Jumat, 10 Februari 2012

SUKA - "SUKA" (DUKA) MENUJU LOMBA PENULISAN ARTIKEL VALENTINE


Bismillah....

Sesuai keputusan rapat tim STSL, hari ini, 10 Februari 2012, kami menyebarkan brosur langsung ke SMP & SMA se kab/kota Bekasi. Penyebaran brosur dimulai dari arah Kalimalang menuju Bekasi Barat.
Sekolah pertama yang kami tuju adalah SMPIT di kawasan Jaka Permai Kalimalang Bekasi. Alhamdulillah, tanggapan pihak sekolah sangat baik. Awalnya, dengan tujuan untuk meringankan tugas guru, kami ingin menempel sendiri brosur lomba, namun, karena anak-anak masih melaksanakan kegiatan belajar, jadi kami mengurungkan niat untuk menempel sendiri brosur-brosur tersebut.

Keluar dari sekolah, kami pun menuju kantin yang berjejer tepat di sebelah gedung sekolah. Alhamdulillah lagi, kami disambut hangat oleh beberapa ibu kantin. Mereka sangat ramah dan dengan senang hati mempersilakan kami untuk menempelkan sendiri brosur-brosur lomba. Beberapa ibu kantin bahkan meminta brosur dan tertarik dengan lomba menulis, malahan, seorang ibu kantin ingin sekali ikut serta. Ibu itu berkata ,”Udah mba, saya aja yang ikut, nanti atas nama anak saya, gimana?” hehe… si ibu ada-ada aja, mau bohong kok sudah info ke panitia ^____^.

Selesai dari SMPIT, kami pun melanjutkan perjalanan ke sebuah SMPN yang terletak di kawasan Perumnas 2 Bekasi. Dulu, sewaktu masih tinggal di sekitar Bekasi, seingat saya, SMPN itu bernama SMPN 5, ternyata, sekarang telah berubah menjadi SMPN 7. Wah… betul-betul saya kurang mengikuti perkembangan Bekasi :P.

Alhamdulillah, sesampainya di SMPN 7 Bekasi, kami disambut ramah oleh satpam, begitupun guru piket. Kami pun disarankan untuk menempelkan sendiri brosur-brosur tersebut. Karena bertepatan dengan pulangnya anak sekolah, maka selain menempel, kami pun membagi-bagikan brosur kepada anak-anak yang baru keluar dari sekolah. Beberapa dari mereka tertarik, namun, beberapa tidak tertarik.

Ternyata, tak jauh dari SMPN 7, terdapat LPI swasta. Tanpa buang waktu, kami pun segera memasuki sekolah tersebut. Alhamdulillah sambutan pihak sekolah dan yayasan pun baik, begitu juga murid-murid. Selain sekolah, kami juga menempel lokasi strategir disekitar sekolah, seperti warung dan tempat fotokopi.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah SMAN yang masih terletak di wilayah Perumnas 2 Bekasi.

Mengunjungi sekolah ini, membuat ingatan saya melayang berpuluh tahun yang lalu. Terakhir saya menginjakkan kaki di sekolah ini adalah tahun 1995. Itu pun untuk melakukan legalisir beberapa surat keterangan. Subhanallah, sekolah ini sudah begitu megah, jauh sekali dibanding saat saya bersekolah. Pintu gerbang depan rapat terkunci dan hanya dibuka oleh satpam. Begitu pagar terbuka, saya pun harus melewati semacam lobi, dimana beberapa siswi sedang ayik duduk mengobrol disana.

Kami berjalan menuju guru piket untuk meminta ijin. Beberapa guru pun menyarankan untuk langsung meminta ijin ke humas yang ada di dalam guru. Berjalan menuju ruang guru, saya menatap sekeliling. Subhanallah, luar biasa perubahannya. Sekolah ini seperti bangunan sekolah swasta saja J. Alhamdulillah, ternyata beberapa orang guru masih saya kenal, walaupun mereka tidak ingat dengan saya :P . pertama yang saya sapa dan saya ingat betul adalah guru fisika saya dulu, yaitu pak Purwanto. Subhanallah, beliau masih segar, masih seperti dulu, ramah dan murah senyum. Selain itu, ada juga pak Tia, walaupun saya lupa lupa ingat, tapi Alhamdulillah, beliau ingat saya. Sambil mengobrol tentang perkembangan sekolah dan perubahan saya, saya pun tetap focus pada tujuan kami, yaitu menyebarkan brosur dan berharap sekali banyak murid dari alumni saya yang ikut serta.

Sambil mengobrol, ternyata seorang guru pria lain, membaca brosur yang kami berikan. Secara tiba-tiba, beliau berbicara agak keras. “Apa ini? Ga ada nih, SMAN ini ga boleh ikut-ikut yang beginian. Apa ini? Ga ada valentine valentinan. Pokoknya ga boleh ditempel disini.” Sambil berkata seperti itu, brosur pun di lempar ke atas meja. Beberapa guru yang sedang berbicara dengan saya pun agak terkejut, namun mereka tetap tersenyum. Saya pun hanya tersenyum. Teman saya yang masih ABG, agak “dongkol” ^____^,.

