Jumat, 12 Oktober 2012

Pupusnya Harapan Pejuang Anti Narkoba


Perjuangan panjang para penggiat anti narkoba, berakhir. Mahkamah agung memutuskan menolak hukuman mati bagi para gembong narkoba.

Miris dan sangat prihatin.

Narkoba merupakan bahaya laten, yang menyerang berbagai lapisan masyarakat. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak dan remaja pun terkena imbasnya.

Di lembaga pemasyarakatan anak pria Tangerang, kasus tertinggi adalah disebabkan narkoba. Mereka yang dihukum sebagian besar bukanlah pengedar, “hanya” pengguna. Itupun, tidak sampai pengguna yang mengakibatkan ketagihan akut. Tapi, lihatlah jangka waktu hukuman mereka, rata-rata diatas dua tahun.

Prihatin sekali. Karena mereka korban dari berbagai pihak. Termasuk dari para pengedar dan gembong besar yang seharusnya lebih bertanggung jawab.

Di negara-negara lain seperti Malaysia, hukuman para pengedar narkoba tidak main-main. Selain hukuman seumur hidup, juga hukuman mati. Ini dilakukan, agar para gembong dan pengedar narkoba kapok.

Patut di apresiasi ketegasan pemerintah Malaysia untuk melindungi keberlangsungan dan keselamatan generasi penerus.

Dan, Allah swt memang tidak pernah tidur. Masih ingat kasus melegalkan minuman keras? Ketika ramai dibicarakan dan menjadi polemik, muncullah tragedi tabrakan maut, yang dikemudikan oleh seorang wanita, yang ternyata sebelum mengemudikan mobilnya, ia telah banyak meminum minuman haram tersebut.

Saat ini pun seperti itu. Ketika hukuman mati bandar narkoba di “matikan”. Maka, Allah swt membuka mata para penegak hukum tentang bahaya nya narkoba melalui kecelakaan maut. Hampir sama dengan tabrakan maut, kali ini pengemudi terdeteksi menggunakan salah satu jenis narkoba, yaitu ekstasi.

Selain menabrakkan mobilnya pada banyak orang (dua diantaranya polisi), akibat ekstasi, pengemudi juga tidak sadar jika ia hanya mengenakan pakaian dalam saja. Astaghfirullahalazim....

Hukuman mati, memang banyak ditentang oleh mereka yang mengaku memperjuangkan Hak Asasi Manusia. Namun, jika para penggiat HAM menyebut hukuman mati melanggar HAM, bagaimana dengan hak asasi para korban tabrakan yang diakibatkan oleh pengemudi pengguna narkoba?

Bagaimana hak asasi bagi para remaja yang “tidak sengaja” terjangkiti virus narkoba?

Bagaimana dengan hak asasi remaja yang mengalami penyakit aids akibat jarum suntik narkoba?

Bagaimana dengan hak asasi para remaja yang mati sia-sia?

Bagaimana dengan hak asasi anak-anak jalanan yang menggunakan narkoba “ketengan” yang menyebabkan rusaknya otak, bahkan kematian???

Bagaimana dengan hak asasi masa depan remaja mantan pengguna narkoba??

Apakah para penggiat HAM juga memikirkan nasib para korban narkoba???


Sabtu, 06 Oktober 2012

PASSION


Mari kerjakan segala sesuatu dengan passion. Dimana passion itu yang membuat kita bersedia melakukan apapun walau tidak di bayar. Dengan passion, kita tidak peduli  waktu dan tempat, kita akan dengan senang hari menjalankannya. Mari gali passion kita yang paling dalam. Mulai dengan sederhana dan yakin bahwa sukses akan datang.

Saya menemukan tulisan diatas, tepat sesaat setelah pertemuan dengan seorang sahabat yang mengajak saya kembali menekuni bisnis.

Tahun 2011, saya memutuskan untuk berhenti sementara dalam dunia bisnis. Bukan apa-apa, saya  sangat kerepotan membagi waktu antara kegiatan sosial, mengajar dan kuliah. Apalagi saat ini sudah masuk semester tujuh. Sudah masuk skripsi ceritanya.

Sahabat saya, mempunyai semangat yang menggebu dalam berbisnis. Dan menurutnya, saya adalah orang yang tepat untuk diajak bekerjasama. Saya tersenyum kecut. Ada rasa bangga, namun juga ada rasa ragu. Karena beberapa kali menjalin kerja sama dengan sahabat, ternyata ujung-ujungnya ya gagal juga.

Saya mulai menganalisa (hehe... sok pinter deh) apa yang membuat beberapa kerjasama itu kurang berjalan lancar. Dan sampailah saya pada kalimat diatas. PASSION.

Kalau kita pernah nonton idol-idolan, tentulah kita sering mendengar komentar para juri yang mengatakan pada kontestan, bahwa pada saat menyanyi harus ada “feel”nya.

Begitupun saat kita mengerjakan sesuatu. Harus ada passion disitu. Harus ada feel disitu. Saya termasuk orang yang kurang setuju dengan pendapat “bisnis sampingan”. Karena bagi saya, itu berarti kita mengesampingkan bisnis yang kita lakukan.

Jika kita usaha atau bisnis, ya harus total. Ga ada kata-kata bisnis sampingan. Karena efeknya, dalam menjalaninya, kita akan kurang serius dan cenderung menganggap remah. Ini pendapat pribadi saya lo ya...

Kembali lagi ke sahabat saya yang ngebet banget mengajak saya terjun lagi ke bisnis. Bukannya ga mau. Sangat mau. Bisnis itu enak lo, apalagi kalau sudah untung hehe...

Saya bercerita pada sahabat saya. 10 tahun berbisnis, bukanlah waktu yang lama, juga bukan waktu yang singkat. Dalam kurun waktu itu, pikiran, tenaga, waktu saya betul-betul tercurah. Saat-saat awal memulai, memang saya belum dapat passion atau feelnya. Namun, setelah dua tahun berjalan, saya seperti orang ketagihan.

Obsesi saya dengan bisnis luar biasa. Saya bilang ke sahabat saya, bahkan, saat mimpi pun, saya mimpi sedang menulis bon, mimpi melayani pembeli, mimpi mengirim barang, dan sebagainya. Itulah passion. Dan itu pula yang membuat bisnis saya sanggup bertahan hingga 10 tahun.

