Rabu, 12 September 2012

MY DIARY...


Menulis itu indah. Menulis itu melegakan. Membaca kembali tulisan-tulisan yang terangkai dalam diary, bagai membaca sejarah hidup sendiri.

Malam itu saya membuka kotak penyimpanan puluhan diary. Saya mengumpulkan diary sejak tahun 1991 hingga 2011. Total hanya 11 diary. Lainnya raib, karena saya dan keluarga beberapa kali pindah rumah

Sayang sekali...


Banyak cerita menarik di dalam setiap diary. Tahun 1998, secara detail saya menceritakan kronologis kerusuhan. Saat itu keadaan sangat mencekam, sebagian telepon di Jakarta mengalami gangguan, termasuk telepon rumah saya. Para tetangga panik menyelamatkan surat-surat berharga, para bapak dan anak lelaki yang telah dewasa, bahu membahu menjaga perumahan, agar tidak dimasuki para penjarah.

Diangkasa Jakarta, helikopter dan pesawat hercules berseliweran. Membuat suasana malam makin mencekam. Dari kejauhan, nampak asap mengebul tinggi, menutup langit. Cahaya api menari-nari. 

Astaghfirullah.... membaca itu semua sungguh ngeri. Berharap hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi di bumi Indonesia.

Saat duduk di bangku SMA, sebenarnya saya memiliki beberapa diary, namun yang tersisa hanya satu :(

Tahun 1991. Saya menceritakan perjalanan liburan bersama teman-teman sekelas. Sejak menunggu bis yang hendak membawa kami ke kota Cirebon, hingga kesan-kesan semua teman selama perjalanan pergi pulang, tertulis dengan rapi.

Alhamdulillah, bahkan foto-foto saat SMA pun masih bagus :)

Dan yang mengejutkan, ternyata tahun 1991, saya pernah menuliskan sepuluh kriteria calon suami. Ada-ada saja. Saat saya, suami dan anak membaca kriteria-kriteria itu, kami pun tertawa bersama. Hanya dua yang meleset dari kriteria yang saya tentukan. Ada-ada saja.

Tahun 2000, saat pertama kali menjadi pramugari Saudi Arabian Airline, saya tuliskan betapa Allah Maha pengabul doa. Harapan saya ketika sekolah dulu, dapat melihat luar Indonesia dengan gratis, alhamdulillah dapat terwujud.

Dalam diary, saya bercerita, bagaimana beratnya hidup di negeri orang, tanpa saudara. Selain itu, pengaturan penghasilan, sampai berapa jumlah yang harus ditabung, tertulis dengan rapi dalam diary.

Tak ketinggalan kejadian tsunami Aceh pun ada dalam diary. Begitu juga berbagai kejadian berdarah di Palestina, lengkap dengan puisi-pusi tentang jihad. Subhanallah...

Rangkaian demi rangkaian kalimat dalam diary, membawa hikmah begitu besar. Kita belajar dari hidup kita sendiri. Jika dahulu kita melakukan kesalahan, maka, kini saatnya memperbaiki. Jika dulu banyak kekurangan, maka saatnya kini melakukan yang benar.

Allah memberi hikmah dari mana yang Ia kehendaki, dari tulisan orang lain, maupun dari tulisan tangan kita sendiri. Semua tergantung pada diri ini, maukah kita menarik hikmahnya....?

Jumat, 07 September 2012

AROUND THE WORLD WITH A BOOK


Apa yang terlintas dipikiran kita ketika melihat sebuah buku yang berpuluh-puluh tahun lalu kita baca, dan kini terbit kembali. Dengan isi cerita yang sama, tokoh yang sama, latar belakang yang sama, namun dengan kemasan yang lebih cantik dan terkini.

Itulah yang hari ini saya temui di sebuah toko buku.


Setelah satu jam memilih buku-buku yang akan saya baca minggu ini, saya pun melangkah ke kasir untuk membayar. Dan, saat membayar itu adalah saat yang sangat menakjubkan bagi saya.

Di belakang kasir, terpampang buku-buku yang dulu pernah saya baca saat di sekolah dasar. Buku-buku karangan HC Andersen dan EnydBylton. Bagaikan menemukan harta karun, mata saya tak berhenti menatap buku-buku cantik itu.