Sebenarnya saya ingin member penjelasan, namun berhubung guru tersebut langsung keluar ruangan dan tidak kembali lagi, jadi saya hanya menjelaskan pada pak Pur dan pak Tia. Jika sekilas membaca kata-kata yang tertera di brosur, memang tidak ada sama sekali kata-kata melarang perayaan valentine. Itu memang disengaja oleh tim STSL. Namun, kami pun tidak mengajak, apalagi menyarankan. Mengapa tidak ada kata-kata larangan pada brosur tersebut? Karena, berdasarkan survey, remaja saat ini, semakin dilarang, mereka semakin menjadi  jadi. Justru kami ingin mengetahui, apakah semua remaja muslim telah paham jika perayaan valentine itu dilarang dan terlarang?

Sebagai orangtua dan guru, seharusnyalah kita tidak menutup mata pada kenyataan pergaulan remaja sekarang. Sebagian remaja muslim, di sekolah memang tidak merayakan. Tapi lihatlah yang dilakukan mereka diluar sekolah. Saat di mall mereka sibuk membeli pernak pernik valentine, membeli coklat berbentuk hati, membeli boneka warna pink dan sebagainya.

Merekalah tujuan sebenarnya dari lomba menulis artikel ini. Kami memang tidak focus pada remaja ROHIS, karena, tanpa dilarang pun, mereka sudah mengerti untuk tidak melakukan perayaan valentine.

Selain itu, jika saja orang kenal dengan juri lomba, pastilah semakin yakin, bahwa lomba ini sama sekali bukan bertujuan untuk merayakan. Karena juri yang dipilih oleh tim STSL adalah seorang ustad yang sangat concern pada masalah pendangkalan akidah di kalangan umat Islam.

Setiap kegiatan, pastilah ada pro dan kontra. Sebagai masukan untuk tim STSL, insyaAllah, ke depannya kami akan lebih memperhatikan lagi kata-kata yang tercantum, sehingga tidak ada miss persepsi.

“pro dan kontra dalam melakukan jalan kebenaran adalah hal yang biasa. Yang luar biasa adalah istiqomah walau badai menghantam”.


wallahualambisawab....


Rabu, 08 Februari 2012

Menuju Lomba Menulis Artikel tingkat Remaja

subhanallah.... alhamdulillah terwujud juga agenda bulan ini. 

meskipun terseok-seok (dan masih :) ), alhamdulillah, Allah mentakdirkan tim STSL untuk tetap melanjutkan rencana lomba menulis ini. awalnya, seluruh tim sepakat untuk menunda pelaksanaan, selain karena waktu yang sangat mepet, juga seluruh tim harus melaksanakan ujian akhir semester.

itulah indahnya ukhuwah yang dijalin lintas usia :P, salah satu anggota tim STSL yang paling muda, tetep keukeuh meureukeuh :D untuk melaksanakan lomba ini. akhirnya, berkejaran dengan waktu, dan melalui "rapat dunia maya", seluruh tim mencapai kata sepakat.

kalau boleh disebut misson possible deh. semua betul-betul karena pertolongan Allah semata. mulai dari "nembak" juri :D, mencari dana, sampai ngutang dulu dengan pihak percetakan :). tapi alhamdulillah, semua dijalani tim dengan bahagia. semua dianggap ringan dan betul-betul berharap kemudahan Allah swt.

tim STSL sadar, ini baru langkah awal, masih banyak langkah-langkah kecil yang akan kita jalani, dan masih banyak juga batu-batu besar yang akan menghalangi jalan kami, tapi insyaAllah, Allah akan memudahkan langkah ini dan semoga langkah kecil ini bermanfaat untuk generasi penerus.



Kamis, 19 Januari 2012

RAKER SMART TEEN

Rencana Kegiatan Smart Teen Smart Love

Alhamdulillah.... dengan kesederhanaan, RAKER 1 Smart Teen Smart Love (STSL), bisa dilaksanakan juga pada tanggal 19 Januari 2012 kemarin. Dalam raker ini, tim STSL memperinci langkah-langkah program yang harus dilakukan selama setahun ini.