Dengan passion, apapun saya lakukan. Kemanapun saya melangkah, bisnis saya selalu saya sertakan. Di setiap pertemuan, perbincangan, telepon, sms, bahkan pada pembantu rumah tangga tetangga, saya wanti-wanti mengingatkan pembantunya agar memberitahu pada majikannya, kalau saya memiliki bisnis yang menguntungkan.

Begitulah saya melalui hari-hari bisnis saya dengan passion.

Saat mendengar saya bercerita, sahabat saya hanya terbengong-bengong. Saya tersenyum. Dan melanjutkan cerita saya.

“Mba, tau ga, kalau aku lagi bosen bisnis nih, pagi-pagi aku akan ke pusat pertokoan. Aku ga belanja. Tapi aku menyerap energi para pedagang. Coba deh mba liat mereka. Pagi-pagi mereka sudah semangat buka toko. Beres-beres dll. Bagiku, itu pemandangan yang indah banget. Waktu mereka mulai buka toko itu, aku jalan menyusuri toko-toko mereka. Aku perhatiin mereka buka bon. Bagiku, suara-suara kertas saat membuka buku bon itu, bagaikan musik yang enak ditelinga.”

Hehehe.... dan dengan suksesnya, sahabat saya pun bengong lagi, sebengong-bengongnya.

Yah, itulah yang membedakan saya dan teman-teman yang pernah mengajak saya untuk kerjasama. Passion. Itu yang belum ada dalam diri mereka. Atau mungkin ada, tapi tidak terlalu besar.

Saya berkata lagi pada sahabat saya.

“Seperti yang dilakukan teh Pipiet Senja mba. Beliau menemukan passion pada menulis. Jadi, dalam keadaan apapun, yang ada dibenaknya adalah tulisan. Melihat angkot ngebut aja bisa jadi tulisan. Macet aja bisa jadi cerpen. Waktu aku ajak ke Lapas Anak, pulang-pulang teh Pipiet udah kepikiran untuk bikin novel.” Itulah passion.

Dan sebenarnya, pada setiap hal yang kita lakukan, passion, memiliki kedudukan yang sangat berarti. Karena dengan passion, kita tidak akan hitung-hitungan. Dengan passion, rasa ikhlas akan total. Dengan passion juga, kita rela melakukan suatu hal tanpa berharap pujian, perhatian, atau materi.

So, bagi saya, passion posisinya lebih tinggi dari kesungguhan. Karena dalam passion, ada jiwa yang total. Dan, jika kita sudah total dalam melakukan sesuatu, insyaAllah hasilnya tidak akan mengecewakan.

Passion, bikin hidup lebih hidup.....


AGENDA GERAKAN PEDULI REMAJA


Setelah beberapa waktu tidak berkunjung ke LembagaPemasyarakatan (Lapas) Anak Pria Tangerang, insyaAllah, mulai Selasa 9 Oktober, Gerakan Peduli Remaja (GPR) akan kembali mengadakan kunjungan rutin ke Lapas.

Kegiatan terakhir GPR adalah Gema Syawal yang dilaksanakan beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri. Sebenarnya, selama jeda waktu itu, GPR melakukan konsolidasi ke berbagai pihak, serta merencanakan agenda selama satu tahun ke depan.

Karena GPR sadar betul, mengadakan berbagai kegiatan, tidak bisa sendiri. Harus bekerja sama dengan berbagai pihak yang mempunyai visi dan misi yang sama.

Jika bulan-bulan kemarin, GPR hanya sanggup mengadakan kunjungan ke Lapas dua minggu sekali, maka insyaAllah mulai bulan Oktober ini, dengan bantuan berbagai pihak, GPR dapat berjumpa dengan anak-anak Lapas setiap minggu.

Sebenarnya setiap minggu pun masih belum cukup untuk memantau kondisi mereka, dibanding dengan “tetangga sebelah” yang sanggup mengadakan kunjungan setiap hari. Namun, insyaAllah, walau seminggu sekali, GPR akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak Lapas.

Apa yang dilakukan pada anak-anak Lapas, haruslah berkesinambungan. Selain bimbingan selama mereka mendekam di Lapas, yang terpenting adalah membimbing mereka saat keluar dari Lapas.

Karena tidak semua keluarga mau menerima kembali anaknya. Masyarakat sekitar pun rata-rata memandang miring mantan narapidana. Dan ini bukan hal mudah bagi para anak mantan Lapas, yang jiwanya masih labil.

Selain mengadakan kunjungan rutin setiap minggunya, insyaAllah GPR pun sudah mengagendakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hari-hari besar nasional. Seperti yang akan dilaksanakan GPR pada akhir tahun ini.

InsyaAllah pada bulan Desember, GPR akan mengadakan kegiatan di Lapas selama satu minggu penuh. Ada beberapa hari besar yang dijadikan tema oleh GPR, diantaranya, hari AIDS dan hari Ibu.

Pada hari AIDS, GPR akan mengadakan kerjasama dengan BadanNarkotika Nasional untuk memberikan penyuluhan pada anak-anak Lapas. Pada hari Ibu, insyaAllah GPR akan mengadakan pemutaran film untuk menghibur mereka.

Semoga semua kegiatan yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik.

Semoga Allah swt selalu meridhoi langkah kecil ini dan selalu membimbing agar GPR istiqomah.Semoga dengan bantuan banyak pihak, agenda GPR baik di Lapas maupun untuk remaja umumnya, dapat terwujud dan terlaksana dengan baik.



Jumat, 05 Oktober 2012

KEKERASAN REMAJA, BAGAIMANA MENYIKAPINYA ?...


Tidak sampai dua bulan, telah jatuh dua korban meninggal dalam tawuran antar pelajar. Usia mereka masih muda, rata-rata 15-16 tahun. Berbagai pihak sibuk saling lempar tanggung jawab. Media ramai memberitakan, tanpa memberikan solusi berarti.

Tawuran, mungkin sekali terjadi hampir setiap hari di seluruh wilayah Indonesia. baik dalam skala kecil maupun besar. Diketahui atau tidak diketahui oleh media, tawuran tetap saja terjadi.