Ya, dulu sekali, saat SD, orangtua saya yang sangat gemar membaca, membelikan buku-buku itu. Berbagai seri karangan Alfred Hitckock dan Enyd Bylton, saya lahap. Begitu juga dengan buku karangan HC Andersen.

Bagi saya, tinggal di luar pulau Jawa saat kecil, adalah hal yang sering membuat penasaran. Seperti apakah kota besar itu? Jakarta. Apa yang ada disana? Luar Indonesia, bisakah suatu saat saya berkeliling ke negara-negara itu?

Dan, pertanyaan demi pertanyaan seakan terjawab. Saat membaca buku-buku Enyd Bylton dan HC Andersen, pikiran seakan menembus ruang dan waktu.

Satu saat saya dapat menjadi seorang “Gadis Penjual Korek Api” yang tinggal dipinggiran sebuah negara di Eropa. Negara yang mempunyai empat musim, yang jalanannya bersih dan rapi. Kehidupan masyarakat Eropa yang tertata. Lampu-lampu taman yang menerangi jalan dll. Apa yang digambarkan oleh HC Andersen, terekam dalam pikiran saya dan seakan saya berada di kota-kota yang diceritakannya.

Lain waktu, saya seakan menjadi Gwendoline. Salah satu tokoh dalam cerita “Mallory Towers” karangan Enyd Bylton. Yang setiap malam sebelum tidur, Gwendoline selalu menyisir rambutnya sebanyak seratus kali J

Dalam cerita itu, digambarkan secara detil kehidupan asrama putri sejak kelas satu hingga kelas delapan.
Dengan jelas Enyd Bylton menggambarkan posisi kastil asrama yang letaknya di atas bukit. Dari salah satu menara, murid-murid dapat melihat laut lepas atau pedesaan. Indah, sungguh indah. Dan itu tergambar jelas di pikiran saya.

Dulu, media elektronik belum secanggih sekarang. Video hanya dimiliki oleh orang-orang kaya. Yang tentu saja, bukan termasuk keluarga saya. Karena itulah, orangtua membelikan banyak buku, agar anak-anaknya mempunyai wawasan yang luas. Ah masa itu, jangankan video, televisi pun kami belum punya.

Sadar atau tidak sadar, seringkali suatu cerita dapat membuat diri kita masuk dan menyelami para tokoh. Berkeliling bersama tokoh, dari satu tempat, ke tempat lainnya. Berganti negara, berganti kota, berganti suasana, berganti pemandangan...

Itulah mengapa saya selalu butuh membaca. Apalagi membaca sejarah negara-negara yang belum pernah saya kunjungi. Begitupun dengan biografi para tokoh terkenal. Membaca itu semua, membuat kita mempunyai mimpi untuk bisa berkunjung ke negara-negara itu, atau terinspirasi dengan tokoh yang kita baca.

Membaca, akan membuat kita “keliling dunia”. Percayalah.... J

Kamis, 06 September 2012

SEDIKIT CERITA TENTANG ANAK LAPAS


Anak-anak lapas.... bersama mereka, selalu ada hikmah. Baru saja saya menerima sms dari mantan anak lapas. Gilang namanya, ia bercerita pada saya, saat ini Gilang dan beberapa temannya mantan lapas, membuat gerakan yang mereka namakan “Remaja Peduli Lapas”.


Gerakan ini terbentuk begitu saja, dari obrolan sesama mantan anak lapas. Belum terbayang di benak mereka apa saja yang harus dilakukan. Namun, tujuan mereka adalah peduli pada remaja yang telah bebas dari lapas, dan bingung apa yang harus dilakukan setelahnya.

Kesalahan dipastikan ada pada setiap diri manusia. Namun, beda tingkatan dan beda pula hukuman, baik hukuman dari Allah, maupun dari orang-orang sekitar.

Anak-anak lapas, sesungguhnya merupakan pribadi-pribadi yang santun. Mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah, namun seringkali hukuman dunia lebih berat. Contoh kecil, saat mereka keluar dari lapas, sebagian besar enggan kembali ke lingkungan asal, karena cap atau stempel mantan napi begitu melekat di diri mereka.

Tidak beda jauh pada keluarga mantan anak lapas ini. beberapa orangtua pun menyarankan anaknya jika bebas, jangan lekas kembali ke rumah, sebelum berhasil.