Program-program kegiatan STSL, rencananya akan dikaitkan dengan hari besar nasional setiap bulannya. Ada hal yang lucu ketika kami mencari hari-hari besar nasional. Ternyata, beberapa perayaan dengan tema yang sama, dirayakan di bulan yang berbeda. Misalnya saja, hari lingkungan hidup, ada di dua bulan yang berbeda. Wah kok bisa gitu yah? ^___^

Dalam penetapan program yang akan dilaksanakan, kami mengaitkan dengan hal-hal apa yang bisa dilakukan remaja. Misalnya saja hari lingkungan hidup. Rencananya, kami akan mengajak remaja peduli lingkungan di sekitar mereka, diantaranya dengan melakukan bersih-bersih kali. Dalam pelaksanaannya, kami akan mengadakan kerjasama dengan para pecinta alam. Sebenarnya banyak hal yang bisa remaja lakukan. Namun, karena keterbatasan tenaga, maka, untuk tahun ini, dalam satu bulan, program yang akan dilakukan maksimal hanya dua saja.

Karena tim STSL terdiri dari orang-orang yang "senang bermimpi" :P, maka, ketika usulan-usulan program terlontar dari masing-masing anggota, kami sudah sibuk dengan pikiran masing-masing. Sibuk membayangkan pelaksanaannya, siapa saja yang dihubungi, apa saja yang harus dikerjakan, mulai kapan harus bekerja dan masih banyak lagi. Sering kali, karena mimpi yang sudah terlalu jauh, membuat kami saling mentertawakan mimpi masing-masing. Hehe... tak apalah, biar tambah semangat ^____^...

Harapan kami, dengan adanya program-program bulanan yang dilaksanakan, akan memberikan pengaruh yang positif pada remaja, generasi penerus bangsa ini. Tentu saja, jika seluruh remaja positif, akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang positif, yang bisa membawa negeri ini ke arah yang lebih baik lagi. Hmmm... mimpikah??? Kenapa ga?? ^___^






Senin, 16 Januari 2012

HIJRAH, bagian dua

"sebuah kisah nyata, ketika seorang wanita memutuskan untuk mengenakan hijab"

"Saya itu bu, dulu termasuk anak yang sangat nakal. Ibu tau pil bk ga? Itu yang biasa dipake anak-anak jaman dulu kalo mo nge fly? Nah, saya dulu biasa pake obat itu." Jelas bu Lastri pada saya. Saya terbengong-bengong. "Subhanallah.... subhanallah...... Allahuakbar.... saya ga nyangka sama sekali." Ucap saya sambil memandang penampilan bu Lastri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bu Lastri pun tersenyum. "Saya maklum bu, memang ga ada yang menyangka masa lalu saya kelam." Dan cerita pun mengalir dari mulut bu Lastri.

Sebut saja namaku Lastri. Tahun ini usiaku genap empat puluh tahun. Alhamdulillah, aku telah menikah dan dikaruniai tiga orang anak yang shaleh, lucu dan sehat. Kehidupan rumah tanggaku sampai saat ini alhamdulillah baik-baik saja. Kalaupun ada kerikil-kerikil, aku anggap itu sebagai sebuah kewajaran dan ujian dari Allah, agar kita lebih baik dari waktu ke waktu.

Kalau aku melihat hidupku saat ini, sungguh aku merasa sangat sangat bersyukur. Rumah tangga yang adem, tentrem, anak-anak yang sehat, ekonomi keluarga yang cukup, dan masih banyak lagi. Bagiku ini seperti sebuah mimpi. 

25 tahun yang lalu, aku tak pernah membayangkan hidupku kelak akan seperti apa. Saat aku berumur lima belas tahun, saat pertama kali menginjak bangku SMA. Saat itulah kenakalanku dimulai.

Aku tumbuh di keluarga dengan pemahaman agama yang sangat minim. KTP keluargaku Islam, tapi kami jarang sekali shalat, apalagi membaca Al-Quran. Aku adalah anak kelima dari enam bersaudara. Kakak ku semua laki-laki, aku dan adikku yang kecil perempuan. Karena kakak ku laki-laki, maka aku pun terbawa dalam pergaulan ala laki-laki.

Penampilanku pun cenderung tomboy. Salah satu kegemaranku waktu itu adalah mengenakan celana jeans sobek-sobek. Kalau sobek nya semakin besar, semakin banggalah aku. Lama kelamaan, tanpa aku sadari, aku terpengaruh bukan hanya dari segi penampilan, tapi sudah masuk ke perilaku.

Aku mulai berani mencoba menghisap rokok. Awalnya, aku merayu kakakku untuk mengijinkan aku mencoba sebatang saja. Namun, akhirnya dari satu batang menjadi berbatang-batang setiap harinya. Orangtuaku tidak pernah melarang, karena mereka tidak terlalu peduli dengan pergaulan ku. Karena bagi mereka, selama nilai-nilai pelajaran ku bagus, tidak ada merah, itu sudah cukup.