Berulangkali hukuman diberikan pada pelajar yang terlibat aksi ini. namun pada kenyataannya, hal itu terjadi lagi dan lagi. Tidak ada yang jera dengan tawuran. Walaupun dalam tawuran itu ada teman mereka yang kehilangan nyawa atau masuk penjara, tetap saja esoknya atau minggu depannya, terjadi lagi tawuran. Bahkan, bisa lebih dahsyat.

Berbagai pihak, harus segera turun tangan menyelamatkan jiwa (emosi) remaja yang mudah tersulut. Para pemuka agama, orang tua, para guru dan terutama pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah sangat bertanggung jawab menyelamatkan moral para penerus bangsa.


Seperti yang kita ketahui, pelajaran agama di sekolah-sekolah umum, sangatlah sedikit. Hanya dua jam. Itupun tidak maksimal. Padahal, agamalah yang mengatur seluruh sendi kehidupan. Mulai dari adab (kebiasaan) yang akan terbentuk menjadi akhlak yang baik.

Banyak orang-orang tua jaman dulu yang mengeluh. Mereka berkata, anak jaman sekarang sangat jauh berbeda dengan perilaku anak jaman dulu. Mereka sudah kehilangan sopan santun. Lihatlah anak-anak yang sering “nongkrong” berdua di tempat-tempat umum. Tidak terlihat rasa malu pada mereka. Padahal, kata orang bijak, malu adalah sebagian dari pada iman.

Selain itu, peran masjid dalam menampung minat dan bakat remaja sangatlah minim. Mari kita tengok masjid-masjid di sekitar rumah. Adakah masjid yang mengadakan kegiatan agama dengan cara menampung minat dan bakat para remaja?

Jika kita melihat ke zaman Rasulullah saw, masjid sangat “hidup”. Masjid tidak hanya tempat shalat berjamaah. Namun mencakup segala hal. Termasuk menampung aspirasi para penerus agama.

Disinilah peran penting para pemuka agama. Kalau memang kurikulum agama di sekolah umum tidak bisa ditambah, sebaiknya para pendakwah segera turun ke kegiatan-kegiatan tambahan yang berbau agama seperti kegiatan Rohani Islam (ROHIS). Karena terbukti, anak-anak ROHIS, jarang sekali yang terlibat tawuran.

Para pemuka agama, menghidupkan masjid-masjid. Membuat acara-acara yang meremaja. Karena remaja adalah pribadi yang unik. Adakan suatu wadah yang dapat menyalurkan minat dan bakat para remaja di masjid. Dekatkan mereka dengan rumah Allah swt.

Selain itu, mengajak remaja memahami Islam, dengan gaya remaja. Sebagai contoh, di tahun 90-an, pada bulan Ramadhan disebuah radio anak muda yang terletak di kawasan pusat Jakarta, ada seorang ustad yang sangat digandrungi oleh anak muda saat itu, yaitu ustad Toto Tasmara.

Gaya beliau yang “meng-anak muda” cepat direspon oleh remaja saat itu. Acara ustad Toto Tasmara hanya sebentar saja, yaitu menjelang bedug maghrib, namun, yang konsultasi tanya jawab sangat banyak. Hampir setiap jeda, diisi dengan penelepon remaja.


Orang tua, adalah benteng pertahanan pertama para remaja. Apa yang remaja lihat dari kecil, akan tertanam pada otak mereka. Begitupun sikap dan perilaku serta akhlak sehari-hari.

Mengetahui teman anak kita adalah hal yang mutlak. Dengan siapa mereka berteman, siapa orangtuanya, dimana rumahnya, apa latar belakang keluarganya dll. Memilihkan teman untuk anak-anak kita adalah sebuah kewajiban.

Usia remaja adalah usia yang labil. Mereka mulai mencari jati diri dan sangat mudah ikut arus. Selain itu, mereka juga cenderung mengikuti hal-hal yang dilakukan oleh temannya. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw, “Seseorang bergantung pada agama temannya. Maka, lihatlah oleh tiap-tiap kamu siapa yang dijadikan teman.” (HR Abu Daud, Atturmudzi, Ahmad)

Arahkan anak-anak kita pada hal-hal keagamaan. Perbanyak waktu untuk diskusi tentang segala hal dengan mereka. Karena saat usia remaja, mereka sangat butuh tempat untuk berbagi. Mereka ingin mencurahkan kegelisahan tentang perubahan-perubahan fisik yang mereka alami. Tentang perasaan pada lawan jenis, atau tentang perilaku guru dan teman mereka saat disekolah.

Pada fase remaja, orangtua baiknya bersikap sebagai teman, yang dapat menampung segala permasalahan mereka, serta dapat memberikan solusinya. Jika remaja sudah merasa nyaman berbagi dengan orangtua, mereka akan mempunyai filter dalam menghadapi kehidupan luar yang sangat keras.


Guru adalah benteng kedua para remaja. Sering kita dengar, bahwa guru adalah pengganti orangtua di sekolah. Tanggung jawab guru pada para remaja sangatlah besar. Tidak “hanya” mengajar, namun juga mendidik.

Mendidik remaja, bukan hal yang mudah, namun juga tidaklah sulit. Remaja, seperti kita ketahui, mereka sangat labil. Mudah terpengaruh teman. Tidak heran jika usia remaja, banyak sekali “genk” yang bertebaran di sekolah.

Remaja akan merasa nyaman dengan teman-teman yang setipe dengannya. Sebagai contoh, remaja yang senang olahraga, mereka akan berkumpul bersama membuat klub basket, remaja yang senang musik, akan berkumpul bersama membuat sebuah band, remaja yang senang mengkaji Islam lebih dalam, akan bergabung dengan ROHIS, begitu seterusnya.

Guru, haruslah jeli dalam melihat sikap dan kecenderungan para remaja. Banyak remaja yang merasa tersisih. Tidak diterima di kelompok manapun, hingga mereka selalu bikin ulah. Salat satu yang berpengaruh besar adalah praktek bullying yang sudah sampai tingkat Sekolah Dasar.

Praktek bullying, terlihat simple, namun ternyata efeknya sangat mempengaruhi kejiwaan mereka. Ada remaja yang selalu diejek bodoh, hingga akhirnya ia merasa dirinya memang bodoh. Ada juga remaja yang diejek bersikap seperti “banci”, maka akhirnya ia pun meyakini bahwa dirinya adalah banci.