Tapi, bagaimana mereka akan berhasil di luar sana jika ketrampilan dan pengetahuan mereka sangat terbatas. Fauzan contohnya. Mantan anak lapas asal Papua. Di Jakarta, ia tidak mempunyai siapapun, keluarga, saudara, bahkan orangtua. Ini menyebabkan ia beberapa kali keluar masuk penjara.

Kasus Fauzan adalah curanmor. Dipukuli dan digebuki adalah hal biasa baginya. Karena ia tidak tau harus kemana dan apa yang bisa dikerjakan, maka ia pun kembali melakukan hal yang sama. Terakhir bertemu, Fauzan menyatakan ingin pulang ke Papua. Kami pun sempat bingung. Belum lagi tuntas apa yang harus kami lakukan, Fauzan sudah menghilang.

Dengan Fauzan, terus terang kami mengalami dilema. Hati kecil ingin sekali menolong, namun pribadi Fauzan yang tertutup, membuat kami susah untuk mendalami sifatnya. Tapi, jika dibiarkan pun, tentu akan berbahaya. Bagaimana jika akhirnya Fauzan kalap? Tidak tau harus mengerjakan apa dan harus kemana, akhirnya sengaja melakukan tindak kejahatan dan mengharap ditangkap, kemudian masuk kembali ke lapas.

Berbeda dengan Gilang, mungkin karena kehangatan keluarga yang membuat Gilang dapat lebih percaya diri untuk melakukan banyak hal, membentuk RPLC salah satunya. Latar belakang kasus Gilang pun tidak terlalu berat. Gilang “hanya” dituduh sebagai penadah. Padahal hal itu tidak pernah ia lakukan.

Menangani Lapas anak, tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kerja bareng antar berbagai lembaga yang peduli pada nasib anak-anak negeri ini. karena penanganan permasalahan lapas anak tidak bisa dilakukan secara partial, harus berkesinambungan dan berkelanjutan.

Penanganan anak lapas, harus dilakukan sejak mereka masuk ke lapas, selama masa tahanan dan setelah bebas. Apa yang dilakukan pihak lapas selama ini, sudah cukup baik. Misalnya, di dalam lapas ada sekolah dengan paket A, B, C. Ada juga pelatihan mengelas, marawis, bengkel dll. Namun, ketika keluar dari lapas, anak-anak itu tetap kebingungan. Harus kemana mereka?? Tidak ada tempat penyaluran pun penampungan sementara.

Hal inilah yang menyebabkan semua pihak harus begandeng tangan. Bekerja sama. Jangan sampai mereka yang telah bebas, kembali ke pergaulan lama, yang dapat mengembalikan mereka ke lapas.

Selain itu, ada baiknya kita pribadi, mulai saat ini merubah cara pandang kita terhadap anak-anak lapas. Betul mereka sudah melakukan kesalahan fatal, namun, jika mereka berniat baik dan telah melakukan taubat, bukan hak kita untuk menjatuhkan “hukuman” lagi. Terima mereka apa adanya, beri mereka motivasi, hasilnya, serahkan pada Allah....

Senin, 03 September 2012

KARENA KITA BAGAI PUALAM...



sebuah kata yang mengundang decak kagum pendengarnya, yang dapat membuai pikiran para pria, dengan alam khayalnya

sebuah maha karya Yang Maha Kuasa  yang dihadirkan untuk melengkapi, untuk mengisi kekosongan, untuk memenuhi sisi kelembutan dari sang arjuna

ia hadir dengan segala pesonanya, dengan ukiran Yang Maha Karya

tak luput pandang dari setiap orang yang memandangnya

tak tunduk hati menahan gejolak ingin mengenalnya lebih jauh

Wanita….

woman, elle, diva, riyu, akhwat, ukhti, muslimah, mukminah…..

berbagai sebutan dan istilah, namun tetap arti wanita adalah sama

keindahan tanpa cacat dari Yang Maha Pencipta

tak peduli asal Negara

tak peduli usia

ia tetaplah wanita

tua muda

tinggi pendek

besar kecil

ia tetaplah di sebut wanita….