Selain merokok, aku pun mulai berpacaran. Awalnya, aku diperkenalkan dengan salah seorang teman kakakku. Karena sering bertemu, akhirnya kami pun memutuskan untuk “jadian”. Cukup lama aku menjalin hubungan dengannya. Namun, karena setamat SMA diminta orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, maka kami pun akhirnya memutuskan hubungan.
Sejak itulah, selain aku tenggelam memakai obat-obatan, aku pun menjadi petualang cinta. Dari satu lelaki pindah ke lelaki lain. Jika aku mengingat masa kelamku, ya Allah… aku begitu malu pada Allah swt. Allah swt, masih memberiku waktu untuk bertaubat, walaupun dosa ku sudah begitu banyak. Ah, jika mengingat dosa, rasanya mata ini tak berhenti menangis. Kepala ini ingin selalu sujud, memohon ampun.

Begitulah, singkatnya, masa-masa sekolah SMA, aku menjadi wanita liar. Namun, entah bagaimana, dulu aku bisa mengikuti pelajaran dengan baik, lulus pun dengan nilai yang baik.

Saat menginjak bangku kuliah, aku mulai merasa bosan dengan pola hidup yang kujalani. Aku bosan dengan obat-obatan, bosan dengan para lelaki, bosan dengan kehidupan malam. Aku merasa seperti ada ruang hampa. Aku bosan. Benar-benar bosan. Rasanya ingin mati saja. Mungkin sudah jalan Allah swt, ketika aku mulai merasa bosan dengan hidupku, salah satu kakakku memutuskan untuk bertobat. Orangtua ku pun mulai sakit-sakitan. Ekonomi kami mulai terpuruk.

Aku mulai labil. Disatu sisi, aku tetap ingin kuliah, namun disisi lain, aku tidak tega membebani ekonomi keluarga. Aku kasihan dengan adikku yang selalu menunggak biaya SPP. Memang salah satu kakakku sudah ada yang bekerja, namun, itu belum cukup untuk membiayai obat-obatan kedua orangtuaku. Akhirnya dengan kemampuan seadanya, aku memutuskan untuk bekerja.

Saat itu, sebuah rumah sakit ternama di bilangan Lebak Bulus, membuka penerimaan karyawan baru, minimal D1 dan terbiasa menggunakan computer. Bersyukur pada Allah swt, walaupun aku bukan D1 jurusan computer, namun karena aku mahir dalam computer, maka aku pun diterima bekerja di rumah sakit itu.

Inilah awal titik balik hidupku. Setiap hari, di rumah sakit, aku melihat pemandangan yang menyejukkan. Aku berkenalan dengan beberapa teman kerja wanita yang memakai kerudung panjang. Dengan mereka, aku merasa sangat nyaman. Cara bicara mereka sopan, tidak pernah tertawa berlebihan, selalu tersenyum dan yang membuatku semakin kagum adalah kedekatan mereka dengan Al-Quran. Saat istirahat makan siang, sering mereka gunakan untuk membaca Al-Quran. Dengan suara pelan, wajah tertunduk khusyuk, mereka membaca ayat-ayat Allah swt dengan begitu indahnya. Sering kali aku terpana mendengarnya.

Perlahan, aku pun mulai memakai pakaian yang agak panjang. Aku mulai membeli buku-buku agama. Aku penasaran dengan teman-temanku yang memakai kerudung itu. Mengapa mereka mau menutup auratnya? Mengapa ketika berbicara dengan lelaki, mereka tidak berani menatap matanya? Mengapa mereka selalu membaca AL-Quran? Ada apa di Al-Quran? Begitu banyak pertanyaan yang menari di kepalaku, membuatku semakin sering keluar masuk toko buku.

Perubahan sikapku ternyata menjadi perhatian kakakku yang telah bertaubat. Suatu hari, ia mengajak aku untuk menghadiri sebuah pengajian di salah satu masjid besar di bilangan Kebayoran. Awalnya, aku menolak. Aku malu. Bingung. Aku harus memakai baju apa? Namun, kakakku meyakinkan, semua akan baik-baik saja. Tidak usah dandan berlebihan. Cukup masuk masjid, duduk, dan mendengarkan apa yang dikatakan penceramah. Kalaupun aku bosan dan tidak nyaman, kakakku bersedia mengantarku pulang. Begitu kata kakakku.

Akhirnya, aku memutuskan untuk ikut dengan kakakku. Berdua kami pergi ke masjid itu. Mendekati masjid, hatiku semakin campur aduk, perutku terasa tidak enak, keringat dingin mengucur. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku takut mati. Sangat takut. Sampai-sampai aku sesak nafas. Aku tidak pernah menderita asma. Namun, entah bagaimana, saat itu, nafasku terasa sangat sesak. Dadaku naik turun. semakin mendekati masjid, badanku terasa dingin. Aku tidak bisa bernafas melalui hidung. Badanku pun terasa kejang. Keadaan kami yang saat itu di kendaraan umum, membuat kakakku panic. Ia meminta sopir bus untuk menghentikan kendaraan. Kakakku memapah ku masuk ke dalam pekarangan masjid. Setelah itu dunia terasa gelap. Aku pun pingsan.