Bahkan pada beberapa kejadian tawuran, awalnya dimulai oleh saling mengejek. Di Jakarta, pernah ada tawuran remaja antar kampung. Setelah diselidiki, ternyata penyebabnya karena ejekan tentang nama “genk” mereka.

Menyadarkan remaja untuk saling menghargai, adalah salah satu tugas guru di sekolah. Sekali lagi, pribadi remaja adalah pribadi yang unik. Apa yang terlihat, belum tentu seperti itulah aslinya mereka.


Pemerintah sangat bertanggung jawab pada moral para penerus bangsa.

Dari tayangan-tayangan tawuran yang diperlihatkan televisi. Jelas terlihat senjata-senjata yang mereka gunakan serta gaya mereka saat penggunaan senjata itu.

Dari mana mereka mendapat isnpirasi seperti itu? Bapak pemerintah yang terhormat, mereka mencontoh dari game online yang ada di warung internet  sekeliling rumah kita. silakan dihitung berapa jumlah warnet dalam radius 1km. Lebih dari 10 warnet dan jam operasinya pun tidak dibatasi.

Dalam ilmu psikologi dikatakan, kita akan meniru dan terbiasa pada hal-hal yang seringkali kita lihat. Pada beberapa permainan yang ada di warnet, menggambarkan adegan-adegan kekerasan seperti pembunuhan yang menggunakan senjata tajam. Adegan pembunuhan pun terlihat nyata. Seperti muncratnya darah pada saat menebas bagian-bagian tubuh.

Salah satu adegan yang sangat ditiru remaja pada saat tawuran adalah, memutar-mutar gir sepeda diudara. Gir tersebut diikat pada seutas tali, kemudian diputar-putar untuk mencari musuh. Selain itu juga ada samurai. Dua senjata ini dapat kita lihat di game online yang ada di warnet. Dan karena mereka telah terbiasa “membunuh” di game online, maka di dunia nyata pun mereka anggap itu adalah hal yang biasa.

Kembalikan fungsi warnet seperti sedia kala. Kemajuan teknologi memang tidak bisa kita hindari, namun sangat mungkin kita batasi. Jam operasional warnet, jarak warnet, serta aturan-aturan yang menyangkut moral remaja, haruslah ditetapkan oleh pemerintah.

Remaja memiliki sejuta energi yang membutuhkan tempat untuk disalurkan. Empat hal diatas sangat berperan dalam meredam gelegak jiwa mereka. Saling bekerja sama satu dan lainnya, akan membuat remaja memiliki tempat berteduh.

Seluruh pihak hendaknya dapat segera mengambil kebijakan dalam menghadapi kekerasan di kalangan remaja.



Sabtu, 22 September 2012

CINTA JANGAN KAU PERGI....


Cinthya membunyikan klakson mobilnya beberapa kali di depan pagar rumahnya. “Ugh, kemana saja orang rumah, kok ga ada satupun yang membukakan pagar,” gumam Cintyha dalam hati. Dibunyikan nya lagi klakson mobil agak lama. Dari dalam rumah, keluar sosok pria berjalan agak tergopoh-gopoh. Cintyha segera beranjak turun dari mobil. “Kok mas yang buka pagar, si mbok kemana?” tanya Cithya heran pada suaminya. 

“Masuklah dulu, nanti didalam aku ceritakan.” Jawab Bimo, suami Cintyha  sambil membukakan pagar. Cintyha naik kembali ke mobil, dan segera memasukkan mobilnya ke garasi rumahnya.

“Memang si mbok kemana sih mas?” tanya Cinthya lagi pada suaminya, setelah mereka berdua sama-sama duduk di meja makan. “Si mbok minta ijin pulang, anaknya sakit, ga ada yang ngurus. Ya, aku ijinkan.” Jawab Bimo.

Cinthya kaget ,”Mas ini gimana sih, kok ga bilang-bilang ke aku, kan bisa telpon mas, kalo si mbok pulang, trus yang ngurus rumah siapa, aku kan sibuk di kantor, kamu gimana sih,” kata Cinthya pada suaminya panjang lebar. “Aku tadi telpon-telpon kamu terus kok. tapi ga pernah kamu angkat. Aku telpon ke sekretarismu, katanya kamu lagi meeting, aku telpon lagi, ga diangkat lagi, trus kata sekretarismu meeting lagi.” Bimo berkata sambil berjalan ke kamar, meninggalkan Cinthya.

“Mas, aku kan belum selesai ngomong, kok kamu udah pergi sih.” Cinthya berkata sambil mengejar Bimo ke dalam kamar. “Aku cape de, nafasku sesak sejak tadi sore, karena si mbok pulang terburu-buru, dia ga sempat menyiapkan makan malam untukku. Jadi aku tadi ke warung depan sendiri. Aku mau istrahat dulu,” jawab Bimo.

Cinthya cemberut sambil memandangi suaminya. Dibiarkan suaminya berjalan masuk kamar seorang diri. Cinthya kembali duduk di kursi makan. Nafsu makannya mendadak hilang. Ia termenung. Mengingat kembali saat-saat pertama kali menikah degan Bimo. Usia mereka memang terpaut jauh, tujuh belas tahun. Waktu itu Bimo berumur tiga puluh tujuh tahun, sedangkan Cinthya baru berumur dua puluh tahun. Saat itu Cinthya sangat mengagumi sosok Bimo yang kebapaan, sangat perhatian dengan Cinthya. Walau banyak pertentangan pada keluarga masing-masing, namun mereka berdua tetap bersikukuh untuk menikah.

Saat-saat awal pernikahan, semua terasa indah bagi Cinthya, semua yang ia bayangkan tentang sosok suami ideal, ada pada Bimo. Sebagai seorang pengusahasukses, Bimo sangat mampu memenuhi semua kemauan Cynthia. Bimo juga mendukung agar Cinthya melanjutkan pendidikan hingga S2. Karir Cinthya pun bagus, dan usaha Bimo semakin berkembang.

Masalah mulai muncul saat lima tahun perkawinan, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Walau telah berusaha hingga keluar negeri. Keduanya sehat, hanya saja entah kenapa hingga tahun kelima, mereka belum juga mendapat kan anak. Cinthyapun mulai melampiaskan rasa kecewa pada pekerjaannya. Ia mulai pulang malam, sering rapat di luar kota, meninggalkan suami hingga satu minggu. Walaupun karirnya menanjak, namun waktu pertemuannya dengan Bimo semakin berkurang.