Wanita,

apapun sebutan untuk kita

bagaimanapun kita diciptakan
bersyukurlah….

karena kita diciptakan sebagai MUSLIMAH

anugerah terbesar Allah untuk kita

berbahagialah, tersenyumlah

karena kita adalah percikan cahaya peradaban

karena kita adalah madrasah bagi para penerus bangsa ini

kita, MUSLIMAH pengokoh kesempurnaan generasi

Karena itu saudariku Muslimah,

jangan pernah ragu untuk melindungi diri dari tatapan-tatapan tak bertanggung jawab

jangan pernah tergoda dengan ajakan duniawi yang begitu memabukkan

tutuplah dirimu dengan sempurna

panjangkanlah  hijabmu tanpa ragu

ketahuilah, mereka akan lebih mengagumi keanggunanmu, kesopananmu, akhlakmu

mereka akan lebih menghargaimu, menghormatimu

cermatilah bagaimana mereka memandangmu saat kau rapatkan hijabmu

adakah mereka menggodamu nakal

adakah mereka bersiul-siul memanggilmu

atau adakah mereka berani menyentuhmu…..

jawablah dengan nuranimu

Wanita muslimah

pesona yang kita miliki sangat tak ternilai harganya

bahkan Allah memberi kita hadiah satu surat dengan nama kita

yaitu An-nisa, wanita,

duhai, betapa Allah menyayangi kita

dan satu dari asma Allah pun bersemayam dalam tubuh kita, Rahim

subhanallah……

Saudiriku muslimah, adakah yang kurang dari penghargaan Allah pada kita……
begitu sayangnya Allah pada kita

betapa Allah ingin melindungi kita dari tatapan dan tangan-tangan jahil

mengapa kita masih menunda kasih sayang Allah

mengapa masih kita ragu dengan kasih-Nya

mengapa kita masih menghalangi Allah untuk “memeluk” kita………

Saudariku muslimah,

“karena kita begitu sempurna

maka, jawablah dengan nuranimu

masihkah kita halangi tatapan sayang Allah pada kita.... 

Selasa, 05 Juni 2012

REMAJA SUKSES, REMAJA ANTI GALAU


Berkat kejelian sebuah iklan profider telepon, kini kata galau menjadi tren. Jika ada orang yang sedang resah, maka orang lain akan menyebutnya galau. Jika ada orang yang tidak tau tujuan, orang pun akan menyebutnya galau.

Sebenarnya, apa sih arti kata galau itu sendiri?

Di sebuah situs www.artikata.com, pengertian galau dibuat membentuk sebuah  pohon kata. Bentuk tunggal galau memiliki beberapa arti yaitu ; khawatir, cemas, senewen, kusut dan  resah. Dari arti katanya, tampak bahwa galau merupakan suatu bayangan yang tak pasti tentang suatu hal.

Misalnya khawatir pada hasil ujian, cemas pada masa depan, senewen dengan sikap tegas orangtua atau guru, dan resah pada sesuatu yang belum tentu terjadi. Kesimpulannya, galau lebih pada prasangka pada hal-hal yang belum pasti terjadi.

Remaja sukses, bukanlah remaja yang terbiasa dengan rasa galau. Lihat saja remaja-remaja sukses di sekeliling kita. Tanyakan pada mereka, apa kunci suksesnya. Coba kita lihat beberapa kisah remaja sukses (yang anti galau) berikut ini.

Habibi seorang remaja yang lahir normal, namun ketika beranjak balita, mengalami sakit yang mengakibatkan Habibi lumpuh. Hari-hari Habibi lebih banyak dihabiskan di kursi roda. Tapi Habibi tidak putus asa (baca : galau) dengan masa depannya. Justru Habibi merasa terpacu. Semangatnya untuk maju dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan keluarganya, begitu membara.

Hingga akhirnya Habibi dikenal sebagai salah satu marketing internet yang berhasil. Dengan kesuksesannya ini, Habibi bahkan berhasil memberikan mobil untuk ibunya. Habibi mencapai itu semua dengan tekad yang kuat. Habibi tau tujuan hidupnya dan berusaha meraihnya dengan kerja keras.

Billy Boen. Pada usia 29 thn, memimpin tiga perusahaan sekaligus. Kuliah strata satu, hanya ditempuh tiga tahun. S 2 nya, dijalani dalam waktu satu tahun saja, dengan predikat cum laude. Apa resepnya?