Tak berapa lama, aku merasa mendengar suara lantunan ayat-ayat Al-Quran. Aku pun merasa kaki ku seperti dipijit-pijit. Perlahan, aku membuka mata. Ah, aku merasa seperti dikelilingi oleh malikat. Beberapa wanita mengelilingiku. Aku kenal dengan salah satunya. Ternyata teman satu kantorku. Ia tersenyum. Aku kembali melihat sekeliling. Aku baru sadar, aku dibaringkan di salah satu pojok dalam masjid. Di kelilingi wanita berkerudung panjang, ditambah lagi dengan cat dinding masjid yang putih, cuaca yang sejuk, membuatku merasa damai, perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Sejak itu, aku memutuskan untuk mengenakan kerudung. Cukup sudah episode hidupku yang kelam. CUKUP. Aku tidak mau lagi kembali kesana. Aku tidak mau lagi hidup bergelimang dosa. Aku ingin hidupku tenang, aku ingin hidup dekat dengan Allah swt, aku ingin dicintai Allah swt.

Sejak itu pula, aku memutuskan untuk hijrah seutuhnya. Semua yang Allah swt haramkan, aku jauhi. Tentu saja ini perubahan yang besar dan berat. Namun, aku sudah memantapkan dalam hati, aku ingin taubatku benar-benar diterima. Cukuplah masa lalu sebagai kenangan. Aku tidak ingin terulang dan aku juga tak ingin keluarga ku mengalami hal yang sama.

Bu Lastri memandang saya sambil tersenyum. “Yah, begitulah bu, kisah saya. Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil hikmah yah. Jangan sampai ada yang seperti saya. Saya benar-benar bersyukur masih dikasih kesempatan oleh Allah swt untuk bertaubat.” Saya mengangguk. Ya, bu Lastri benar. Bersyukur dengan kesempatan yang selalu diberi Allah swt. Ah, sering kali kitalah yang tidak memanfaatkan waktu untuk bertaubat pada-Nya, dan ketika saatnya tiba, kita pun menyesal.

Ya Allah…. Betapa banyak hikmah yang bisa umat-Mu ambil. Betapa hidayah itu sangat dekat, namun begitu sedikit orang yang mau mengambilnya.


Rabu, 11 Januari 2012

HIJRAH, bagian satu


“sebuah kisah nyata, ketika seorang wanita memutuskan untuk mengenakan hijab”

11 tahun yang lalu

Widya terlahir dari keluarga muslim. Widya adalah anak terakhir dari empat bersaudara, yang kesemuanya adalah perempuan. Sejak lahir, Widya dan keluarganya tinggal di kawasan Bogor. Rumah mereka sederhana, hanya terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, satu dapur dan ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga dan ruang makan. Namun, walaupun sederhana, keluarga Widya tidak pernah merasa kekurangan.

Pengetahuan beragama orangtua Widya terbatas, sehingga menyebabkan Widya bebas bergaul dengan siapapun, baik lelaki, maupun perempuan, juga tidak pernah dilarang untuk mengikuti perayaan agama tertentu. Saat Widya duduk di bangku SMP, ia dan teman-temannya membentuk sebuah gank yang semuanya beranggotakan perempuan. Anggota gank terdiri dari lima orang. Saat itu yang ada dalam pikiran mereka hanyalah main, main dan main.  Jadilah mereka sering bolos sekolah, nongkrong di mall-mall, keluar kota tanpa ijin, dan berbagai kenakalan remaja pada umumnya.

Diantara anggota gank Widya, dua orang beragama Nasrani, dan Widya pun paling dekat dengan mereka. Sering kali Widya diajak menemani mereka ke gereja. Selain itu, Widya pun sering diajak untuk ikut perayaan agama mereka. Karena pengetahuan Islam Widya sangat rendah, maka, tanpa rasa bersalah, Widya pun rela ikut acara-acara keagamaan mereka. Hingga suatu saat, Widya ingin sekali memeluk agama mereka. sekolah Widya yang berlokasi di samping sebuah gereja, semakin memperkuat keinginan Widya untuk pindah agama. Dalam pandangannya, betapa enaknya beragama nasrani. Bebas, lepas, tidak beribadah setiap hari, damai, jarang bertikai, dan yang jelas, teman satu gank Widya pun sangat berpengaruh padanya. Begitu memperhatikan pada Widya dan sikapnya pun sangat baik.

Pertentangan batin bukannya tidak ada. Dalam hati kecil sebenarnya Widya masih ragu. Namun, pengaruh lingkungan begitu kuat. Bagaimana tidak? Setiap hari, dalam pandangannya, Widya melihat keindahan gereja, saat Widya menemani teman-temannya ke gerejapun, Widya sering mendengar ceramah yang disampaikan oleh pendeta, dan Widya menikmatinya.

