kerja bu. Jadi buruh pabrik. Kalau dia dapat shift malam, siangnya dia bantuin saya jualan. Kalo dapet shift pagi, malamnya bantuin juga.”

Subhanallah..... Alhamdulillah masih ada pemuda pekerja keras.

Kontras sekali dengan gerombolan anak perempuan dan anak lelaki SMA yang tadi ada diseberang saya. Gaya mereka yang sangat cuek, cari perhatian sana sini, merokok, bicara kotor, tidak menghargai orangtua. Beberapa dari mereka menggunakan handphone terkini, yang bisa dipastikan, untuk pulsanya, masih minta pada orangtua.

Sangat jauuhh berbeda dengan pemuda ini.

Ibu penjual ketoprak bercerita, sejak kecil, ia mendidik anak-anaknya untuk tidak gengsi, tidak malu bekerja apapun selama itu halal. Sambil merapikan kerudungnya, ia melanjutkan ceritanya.

“Kakak-kakaknya juga begitu bu. Anak saya yang pertama dan kedua, dulu kalau pulang kuliah, langsung bantu saya jualan. Mereka pulang dulu, ganti baju, trus langsung kesini. Kalau dirumah ya juga gitu. Semua dikerjakan sendiri.”

Alhamdulillah... Betapa bersyukurnya saya bisa mengobrol dengan ibu ini. pemahaman yang diberikan oleh ibu pada anak-anaknya sejak kecil bahwa hidup itu harus bekerja keras, rejeki harus dicari bukan ditunggu, jangan gengsi pada pekerjaan halal, karena gengsi tidak bisa membiayai hidup.

Subhanallah. Itulah beberapa kalimat yang saya ingat. Kalimat yang diucapkan seorang ibu penjual ketoprak. Kalimat yang mungkin menurutnya biasa saja. Tapi menurut saya, sarat dengan makna.

Sayang sekali, karena waktu yang terbatas, saya harus bergegas ke Lapas. Semoga minggu depan saya masih bisa mendapat pelajaran hidup dari ibu penjual ketoprak, dan semoga ia masih mau berbagi pengalaman pada saya.