Dan puncaknya adalah di tahun pernikahan mereka yang kesepuluh. Bimo terserang penyakit gagal ginjal yang menyebabkannya harus melakukan cuci darah tiga bulan sekali. Cinthya yang sedang berada di puncak karir merasa terganggu dengan penyakit yang diderita Bimo, karena ia harus selalu ada di sisi suaminya pada saat cuci darah, sedangkan ia pun tidak bisa meninggalkan pekerjaan di kantornya.

Akhirnya ia memutuskan untuk mencari pembantu yang khusus merawat suaminya. Si mbok yang masih saudara jauh Bimo, didatangkan dari Magelang, kota kelahirannya. Si mboklah yang selama ini telaten merawat Bimo. Dari pagi saat Cynthia telah berangkat ke kantor, hingga malam hari, semua keperluan Bimo, si mbok yang mengurus. Saat ke rumah sakit untuk cuci darah pun, Bimo ditemani si mbok dan sopir Cinthya.

Karena penyakit gagal ginjal yang diderita Bimo, maka perlahan, usaha Bimo pun mengalami penurunan. Ia tak lagi bisa maksimal dalam bekerja. Banyak pekerjaan yang diselesaikan di rumah, itupun masih harus dibantu oleh beberapa karyawannya. Selain karena penyakitya, usia Bimo yang menginjak lima puluh tahun, turut mempengaruhi daya tahan fisiknya. Akhirnya, Bimo pun memutusan untuk menjual asset perusahaannya dan menginvestasikan sebagian besar uangnya.

Hal inilah yang membuat Cinthya kecewa. Ia malu dengan rekan-rekan bisnisnya. Ia malu karena suaminya tidak mempunyai usaha lagi dan hanya tinggal di rumah.

Cinthya memandang pintu kamar. Ingin rasanya masuk ke kamar untuk beristirahat, namun ketika ia ingat kembali pada Bimo, rasanya malas sekali untuk berbaring di samping suaminya itu. Cinthya kecewa, karena sejak Bimo menderita penyakit, ia seperti orang yang putus asa. Dalam pandangan Cinthya, hari-hari Bimo hanya dihabiskan untuk meratapi nasibnya. Itulah yang membuat Cinthya kecewa. Seandainya Bimo lebih semangat, lebih optimis, lebih berusaha lagi, ya seandainya….. gumam Cinthya dalam hati.

Akhirnya Cinthya masuk ke dalam kamarnya. Di tatapnya Bimo yang telah tertidur lelap. Ditatapnya obat-obat disamping tempat tidur suaminya. Ada kurang lebih lima jenis obat yang harus rutin diminum Bimo setiap harinya. Cinthya memandangi wajah Bimo lekat-lekat. Wajah yang dulu begitu gagah, badan yang dulu begitu tegap. Kini badan itu mulai menghitam, wajah Bimo pun ikut menghitam karena cuci darah yang ia lakukan. Badan Bimo saat ini kurus, kulitnya mengerut. Mas, kamu keliatan lebih tua dari usiamu, resah Cinthya dalam hati.

Perlahan, Cinthya mengusap kepala Bimo. Rambut yang dulu tebal, kini mulai rontok dan memutih. Cinthya meneteskan air matanya. Inilah pria yang dulu sangat aku cintai. Dulu…. bagaimana dengan sekarang Cinthya??.... tanya Cinthya sendiri dalam hati. Mas, kamu begitu baik padaku, selama sepuluh tahun menikah, tak sekalipun kamu membentakku, apapun mauku, kamu selalu berusaha untuk memenuhinya, kamu juga tidak pernah protes jika aku banyak menghabiskan waktu di kantor, menghabiskan waktu untuk bertemu klien, dan masih banyak lagi…. Cynthia memejamkan matanya. Ingin sekali ia memeluk Bimo seperti dulu.

Perlahan Cynthia bangkit dari sisi Bimo. Tak ingin membangunkan suaminya, Cynthia berjalan pelan menuju meja kerjanya. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. Besok aku harus memberikan presentasi terbaikku di depan klien, gumam Cynthia dalam hati.

Cinthya membuka laptopnya, meneliti beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Lampu utama kamar sengaja ia matikan, ia tak ingin Bimo terbangun. Tinggal nyala lampu meja kerja, lampu laptop dan alunan pelan instrumen yang menemaninya malam itu. Jari-jari Cynthi lincah bergerak diatas laptop. Pikirannya pun larut dalam layar di depannya.

Tanpa terasa, jam menunjukkan pukul satu dini hari.  Cinthya masih berkutat dengan data-data. Tak sadar  ia dengan kehadiran Bimo disampingnya. Bimo menepuk pelan bahunya. “Sudah shalat Isya de?” tanya Bimo. Cinthya kaget. “Belum sempat,” jawabnya sambil tetap memandang layar laptopnya. “Mas ngapain, kok malam-malam bangun?” tanya Cinthya. “Aku mau shalat tahajud de.” Jawab Bimo.

“Duuuhhh, mas kok ga istrahat aja sih, nanti kalo kecapean lagi gimana? Si mbo kan masih di kampung, belum tau pulangnya kapan, aku kan besok harus meeting, nanti kalau mas kumat bagaimana?” Kata Cinthya panjang lebar sambil matanya terus menatap layar laptop yang ada dihadapannya. Namun Bimo tak memperdulikannya. Ia tetap berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Cinthya menutup laptopnya. Pikirannya kacau, tidak bisa konsentrasi. Ia pun memutuskan untuk tidur. Besok aku tidak boleh terlambat, gumamnya dalam hati. Cinthya mendengar suara Bimo sedang berdoa, sayup-sayup Cinthya mendengar suara isak Bimo. Cinthya menutup rapat kupingnya dengan bantal. Ukh, cengeng banget sih, sakit kok diratapi, bukannya dihadapi, ketus Cinthya dalam hati.