Ditengah pergolakan batin yang cukup lama, salah seorang kakak Widya pun membaca gelagat Widya yang mulai sering meninggalkan shalat. Tak ingin adiknya larut dalam kegalauan, kakak Widya pun memutuskan untuk mengajak Widya berbicara dari hati ke hati. Kekeringan jiwa segera terbaca dari cerita yang mengalir dari mulut Widya. Saat itu Widya telah duduk di bangku terakhir SMP. Karena tidak ingin adiknya tenggelam lebih dalam, maka sejak itu, kakak Widya mulai sering mendampingi Widya. Dan, Alhamdulillah Widya segera tersadar dari kesalahannya. Sesaat sebelum menempuh ujian akhir SMP, Widya pun memutuskan untuk mengenakan hijab, walaupun belum sempurna.

Kedua orang tua Widya yang mengetahui anaknya mengenakan hijab, segera menentang dan melarang. Dalam pandangan orangtuanya, hijab akan membuat susah Widya. Susah dapat jodoh, susah dapat kerja, dll. Namun Widya tetap pada keputusannya. Walaupun dalam hati Widya juga tidak terlalu yakin dengan tindakannya itu.

Lulus dari SMP, Widya diterima di SMAN yang agak jauh dari tempat tinggalnya. Saat itu, Widya masih galau, dalam satu sisi, Widya mulai merasa nyaman dengan hijabnya, namun di sisi lain, lingkungan sekolahnya kurang mendukung. Remaja yang mengenakan hijab saat itu, belumlah banyak, bisa dihitung dengan jari. Ditambah lagi, teman-teman gank semasa SMP pun mulai sering menghampiri Widya dan kembali mempengaruhi WIdya. Saat hati nya semakin galau, tanpa sengaja, Widya membaca sebuah selebaran di majalah dinding sekolah. Disitu tertulis, ajakan untuk mengenal Islam lebih dalam, dengan cara bergabung dengan ROHIS. Widya pun tertarik.

Tanpa menunggu waktu, Widya segera mendatangi musholla yang dijadikan pusat kegiatan ROHIS sekolahnya. Widya diterima dengan tangan terbuka oleh pengurus dan anggota ROHIS. Sejak saat itu, Widya seperti menemukan oase di padang pasir. Kekeringan hati yang dirasakan selama ini pun, seperti disiram air yang sangat sejuk. Setiap seminggu sekali, Widya rajin mengikuti kajian Islam di musholla. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang Widya ungkapkan dan hamper semua bisa terjawab.
Widya menemukan komunitasnya. Ia tidak lagi merasa sendiri. Ketika ada masalahpun, Widya mempunyai tempat untuk bercerita dan memberi solusi dari sisi agama yang membuat hatinya semakin tenang.

Hal ini terus berlangsung hingga Widya pun menamatkan SMA nya. Namun, cobaan kembali datang pada Widya. Karena keterbatasan ekonomi, Widya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas. Maka, Widya pun memutuskan untuk mencari kerja. Satu hari, Widya mendapat panggilan dari sebuah perusahaan elektronik besar di Indonesia. Setelah menjalani berbagai macam tes, Widya pun diterima, namun dengan syarat harus membuka hijab. Widya pun tertegun. Sempat ada rasa ragu, namun teringat ucapan gurunya saat di ROHIS tentang ketentuan muslimah mengenakan hijab, hati Widya pun kembali mantap. Ia tidak bersedia membuka hijabnya. Widya yakin, ketika ia memutuskan untuk menegakkan syariat, maka Allah swt pasti akan menolongnya.

Namun, ternyata cobaan  tidak berhenti sampai disitu. Lamaran yang dikirim Widya ke sebuah jaringan department store terbesar di Indonesia, diterima. Saat panggilan wawancara, tanpa ada rasa sedikitpun, sang pewawancara mengatakan pada Widya, jika ingin diterima bekerja, Widya harus membuka hijabnya. Kembali Widya menolak.

Widya tidak putus asa, dalam hati ia yakin, Allah swt pasti memberinya rezeki. Dan benar saja, Widya diterima bekerja di sebuah perusahaan konveksi. Sebenarnya, jarak perusahaan konveksi tersebut sangat jauh dengan rumah Widya, yaitu, sekitar jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat. Setiap hari, ia harus naik kereta api dari stasiun Bogor sejak pukul lima dini hari dan pulang pukul delapan malam. Tapi ternyata, semakin lama, pekerjaan ini membebani jiwa Widya. Bukan karena gaji yang sangat kecil, juga bukan karena jarak yang sangat jauh. Tapi, kesempatan untuk shalat yang selalu dihalang-halangi oleh majikannya lah yang membuat Widya merasa tidak nyaman. Pekerjaan sengaja dibuat menumpuk saat-saat shalat. Jika pun shalat bisa dilaksanakan, tidak bisa dalam waktu lama. Karena majikan Widya akan segera mengeluarkan binatang peliharaannya untuk berkeliaran di sekitar tempat Widya shalat. Akhirnya, Widya pun memutuskan untuk keluar.