Diantaranya  kunci suksesnya yaitu  yang pertama, mengetahui tujuan hidup. Tentu saja. Ibaratnya jika kita 
hendak pergi, tentulah kita harus tau tujuan kita kemana. Coba bayangkan, jika kita masuk jalan bebas hambatan, kita tidak tau tujuan, apa yang akan terjadi? Kita akan berputar-putar tanpa kepastian.

Kunci sukses yang kedua yaitu, jangan menyerah. Jika gagal, coba lagi. Gagal lagi, coba lagi. Begitu seterusnya. Lihatlah anak kecil yang belajar berjalan. Berapa kali ia terjatuh? Ketika jatuh, apakah anak kecil menyerah? Tidak. Ia selalu bangkit. Jatuh lagi, bangkit lagi. Tidak pernah menyerah, sampai akhirnya dapat berjalan, bahkan berlari.

Nurul Karimah, pendiri Komunitas Belajar Gratis di Temanggung. Karena keterbatasan biaya, orangtua Nurul melarangnya untuk meneruskan sekolah. Pengalaman itulah yang membuat Nurul bertekad untuk membuat sekolah gratis bagi anak-anak kurang mampu.

Kini komunitas Belajar Gratis memiliki 38 anak jenjang SMP dan 42 anak jenjang setingkat SMA. Mereka mendapatkan ijazah dengan cara mengikuti ujian persamaan. Hingga saat ini, sekolah itu telah meluluskan sekitar 16 anak untuk paket B.

Darsono, pendiri Universitas Pamulang (Unpam). Pria kelahiran Bantul, Yogyakarta ini berasal dari keluarga tidak mampu. Hal inilah yang membuatnya hampir saja tidak mengenyam bangku sekolah. Tidak jauh beda dengan kisah Nurul Karimah, Darsono juga sempat dilarang untuk meneruskan sekolahnya.

Namun Darsono tidak patah semangat dalam meraih dan mengejar cita-citanya. Ia rela menjadi buruh di tempat pembuatan batu bata merah agar bisa mendapat biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Hal yang sama ia lakukan pada saat hijrah ke Jakarta. Ia menjadi buruh, berdagang elektronik, serta menjadi guru.   

Dari beberapa kisah sukses diatas, bolehlah kita tanyakan, apakah masa remaja mereka dihabiskan dengan galau, galau dan galau? Apa galau termasuk dalam kamus sukses mereka?

Otak, akan merekam suatu peristiwa (kata-kata) yang dilakukan berulang-ulang dan akan meninggalkan jejak-jejak pada pikiran kita. Karena itu, biasakan mendengar (berkata) dan melihat hal-hal yang baik, yang dapat memacu motivasi diri ke arah yang lebih baik. Bukan sebaliknya.

Seperti  yang dikatakan oleh Ahmad Junaedi, pemuda penggagas kegiatan dan tempat belajar untuk anak-anak Rawa Malang Cilincing Jakarta (sebuah lingkungan PSK yang beroperasi 24 jam), “ Kita buat yang terbaik, mulai dari bangun tidur, sampai kita tidur lagi, lakukan yang terbaik.”

So, mau jadi remaja sukses?? Hapus kata galau mulai dari sekarang....




Rabu, 23 Mei 2012

JALAN SERIBU HIKMAH


Seorang ibu menarik gerobak kecilnya yang penuh dengan kardus bekas. Umurnya masih muda. Begitupun anaknya yang ada diatas gerobak. Anak perempuan dengan pakaian sangat sederhana, duduk diatas tumpukan kardus tanpa rewel.

Ditengah padatnya kendaraan, ibu pemulung itu terus menarik gerobaknya dijalan menanjak.

Mungkin karena lelah atau karena matahari yang memang tengah bersinar terang, ibu pemulung berhenti sejenak dibawah pohon. Ia menyeka keringatnya. Kemudian tersenyum pada anaknya yang tengah bermain boneka lusuh.  

Tak jauh dari ibu pemulung, ada beberapa pengemis yang berjejer di pinggir jalan. Jalan ini merupakan jalan akses menuju pusat kota. Tak heran jika jalanan ini selalu ramai dengan kendaraan. Hal itu dimanfaatkan oleh para pengemis untuk mengais rejeki.