…………………………………………………………………………………………

Sore itu Cinthya memutuskan untuk pulang lebih lebih cepat. Ia ingin istirahat di rumah. Hari ini adalah hari yang melelahkan. Pagi hari ia bertemu klien dan langsung presentasi. Siang ia meeting lagi dengan beberapa anak perusahaan untuk mempersiapkan target tahun depan. Yang terbayang di benak Cinthya hanyalah kamarnya yang nyaman dan dingin. Cinthya sudah tidak sabar.

Tiba-tiba Cinthya menghentikan mobilnya dengan mendadak. Ia bingung. Kenapa jalan menuju rumahnya ramai, ada bendera kuning. Ada tetangga yang meninggal rupanya, gumam Cinthya dalam hati. Tiba-tiba, sorang lelaki mendekati mobilnya. “Maaf, ibu Bimo yah, bisa turun sebentar bu, saya pak Irwan ketua RT ibu, saya mau bicara sebentar dengan ibu ,” kata pria itu. “Oh ya, sebentar, saya parkir mobil dulu” jawab Cinthya bingung.

“Maaf sekali lagi bu, tadi saya dan beberapa tetangga sudah mencoba menghubungi telpon ibu berkali-kali, tapi selalu sibuk, saya hubungi sekretaris ibu, katanya ibu lagi rapat dan tidak bisa diganggu.” Jelas pak RT pada Cinthya. “Iya, memang saya hari ini sibuk sekali pak, memangnya ada apa ya pak, oya, siapa tetangga kita yang meninggal pak?”tanya Cinthya.

“Silakan ibu duduk dulu,” pak RT mempersilakan Cinthya untuk duduk. “Maaf pak, sebelumnya, bukannya saya menolak untuk berbincang dengan bapak, tapi saya hari ini capek sekali, saya ingin cepat pulang dan istrahat, maaf ya pak,” jelas Cinthya sambil hendak meninggalkan pak RT. “Bu, yang meninggal suami ibu, bapak Bimo, tadi jam sebelas siang.” Cinthya kaget. Ia tak mampu berkata, ditatapnya pak RT tak percaya. Cinthya pun pingsan.

………………………………………………………………………………………………

Cinthya menatap wajah kaku suaminya. Mas Bimo. Maafkan aku mas. Aku tidak ada disampingmu. Cinthya menggenggam tangan suaminya. Dingin. Wajah Bimo seperti orang yang sedang tidur. Bibirnya menyunggingkan senyum tulus. Cinthya kembali menangis.

“Cin, ini, ada surat dari Bimo.” suara Rudi, adik Bimo mengagetkannya. Cinthya mengambil surat yang ada di tangan Rudi. “Sebaiknya dibaca nanti saja, sekarang kita urus jenazah kakak dulu.” Kata Rudi, seakan mengerti apa yang hendak Cinthya lakukan.

Sore itu, para pelayat mengantarkan Bimo ke tempat perisirahatannya yang terakhir. Diiringi rintik hujan dan angin yang semilir. Cinthya berjalan pelan di belakang jenazah Bimo. Rudi, adik iparnya sebenarnya sudah melarang Cinthya untuk ikut ke kuburan, namun Cinthya menolak, ia bersikukuh untuk ikut.

Perlahan, jenazah Bimo dimasukkan ke liang kubur, Cinthya tak kuasa menahan tangisnya. Hingga iapun kembali pingsan.
……………………………………………………………………………………………

Cinthya masih memandang  surat itu, ia menyesal atas kelakuannya akhir-akhir ini. Dibukanya kembali surat dari Bimo, dan dibacanya kembali…

“Cinthya, aku minta maaf tidak bisa lagi memberikan kebahagiaan seperti dulu. Tidak bisa lagi memberimu kebanggaan. Aku terlalu lemah menghadapi penyakit ku. Aku tau, kamu malu dengan teman-temanmu, malu dengan kondisiku yang sakit-sakitan dan tidak mempunyai usaha lagi. Cinthya, aku sangat menyayangimu, aku tidak mau menyusahkanmu. Aku akan memberikan semua milikku untukmu. Rumah ini dan beberapa investasiku, sudah aku hibahkan atas namamu. Kamu tidak usah susah-susah lagi bekerja de, tidak usah kerja sampai malam lagi, tidak usah pergi ke luar kota lagi untuk mendapatkan klien. 

Semua sudah aku urus dengan Rudi. Aku hanya ingin kita bisa seperti dulu lagi, menghabiskan waktu berdua. Berdiskusi berdua. Jalan-jalan berdua.  Tapi aku sadar, kamu pasti tidak mau de, dan aku mengerti, usiamu masih muda, masih banyak yang ingin kamu capai. Aku mengerti de. Karena itu, aku memutuskan untuk tinggal di kampung, aku sudah menghubungi si mbok, dan si mbok bersedia untuk menjagaku. Sebenarnya aku ingin pamit denganmu, tapi sulit sekali untuk menemukan waktu berbicara denganmu de, bahkan untuk sekedar  telpon pun kamu begitu sibuk. Tapi, aku mengerti de, aku sangat mengerti.

Jika surat ini kamu baca, aku sudah dalam perjalan ke kampung bersama Rudi. Jaga diri kamu ya de, sungguh, ini aku lakukan bukan karena aku tidak mencintaimu, justru aku tidak ingin merepotkanmu dengan penyakitku ini. Di dalam lemari, sudah aku siapkan surat-surat pemilikan beberapa rumah serta saham dan tabungan.  De, aku sangat berharap kamu mau menyusulku ke kampung. Kita mulai lagi hidup yang baru. Namun, jika kamu tidak mau, aku sangat memahami, aku sangat mengerti.”

Bimo yang selalu mencintai kamu, Cinthya, istriku…


Selasa, 18 September 2012

ROADSHOW GERAKAN PEDULI REMAJA BERSAMA BUNDA PIPIET SENJA



Pondok Pesantren Attaqwa. Didirikan oleh pahlawan Bekasi, KH Noer Alie. Ponpes ini terletak di daerah Ujung Harapan Bekasi. Nadia, salah satu tim GPR yang merupakan alumni dari Ponpes ini, mengajak GPR untuk silaturahim dengan santriwati disana.