Widya bingung, ia tidak ingin membebani kedua orangtuanya. Namun, ia juga tidak ingin melepaskan hijabnya demi sebuah pekerjaan. Dalam kebimbangannya, seorang teman mengajak Widya untuk bekerja menjadi guru TK. Tanpa pikir panjang, Widya pun menerima ajakan itu. Walaupun gajinya tak seberapa, namun Widya merasa nyaman, karena diperbolehkan mengenakan hijab. Walau penghasilannya pas-pasan, Widya tetap berusaha menyisihkan gajinya untuk ditabung. Dengan tabungannya itulah Widya memutuskan untuk meneruskan pendidikan ke PGTK yang lamanya satu tahun.

Tamat dari PGTK, Widya diajak temannya untuk bergabung dengan sebuah TK Islam  yang baru saja didirikan. Tanpa berpikir lama, Widya segera menerima ajakan tersebut.

Dua tahun setelah bekerja, Widya merasakan kehausannya dalam beragama, tidak cukup menimba ilmu agama seminggu sekali, Widya pun memutuskan untuk kuliah lagi di sebuah sekolah tinggi agama Islam. Disinilah Widya seperti menemukan jati dirinya yang hilang. Walaupun lelah sehabis mengajar, Widya rela menempuh jarak yang jauh untuk memperdalam agamanya. Ia tidak ingin lagi mengingat-ngingat masa lalunya yang memalukan. Ia ingin bertobat. Ia ingin tetap di jalan ini. Dan ia ingin ikut menyebarkan Islam, agar tak ada lagi remaja-remaja yang mengalami kegamangan seperti dirinya.

*seperti yang dikisahkan seorang teman. Nama, wilayah tempat tinggal & sekolah adalah samaran.


Senin, 09 Januari 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN, BERNAMA ORANGTUA


Orang tua adalah sekolah kehidupan pertama bagi anak

Jujur, saya tidak pernah terlalu tertarik untuk membaca berita criminal dalam-dalam. Sekedar tau judulnya, bagi saya sudah cukup. Namun, satu peristiwa criminal yang diberitakn sejak minggu lalu hingga hari ini, membuat hati saya sangat miris.

Minggu lalu, sesosok mayat perempuan di temukan (maaf) tanpa busana di Kampung Mangga, Depok. Saat itu, tidak ditemukan identitas apapun di dekat mayat tersebut. Berbagai spekulasi segera “berseliweran”, menebak-nebak penyebab kematian perempuan tersebut.

Dan hari ini, identitas mayat itu pun terungkap. Sangat miris. Ternyata perempuan itu masih berusia remaja, yaitu 16 tahun. Dan yang lebih membuat saya geleng-geleng kepala adalah, cerita yang mengalir dari mulut ayahnya.

Perempuan remaja itu (sebut saja) bernama AK. Ia berasal dari keluarga broken home. Ayah dan ibunya pisah rumah sejak tahun 2006, namun mereka belum resmi bercerai. Menurut cerita sang ayah, sebelum orangtuanya berpisah, AK adalah anak yang baik, berprestasi dan tidak maca-macam. Namun, semua itu berubah drastis setelah kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah. AK menjadi anak yang susah diatur. Sering bolos sekolah. Hingga sekolahnya pun harus pindah. Selain sering bolos, AK pun jarang pulang ke rumah. Semenjak kedua orangtuanya pisah, AK memang tinggal bersama ibu dan neneknya. Ayah AK masih ingat, jika ia bertemu dengan AK, ia selalu cerita tentang banyak hal, AK bercerita ia punya banyak teman, bahkan punya pacar, namun AK tidak pernah memperlihatkan foto cowoknya itu. Ayah AK juga terkenang, dulu, sebelum ia memutuskan berpisah dengan ibu AK, AK adalah anak yang cerdas.

Subhanallah…… sungguh miris membaca kisah diatas.

Tanpa bermaksud menyalahkan siapapun. Ibu dan ayah yang terhormat, anak tidak pernah minta dilahirkan. Ketika dua orang memutuskan untuk menikah dan mempunyai anak, maka, mulai saat itu, mereka harus bertanggung jawab penuh atas anak-anak mereka. tidak ada lagi ego pribadi. Orientasi pun berubah, yang tadinya orientasi diri dan pasangan, sejak anak lahir, semua orientasi ke anak.

Apapun yang orang tua lakukan, akan tercermin pada anak. Karena bagaimanapun juga, anak adalah cerminan orangtuanya. Bagaimana anak, ya bagaimana orangtuanya. Anak itu seperti kertas putih, polos dan masih kosong. Orangtua lah yang mengisinya, menulisnya dan menggambarnya. Apa yang hendak ditulis orangtua? Apa yang hendak di gambar orangtua? Ketakwaan pada Allah swt? Kekayaan duniawi? Konsumtif? Atau apa???