Ibu pemulung melanjutkan langkahnya. Menapaki jalanan menanjak sambil menarik gerobak. Saat melewati seorang pengemis, ia tersenyum. Ibu pemulung berbincang pada pengemis itu. Ia pun merogoh koceknya, mengeluarkan uang seadanya dan diberikan pada pengemis. Subhanallah...

Ia  pun melanjutkan kembali perjalanannya menarik gerobak. Sekitar 100 meter, kembali ia menjumpai pengemis. Seorang bapak duduk di kursi roda, didampingi istrinya. Dipangkuan bapak itu, ada sebuah papan kecil bertuliskan “sedekah amal jariah”.

Ibu pemulung kembali menghentikan langkahnya. Kembali, ia berbincang dengan bapak pengemis yang cacat itu. Mereka saling bercanda dan tertawa. Anak ibu pemulung pun ikut tertawa. Kembali, ibu pemulung merogoh kantongnya, dikeluarkannya uang receh dan diberikan pada bapak pengemis.

Bapak pengemis dan istrinya mengucapkan terimakasih. Ibu pemulung tersenyum. Ia pun melanjutkan menarik gerobaknya. Entah ke arah mana.....

Hari berganti...

Kembali bertemu dengan seorang ibu yang tengah menarik gerobak. Namun, gerobaknya tampak berbeda. Tidak ada tumpukan kardus.

Gerobak itu dirancang sedemikian rupa hingga menyerupai tenda kecil. Disudut-sudut gerobak, tampak kayu yang dibiarkan menonjol. Kemudian, seutas tali diikatkan pada kayu-kayu itu, hingga jadilah semacam tiang gantungan untuk pakaian.

Tiang itu dipenuhi dengan pakaian. Mulai pakaian anak-anak, dewasa, hingga beberapa helai kain. Saat melintasi mobil, terlihat dua anak sedang menjulurkan kepalanya dari celah-celah pakaian.

Saya memperhatikan gerobak itu. Gerobak berwarna biru yang lumayan bersih. Terawat. Disekeliling gerobak itu, terdapat tulisan. Tulisan berwarna putih yang menggunakan huruf kapital. Saya terkesiap. Tulisannya berbunyi “inilah rumah kami”....

Gerobak dengan panjang kurang lebih dua meter dan lebar satu meter itu adalah tempat tinggal mereka. Tidur, makan, bermain dan sebagainya, dilakukan di dalam gerobak....

Seperti ibu pemulung sebelumnya, ibu pemilik gerobak biru inipun bertemu dengan bapak pengemis kursi roda, yang selalu didampingi istrinya. Ia berhenti, berbincang sejenak dengan bapak pengemis, dan tak lama memberikan selembar uang. Bapak pengemis dan istrinya tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

Allah.... hati ini tak sanggup berkata....

Lain hari, kembali melewati jalan ini. Sebuah jalan satu arah, yang merupakan akses menuju pusat kota. Jalan yang selalu dipenuhi oleh kendaraan mewah, seperti rumah-rumah mewah disepanjang jalan ini.

Seorang lelaki penjual krupuk berdiri dipinggir jalan. Sekilas, tampak seperti biasa. Layaknya orang normal. Plastik-plastik krupuk memenuhi tangan dan punggungnya. Namun, ketika berada dekat dengannya, barulah kita akan sadar, ternyata bapak itu buta.

Kedua matanya memang tidak tertutup seperti tunanetra lainnya, namun, jika diamati, kelopak matanya hanya menutup setengah saja. Bagian mata yang biasa hitam, tampak keabu-abuan. Tangannya menggenggam erat sebuah tongkat hitam.

Allah... bagaimana caranya ia bertransaksi?? Bagaimana bapak tunanetra itu tau jika uang pembeli pas atau harus menyediakan uang kembalian??... 

Allah....kecil rasanya diri ini...

Bapak penjual krupuk yang tunanetra itu terus saja berdiri. Menanti orang yang mau membeli krupuknya.

Hari yang cerah, tiba-tiba saja mendung. Suara petir bergantian diatas langit Jakarta. Perlahan, hujan pun turun. Saya melihat bapak penjual krupuk itu segera mengemasi krupuknya. Ia mengencangkan ikatan tali-tali krupuk itu ke bahunya. Memastikan ikatan-ikatan kencang, kemudian perlahan ia berjalan.