Bekerjasama dengan bunda Pipiet Senja, tanggal 14 September, tim GPR mendatangi Ponpes tersebut. Selain Nadia, bunda Pipiet pun ternyata pernah berkunjung ke Ponpes ini. saat itu launching buku anak kedua dari bunda Pipiet. Tepatnya tahun 2003. Subhanallah ... waktu yang cukup lama untuk kembali bersilaturahim

Perjalanan menuju Ponpes, tidaklah mudah. Karena, selain Nadia, tidak ada satupun dari tim GPR yang pernah berkunjung kesana. Bunda Pipiet pun ternyata sudah lupa jalan menuju Ponpes.

Tim GPR berangkat dari tempat masing-masing, karena memang sebelumnya ada acara yang berbeda. Saya dan bunda Pipiet berangkat dari kantor penerbit Zikrul Hakim di daerah Rawamangun, kak Edas berangkat dari Tambun, kak Lisya berangkat dari Kalibata Jakarta Selatan, sedangkan Nadia yang rumahnya tak jauh dari Ponpes, telah tiba di Ponpes lebih dulu.

Karena berangkat dari tempat yang berbeda, kamipun cukup intens dalam ber sms ria. Saya dan bunda Pipiet memutuskan naik taksi, karena membawa cukup banyak buku dari Zikrul Hakim. Alhamdulillah, sopir taksi mengetahui daerah Bekasi, jadi kami hanya memberi tau patokan jalannya saja.

Dari Rawamangun, kami melewati terminal Pulogadung. Subhanallah, terminal yang biasanya ramai dan cenderung macet, hari itu lancar, hanya sepuluh menit saja kami butuhkan untuk melewati terminal Pulogadung.

Taksi pun dengan tenang melaju menuju kawasan Aqua Bekasi. Dari sinilah jalan mulai tersendat. Selain jalan yang menyempit, volume kendaraan yang cukup padat, angkutan umum yang berhenti sembarangan, serta jalanan yang berlubang, merupakan hambatan utama kami.

Bunda Pipiet sampai berkata seperti ini ,”saya kira hanya Citayam yang parah jalanannya, ternyata disini lebih parah.” Bunda Pipiet berkata seperti itu sambil tangannya erat memegang pinggiran pintu taksi. Saya pun tersenyum, setuju dengan perkataan bunda Pipiet.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, supir taksi kebingungan. Ternyata, petunjuk jalan yang saya dapat dari Nadia, membingungkan pak supir. Setelah bolak balik tiga kali, kami pun memutuskan untuk menyewa jasa ojek.

Alhamdulillah, tukang ojek mengetahui Ponpes yang kami tuju. Dengan cermat, sopir taksi mengikuti jalan tukang ojek.

Ternyata, Ponpes ini lumayan jauh dari jalan utama. Dan untuk mencapainya, tidak ada angkutan umum. Yang ada hanya ojek dan becak.

Saat memasuki kawasan pesantren, serempak kami bertiga (bunda Pipiet, saya dan sopir taksi) berdecak kagum dan reflek menyebut asma Allah. Subhanallah.... di depan kami sebuah masjid besar dengan gagahnya berdiri.

Kubahnya berwarna hijau, tiang-tiang penyangga begitu besar mengelilingi masjid. Begitu besarnya sampai saya tak percaya. Subhanallah... ada masjid sebesar ini di “pedalaman” Bekasi. Bahkan masjid Al-Barkah yang ada di pusat kota Bekasi pun, kalah besar dibanding masjid ini. halaman masjid pun sangat luas, dapat menampung ratusan kendaraan, baik motor ataupun mobil.

Di depan masjid, terdapat lapangan yang juga tak kalah luasnya. Beberapa pohon besar tegak berdiri. Akar-akar pohon yang menjalar, menandakan pohon-pohon tersebut sudah cukup tua. Mungkin hal inilah yang membuat suasana masjid begitu sejuk.

Dari kejauhan terlihat jamaah yang shalat, memenuhi masjid, hingga ke tangga luar. Subhanallah... pemandangan yang sangat jarang saya jumpai.

Belum habis kekaguman saya pada masjid utama Ponpes ini, mata saya kembali terbelalak oleh luasnya wilayah Ponpes. Setelah melewati masjid, kami melewati asrama putra. Beberapa bangunan dalam tahap pengembangan, namun juga ada beberapa bangunan lama yang tetap kokoh. Dari banyaknya bangunan asrama putra, kemungkinan jumlah santri hampir 1000 orang. Subhanallah...

Tak jauh dari Ponpes pria, -+ 200m, kami pun tiba di Ponpes putri. Alhamdulillah, sampai juga, ucap saya dan bunda Pipiet. Sopir taksi yang sejak tadi pun terkagum-kagum dengan Ponpes ini berkata,”seumur-umur saya nyupir bu, baru kali ini ke daerah sini.” Hehehe... saya dan bunda Pipiet pun tertawa. Apalagi saya, ucap saya dalam hati.

Kami pun turun dari taksi. Saya perhatikan sekeliling. Subhanallah. Berbagai bangunan melengkapi keberadaan pesantren ini. mulai dari klinik, pendidikan anak usia dini, dan beberapa bangunan lain yang jumlahnya cukup banyak.

Saat saya mengamati lingkungan sekitar, mata saya tertegun pada sebuah pemandangan, yang bagi saya, itu adalah pemandangan “mahal” dan sangat jarang terjadi.

Beberapa santriwati melintas di depan kami dengan menggunakan sepeda. Dengan berseragam Ponpes, mereka ngobrol sambil terus mengayuh sepeda. Sesekali jilbab lebar mereka ditiup angin. Subhanallah... Mungkin, jika pemandangan ini saya alami di sebuah kota kecil, itu wajar. Tapi pemandangan itu saya alami di Bekasi. Sebuah kota yang letaknya sangat dekat dengan ibukota Jakarta. Subhanallah... bagi saya, itu adalah hal yang sangat jarang terjadi.

Saya berkali-kali berdecak kagum, dan berkali-kali bibir dan hati ini tak henti memuji Allah.

Setelah tim GPR lengkap, kami pun memasuki Ponpes putri. Subhanallah... Lagi-lagi, saya dibuat terkagum-kagum. Bunda Pipiet pun seperti itu. Dulu, saat pertama kali berkunjung, jumlah santriwati hanya 300an, bangunan Ponpes pun belum banyak. Tapi sekarang, jumlah santriwati hampir 1000 orang dan bangunan Ponpes semakin megah.