Kata yang diucapkan anak pertama kali adalah apa yang sering ia dengar. Jadi, jangan kaget, jika ada orangtua yang (maaf) dirumah sering menyebut nama-nama binatang, maka yang akan diucapkan pertama kali oleh si anak pun nama-nama binatang. Jika anak seperti itu, apakah orangtua marah??

Astaghfirullahahadzim…..

Sebagai orangtua muslim, kita tentu telah menyadari, bahwa jika kelak kita telah menghadap Allah swt, yang dapat menyelamatkan kita salah satunya adalah doa anak-anak yang shaleh. Jika kita tidak mempunyai anak yang shaleh, siapakah yang akan mendoakan kita kelak???

Orangtua adalah sekolah kehidupan pertama bagi anak. Anak akan belajar apapun dari orangtua. Anak pertama kali bisa berjalan, karena orangtua, anak pertama kali bisa berkata karena orangtau, yang pertama kali mengajar mengunyah, menari, tertawa, tepuk tangan, tersenyum, semuanya adalah orangtua.

Betapa indahnya jika orangtua menanamkan tauhid sejak dini pada anak. Anak hanya akan takut pada Allah swt. Ketika adzan berkumandang, walaupun tidak ada orangtuanya, anak bersegera shalat. Ketika masuk waktu maghrib, anak akan reflek menghentikan semua kegiatan dan segera shalat, setelah langsung membaca Al-Quran.

Anak-anak yang sejak awal ditanamakan tauhid, ia tidak akan takut kecuali pada Allah swt. Emosinya stabil. walaupun orangtuanya tidak ada dirumah, dan tidak melihat apa yang ia lakukan, namun ia percaya ada Allah swt Yang Maha Melihat. Walaupun ia kehilangan ayah dan ibunya, ia percaya masih Allah swt akan menjaganya.

Subhanallah… ibu, ayah, yang terhormat, mari, kita tanamkan tauhid sejak dini pada anak. Jangan sampai terlambat, jangan sampai menyesal.




Minggu, 08 Januari 2012

KUMPULAN SMS MOTIVASI DARI SAHABAT ^___^

BERGERAK dan TERUSLAH BERGERAK......

"Bergeraklah dan teruslah bergerak saudarakau. Kutau ragamu lelah, hatimu gundah. Jauhkan pandangan orang tentang perjuangan ini. Azamkan dihati, surga Allah menanti...."

"Mari kita mulai hari ini dengan ungkapan syukur, setiap hari anugrah dan nikmat-Nya turun kepada kita. Setiap jam, perlindungan dan nikmat-Nya terus menerus mengayomi kita. Allah swt telah membawa kita pada hari ini. Allah swt memberi kesempatan pada kita untuk menghapus dosa dan beramal salih..."

"Ada yang mengeluh merasa jenuh, ingin gugur dan jatuh. Ia berkata "LELAH". Ada juga yang lelah, tubuhnya penat tapi semangatnya kuat. Ia berkata "LILLAH". Semoga yang ke dua itu aku, kita dan kamu sahabatku. Salam perjuangan dan optimis. Semangattt :) 

"Jangan melangkah di jalan keputusasaan. Dialam ini terhampar berjuta harapan. Jangan pergi ke arah kegelapan. Di alam ini terdapat banyak cahaya...."

"Iman dalam hati kita ibarat PELITA. Bila cahayanya meredup, berarti kita akan larut dalam gelap dan kehilangan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Dan semakin cahayanya menyala, berarti kita semakin bisa melihat segala sesuatu dihadapan kita dengan jelas...."

"Jangan pernah kalah oleh beratnya cobaan hidup. Tidak semua permintaan kita harus dikabulkan, karena Allah lah yang lebih mengenal batin kita."

"Saudaraku, genggam erat-erat tali keimanan kita, kenalilah diri. Pahami kebiasaannya. Rasakan getaran-getarannya. Lalu berhati-hatilah dan kontrollah kemauan dan kecenderungannya. Waspadai kekurangannya dan manfaatkan kelebihannya. Berdoalah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu-Nya tentang diri kita."

"Bersyukurlah atas segala curahan nikmat Allah yang tak pernah berhenti dan tak pernah bisa dihitung. Tanam dan lipat gandakan kesabaran atas segala ujian dan kesulitan yang kita alami."

"Tidak seorang pun kecuali mengalami senang dan sedih. Akan tetapi, buatlah kesenangan manjadi syukur dan kesedihan menjadi sabar."

"Berdoa dan perbanyaklah doa saudaraku, kita sangat membutuhkan bantuan dan kekuatan dari Allah swt dalam menjalani hiudp ini. Sejauh mana kadar perasaan kita dalam membutuhkan Allah, sejauh itulah jenjang kedekatan kita kepada Allah swt...."