Tongkatnya yang penjang menuntun jalannya, agar tidak terjatuh atau tersandung. Namun, langkahnya tidak secepat hujan yang menyapa bumi. Air dari langit semakin deras. Jika orang normal, tentulah akan berlari mencari tempat untuk berteduh.

Tapi, bapak penjual krupuk itu berjalan dengan tenang. Tidak panik. Ia berjalan pelan. Tongkatnya bergerak ke kanan, ke kiri, memastikan langkahnya aman. Ia pun terus berjalan. Tak lama, ia berhenti dibawah pohon. Pohon yang tidak cukup untuk melindungi tubuhnya yang telah basah kuyup.

Hujan semakin deras, membasahi tubuhnya dan plastik-plastik krupuk yang bertengger dikedua punggungnya. Ia tidak mengeluh. Tidak juga marah. Tidak juga melampiaskan kekesalan. Ia hanya berdiri. Menunggu, hingga hujan reda.

Tiga orang berbeda yang memberi seribu makna. Ibu pemulung yang begitu dermawan dan pekerja keras. Ibu pemilik gerobak biru, yang menjadikan gerobaknya sebagi “rumah idaman” dan seorang bapak tunanetra penjual krupuk, yang tidak menyerah pada kekurangannya.

Mereka adalah pejuang sejati. Menjalani kehidupan di kota besar, bukan hal yang mudah. Namun mereka bertahan. Bertahan untuk tidak mengemis, padahal bisa, karena keadaan mereka sangat mendukung untuk itu. Tapi, pantang bagi seorang pejuang, untuk mengemis memenuhi kebutuhan hidupnya.

Mereka adalah orang-orang pemberani, yang seakan kerdil di tengah hiruk pikuknya ibukota. Sosok mereka nyaris tidak diperhatikan. Dianggap biasa. Lumrah bagi kota besar mempunyai yang miskin dan yang kaya.

Sesungguhnya, jalan-jalan di ibukota memberi beribu hikmah, sejuta makna. Diantara kokohnya jembatan, ada orang-orang yang menjadikan kolong jembatan sebagai tempat tinggalnya. Diantara tingginya gedung-gedung ibukota, terselip rumah-rumah kumuh seadanya. Beratapkan terpal plastik warna warni dan tembok yang terbuat dari kardus.

Sering kali, kehadiran mereka dianggap “sampah”. Namun, mereka menyajikan seribu kesahajaan. Tentang hidup dan tentang masa depan, yang secara perlahan hilang, digerus dengan hedonisnya kaum ibukota.



Kamis, 17 Mei 2012

SHE'S NOBODY



Pada bulan Juni, seorang musisi asal Amerika Serikat, Lady Gaga, direncanakan akan menggelar konser di Senayan Jakarta. Namun, banyak pihak yang melakukan protes atas kehadirannya. Umat Islam, melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI), menolak keras kehadiran Lady Gaga di Indonesia. Sikap ini seiring dengan keputusan yang dikeluarkan pihak Kepolisian Daerah Jakarta, menolak konser Lady Gaga. Selain Indonesia, Malaysia pun menolak Lady Gaga. Yang terbaru adalah Filipina. Kelompok Kristiani  menolak Lady Gaga yang akan menggelar konser disana.

Sejak awal kemunculannya, Lady Gaga memang telah memicu kontroversi, bahkan di negaranya sendiri. Mari kita tengok sampul album terbarunya. Disitu terlihat  jelas gambar salib yang letaknya terbalik dan nama Judas yang bertengger tepat  diatas nama Lady Gaga.

Dalam agama KristianiJudas Iscariot (Yudas Iskariot) telah dianggap sebagai pengkhianat kepada Yesus . Ini disebabkan oleh tingkah lakunya yang telah melakukan penghianatan kepada Yesus dan pengikutnya.