Walaupun cuaca Bekasi saat itu sangat panas, namun karena pepohonan di sekitar Ponpes yang besar dan rindang, kami tidak merasa kepanasan. Belum lagi melihat senyum hangat para santriwati. Subhanallah... adeeemmm banget rasanya.

Entah karena semangat para santriwati, atau rasa kangen bunda Pipiet pada santirawati, atau suasana yang sangat mendukung, acara siang itu terasa hangat. Seperti ibu bertemu dengan anaknya. Penjelasan dari saya dan bunda Pipiet selalu diselingi oleh celotehan lucu dari mereka. Subhanallah, santriwati begitu bersemangatt....

Jadwal acara yang tadinya hanya dua jam saja, molor sampai lebih dari tiga jam. Usai acara, santriwati tak henti-hentinya meminta foto bersama. Sampai bunda Pipiet berkata ,”hayuu sudah..sudah.. mau pulang jam berapa nih kita...” dan kami pun tertawa bersama.

Alhamdulillah, roadshow pertama GPR dan bunda Pipiet berjalan lancar. Semoga di sekolah-sekolah atau Ponpes lain pun lancar dan barokah.

Semoga dengan kedatangan GPR dan bunda Pipiet, akan muncul mujahid pena dari Ponpes Attaqwa. 

Semoga..... 





Rabu, 12 September 2012

MOM'S LIST


Bagi seorang wanita, ibu khususnya, seringkali waktu 24 jam sehari sangat kurang.  Mulai dari bangun tidur, hingga tidur kembali, dirasa banyak pekerjaan yang belum selesai. Saat seorang ibu hendak tidur, sering terbayang pekerjaan-pekerjaan yang belum diselesaikan.

Karena begitu banyaknya pekerjaan, seorang ibu bahkan sering tercenung, bingung sendiri harus memulai pekerjaan dari mana, dan kapan pekerjaan demi pekerjaan ini akan berakhir. Pagi hari adalah saat-saat yang begitu sibuk. Bangun tidur harus menyiapkan anak-anak ke sekolah, menyiapkan sarapan keluarga, belum lagi jika tidak punya asisten rumah tangga.

Ketika anak dan suami sudah berangkat meninggalkan rumah, saatnya beres-beres. Harus mulai dari manakah?

Dari pada bingung-bingung, akan lebih baik jika para ibu mempunyai “daftar kerja” sehari-hari. Daftar ini disiapkan sesaat sebelum tidur. Ada beberapa ibu yang membuat list atau daftar hanya dipikiran saja. 

Namun, pikiran kita terbatas, daya ingat pun terbatas. Daftar pekerjaan yang "hanya" diletakkan di pikiran, akan cepat sekali hilang, alias lupa. 



Berikut ini tips menyiapkan daftar pekerjaan harian :

1.      Sebelum tidur, sediakan waktu sebentar saja, bisa 10 – 15 menit untuk merenungkan apa saja yang sudah dikerjakan hari ini. setelah itu evaluasi, pekerjaan apa saja yang masih belum dikerjakan. Jika sudah evaluasi, saatnya kita menuliskan daftar pekerjaan.

2.      Daftar pekerjaan hendaknya diletakkan di tempat yang sering terlihat. Misalnya di tempel di pintu kulkas, di lemari makan, atau di cermin. Daftar pekerjaan ini bisa ditulis menarik, misalnya menggunakan spidol warna warni, atau bisa juga menggunakan checkboard.

3.      Menulis daftar pekerjaan, lebih baik jika lebih detail. Misalnya, untuk memasak. Apa saja masakan hari ini, berapa jenis masakan, apa saja bahan-bahan yang dibutuhkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berbelanja bahan makanan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memasak, dll. Dengan detailnya daftar pekerjaan, dapat menghemat waktu, serta kita dapat lebih cepat melanjutkan ke perkerjaan berikutnya.

4.      Kekonsistenan sangatlah di butuhkan dalam mewujudkan pekerjaan yang rapi dan termanagement dengan baik. Karena itu, setelah selesai shalat subuh, baiknya langsung melihat apa saja daftar pekerjaan hari ini.

5.      Menunda apa yang sudah di tuliskan dalam daftar juga harus dihindari. Karena dengan menunda pekerjaan, maka pekerjaan-pekerjaan berikutnya tidak akan selesai. Hal ini justru akan membuat kita stres memikirkan pekerjaan yang tak kunjung habis.

6.      Bagi yang belum terbiasa dengan daftar pekerjaan, ada baiknya jika kita tidak menuliskan waktu pekerjaan, cukup perkiraan waktu yang dibutuhkan saja. Misalnya, memasak butuh waktu satu jam, membereskan pakaian setengah jam, mengantar anak ke sekolah lima belas menit, begitu seterusnya.

7.      Jangan lupa untuk memasukkan waktu “me time” atau waktu istirahat. Bisa dilakukan di sela-sela pekerjaan kita. Perkirakan juga waktu yang dibutuhkan untuk istirahat berapa lama. Selain tidur, istirahat atau “me time” dapat diartikan juga, melakukan hal-hal yang menjadi hobi, atau penghilang penat. Misalnya membaca buku, menyulam, menulis dll.

8.      Jika ada pekerjaan yang tertunda atau tidak dikerjakan, jangan menyalahkan orang lain, anak dan suami misalnya. Kita yang harus evaluasi. Dimanakah letak kegagalannya, mengapa sampai tidak dikerjakan, langkah selanjutnya bagaimana, dan seterusnya. Ini juga membuat kita tidak berburuk sangka pada orang lain dan membuat kita sering bermuhasabah.

9.      Jika sudah terbiasa dengan pekerjaan yang terdaftar, ada baiknya kita tingkatkan lagi dengan  menetapkan target untuk setiap pekerjaan yang telah kita susun. Misalnya, target memasak setengah jam saja, target merapikan pakaian sepuluh menit saja, dan seterusnya.

Sekilas, tampaknya hal ini mengada-ada, namun jika kita praktekkan dengan baik, inysaAllah akan sangat membantu pekerjaan kita sebagai seorang ibu.

Tidak ada salahnya membuat daftar pekerjaan mulai sekarang. Dalam pelaksanaannya, yang terpenting adalah niat dan motivasi kita. Semua hal diatas adalah untuk ibadah, kebaikan diri dan keluarga.

Selamat mencoba...