Di kalangan orang Kristen, nama Yudas Iskariot sudah tidak asing lagi. Dia dianggap sebagai pengkhianat karena telah menyerahkan Yesus Kristus kepada imam-imam kepala dengan harga 30 keping perak (Matius 26:14-15).Matius 27:5 mencatat bahwa Yudas melemparkan uang perak yang diterimanya ke dalam Bait Suci, lalu pergi menggantung diri, dan kemudian oleh Imam-Imam uang tersebut dibelikan sebidang tanah, yang disebut Tanah Tukang Periuk, sebagai tempat pekuburan orang asing. Dalam Kisah Para Rasul 1:18 kemudian diceritakan bahwa Yudas Iskariot telah membeli sebidang tanah sebelum ia akhirnya "jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar" -- tanah tersebut pada akhirnya dinamai Tanah Darah, atau Hakal-Dama.

Ohohohoh
I'm in love with Judas

Ohohohoh
I'm in love with Judas

Judas! Judaas Judas! Judaas
Judas! Judaas Judas! GAGA

Begitulah permulaan lirik lagu Lady Gaga ini yang jelas berpihak kepada Judas.

Ketika Gaga menyanyikan "I'm in love with Judas", salah seorang penari memakai baju bintang terbalik dikelilingi bahasa Hebrew. Simbol ini adalah lambang Baphomet yang menjadi lambang kepada Church Of Satanhttp://bundasuci28.blogspot.com/

Gambar salib yang terbalik, menandakan ketidakpercayaan Lady Gaga pada agama Kristiani. Ini menunjukkan mereka sangat anti terhadap Kristian. Mengherankan bukan? Mayoritas penduduk Amerika adalah Kristiani. Ini disebabkan warga Amerika sudah lama menolak kepercayaan mereka, jadi tidaklah heran jika Lady Gaga lahir di negara mereka.

Jika dicermati, begitu banyak simbol-simbol syaitan di video klip Lady Gaga. Tidak saja simbol, namun liriknya pun mengandung unsur kebencian pada tuhan dan kecintaannya pada syaitan. Coba kita dengar dan lihat video klip Alejandro.

Liriknya yang penuh penghinaan pada tuhan tergambar jelas. Lagi-lagi, Lady Gaga memakai lambang salib terbalik pada pakaiannya. Saat mengenakan pakaian itu, Lady Gaga menutup sebelah matanya, yang melambangkan “one seeing eye”. Salib terbalik dan pentagram terbalik adalah simbol yang selalu digunakan untuk berhubung dengan syaitan dan ritual memuja dan menyeru syaitan.

Begitu seringnya Lady Gaga menghina agama Kristiani dalam setiap lagu dan video klipnya. Bukan tidak mungkin suatu saat pun, Lady Gaga akan menghina agama lain, Islam misalnya. Dan ini tidak dicermati oleh media dan beberapa kelompok masyarakat.

Agenda illuminati untuk memisahkan agama dari kehidupan pribadi sudah mencapai tujuan. Hal ini tergambar jelas pada mayoritas masyarakat barat yang menjadikan Lady Gaga sebagai idolanya.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagian kecil masyarakat, sudah terpengaruh. Misalnya saja, seorang artis yang terkenal dengan goyang erotisnya berkata bahwa kenapa Lady Gaga dilarang? Hal ini tidak ada hubungannya dengan moral. Artis lainnya pun mengatakan hal yang hampir sama. Ia berkata bahwa, Lady Gaga bukanlah babi, jadi tidak pantas jika diharamkan.

Siapa pihak yang paling dirugikan jika Lady Gaga tampil di Indonesia? Tentu saja umat Islam. Dan, siapa pihak yang paling dirugikan jika Lady Gaga tidak tampil di Indonesia? Jawabannya adalah pihak promotor dan para pembeli karcis.

Mana yang mayoritas?

Lady Gaga is nobody. Ia bukanlah pejuang Hak Asasi Manusia, bukan anggota pecinta alam seperti Greenpeace, bukan pula penyumbang dana untuk anak-anak yang kesusahan seperti Bill Gates. Lady Gaga hanyalah seorang penyanyi, pemuja syaitan, yang menggunakan seluruh kemampuannya untuk mencapai kekayaan dunia sebanyak-banyaknya.

Layakkah seorang Lady Gaga dibela dan kedatangannya diperjuangkan oleh “banyak” pihak? Dibicarakan hampir diseluruh media televsi, koran dan radio?

Silakan direnungkan.




sumber :